Tidak ada kata sebentar bagi Zenith Magritha. Jika keluar dari mulutnya kata Hanya sebentar, jangan dipercaya karena itu semua hanya omong kosong
Namun jika dia sudah mulai mengajak untuk cepat, maka tidak ada kata telat dalam kamus besar hidupnya.
Sekarang, Izekiel hanya mengeluh kesal melihat gadis didepannya yang tidak menepati janji
" Zenith, sampai kapan kita disini? Sebentar lagi malam. Kita harus cepat ke Obelia"
Gadis itu hanya melirik dan mendengus pelan lalu kembali sibuk dengan permainannya didepan sana.
" Hei, kamu itu bukan anak kecil. Apa kau tidak akan pergi ke rumah bibi Rosaria?"
Zenith masih diam
" Zenith...
" Izekiel.." ujar Zenith akhirnya membalas perkataan Izekiel. " Sudah aku bilang kan, kalau kita hanya akan terlambat. Kenapa harus cepat pergi ke sana pada akhirnya juga akan terlambat?"
" Tapi setidaknya kita sudah berusaha untuk datang cepat. Bibi...
" Bibi sudah tiada. Apa yang akan aku temui disana nanti ketika kita datang? Dia tidak akan mengatakan 'selamat datang ponakanku yang manis' kan? Palingan yang aku dapatkan hanya sorot mata dari para bangsawan yang melayat kesana."
Izekiel hanya diam mendengar tutur kata Zenith yang masih memainkan pasir-pasir danau.
" Dan mungkin saja, aku akan mendengar bisikan orang-orang yang seharusnya tidak aku dengar."
Zenith memandang danau yang cukup luas didepannya. Matahari sudah mulai tenggelam, dan sinar kemerahan terlihat dari gunung gunung sana. Mungkin saja disana adalah Siodona, atau Obelia
Perasaan yang dirasakan Zenith hari ini adalah perasaan yang sama yang ia rasakan ketika hidup didunia yang dulu.
Sorot mata orang-orang yang melayat di pemakaman itu tidak satupun yang menggambarkan kesedihan terhadap dirinya yang bahkan baru bisa melihat makam itu.
Tidak salah juga, sama seperti saat ini dia terlambat mendengar kabar kematian ayahnya.
Itu bukanlah salahnya, bahkan dia baru beranjak 7 tahun, belum ada kata mengerti dalam dirinya tetapi karena pandangan buruk itu, Gadis yang seharusnya mendapat belas kasih keluarga yang masih ada tidak lagi ia dapatkan.
Dan kali ini, mungkin saja hal itu akan terjadi lagi terhadapnya jika ia datang ketika bibinya tengah dimakamkan. Itu sungguh memalukan.
Memutar tubuhnya, Zenith kembali menatap Izekiel yang masih duduk diatas sebuah dahan pohon yang telah roboh. Dengan kaki kiri yang dilipat, Izekiel duduk dengan wajah tenang.
" Wajahmu terkena cahaya mentari.." ujar Zenith yang mengalihkan pembicaraan.
" Lalu kenapa dengan wajahku yang seperti itu?' balas Izekiel yang ternyata sudah tidak mau membahas kata Pulang.
" Matamu terlihat lebih berwarna emas, rambutmu jadi pirang, dan wajahmu terlihat jelas olehku" ujar Zenith lagi yang masih duduk ditepi danau
Izekiel tersenyum dan lantas membalas kata-kata Zenith.
" Kepalamu menghalangi matahari senja, Zenith. Aku tidak bisa melihat wajahmu karena silau. Rambutmu menjadi hitam kelam dan wajahmu terlihat samar."
Zenith terkekeh kecil dan menyibak rambutnya
" Yahh, kau pasti melihatku sangat jelek saat ini. Gadis berkulit hitam kan "
" Tapi, walau begitu terdapat cahaya yang memancar dibelakangmu"
KAMU SEDANG MEMBACA
LADY MAGRITHA, ( Suddenly i Became a Princess, Chimera) TAMAT
FantasiYoona adalah seorang gadis SMA yang sangat menyukai webtoon Apapun jenis Webtoon selalu ia baca. Pada suatu ketika, ketika ia selesai membaca salah satu Webtoon berjudul Suddenly i Became a Princess kejadian aneh menimpanya Dan.. Mengapa AKU HARUS M...
