22. Liontin Manna

1.4K 194 16
                                        

Malam yang begitu indah
Suara jangkrik yang bersembunyi dibalik semak.
Suara kodok yang bergetar di atas teratai air.

Cahaya bulan yang merambat dikelopak mata.
Dan semua keindahan malam yang datang seperti memberi hadiah kepadaku tak bisa aku lewatkan.

Sendiri menatap rembulan malam, aku berdiri di dekat jendela kamarku sembari bersenandung kecil. Yah, aku juga tau bahwa hal ini dilakukan oleh Zenith asli. Menyenangkan juga menjadi seorang gadis baik yang tak selalu marah-marah. Andai aku tau hal ini dari awal, aku tak ingin menguras energiku terlalu besar untuk marah-marah.
Pesta Debutanteku yang selesai beberapa waktu lalu terlihat sangat membekas di taman sana. Cahaya lampunya masih hidup walaupun telah redup. Meja tamu yang tersusun juga tidak bergeser sesentipun. Aku bisa memandang tempat itu dari kamarku saat ini.

Jika aku tebak, sekarang sudah sangat larut, dan bahkan sudah tengah malam. Bisa saja sebentar lagi fajar menyinsing di timur sana. Tapi mataku enggan untuk tidur, aku masih ingin terjaga. Aku masih ingin mengenang pesta tadi, pesta yang begitu keren.

Walaupun tidak semewah Debutante seorang putri mahkota namun pesta kecil itu serasa begitu menghargaiku. Kecil tetapi berhati besar, itulah yang bisa aku sebutkan untuk pengalamanku malam ini. tidak ada tamu undangan, tidak ada mahkota kebangsawanan, tidak ada emas dan juga tidak ada seorang pangeran. Hanya aku, paman, Keito, Rose, Izeikil dan beberapa orang lainnya yang hadir juga bukan karena diundang.

Sederhana sekali hidupku, tapi ini juga lebih baik dan terasa bahagia. Aku benar-benar menjadi seorang putri yang memakai gaun, memakai pita merah jambu, berdansa, memakan Cake, dan juga mendapatkan hadiah.

Suara jangkrik itu terdengar lagi, begitu merdu. Dan memang lebih menenangkan hati jika mendengar suara-suara binatang itu pada malam hari. tidak ada kebisingan, tidak ada hiruk pikuk. Yang ada hanya melodi tenang dari beberapa hewan kecil, serta suara gema dari rintikan embun yang jatuh ke danau kecil di dekat taman sana.

Aku memegang kalung yang melekat dileherku. Kalung yang diberikan Izeikil kepadaku tepat ketika aku selesai berdansa. Dia bilang kalung ini Khusus diberikannya kepadaku dari Arlanta. Kalung yang mainannya adalah liontin batu permata berwarna biru tua. Seperti mata Asliku. Dan juga mata Athanasia.

Memainkan liontin ini, aku mendengar sesuatu berjalan pelan kearahku. Sepertinya dia masuk tidak dari pintu kamar, lagipula pintu kamar juga sudah aku kunci.
Seorang pria, sepatu kulit dengan tapak keras seperti kaki kuda, surai hitam pendek. Hahh, serta mata Merah darah itu..... siapa lagi orang yang akan dengan lancang memasuki wilayahku kalau bukan

" Lucas..."






LADY MAGRITHA





" Kelihatannya kau baru saja berpesta ria.."

Dia menyapaku sembari berjalan pelan menuju kursi tamu yang ada didalam kamar. Menggunakan tatapan nanar dan ganas itu, aku bisa menebaknya dia sangat membenciku tetapi entah mengapa dia selalu mengusik kehidupan pribadi seorang Magritha.

" kenapa kau datang? Aku tidak mengumpat!!" balasku pelan sembari memutar tubuh dan duduk sepenuhnya diSofa kesayanganku.

Lucas sialan itu hanya duduk sembari memandangku beberapa kali. Membuang wajahnya dan kembali melirikku. Entah itu adalah kesenangannya namun aku merasa tidak nyaman.

" Kau dapat hadiah??" ujarnya pelan. Aisshh suara beratnya itu menggangguku.

" Tentu saja, ini adalah hadiah pertama yang aku dapat setelah tujuh tahun." Balasku lagi. tetapi dia hanya duduk tanpa merespon sedikitpun. Apa aku harus mengusirnya??

LADY MAGRITHA, ( Suddenly i Became a Princess, Chimera)  TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang