Ruangan itu kini sepi tanpa penghuni, lantai kayu yang sedikit berwarna putih itu baru saja selesai dipakai untuk Latihan Dansa.
Sepi.. itulah yang tergambar dari Ruangan di lantai tiga Mansion Alphaeus itu. jendela yang dibiarkan terbuka serta Tirai penutup kaca yang tak diikat melambai kesana kemari karna angin dari luar.
Seorang gadis yang sudah genap berusia 14 tahun berdiri di Balkon ruangan itu sembari menatap pemandangan yang jauh di depannya. sesekali gadis itu menyibakkan rambutnya yang terurai dan memainkan poninya yang begitu lurus.
Mata permata yang tak ditutupinya berbinar terang bersama Buliran air murni dari pelopak irisnya. Kantung berbalut pita emas masih dipegangnya saat ini, namun ia enggan untuk membukanya karna itu seperti pemberian yang berharga. Walaupun sebenarnya gadis itu tau, didalam kantung hanya tersedia beberapa bungkus coklat dan permen jely saja.
" Ibu.. Jika kau bisa mendengarku, maka dengarkanlah. Aku masih hidup ibu, aku masih bernafas hingga saat ini. aku masih berumur 14 tahun saat ini. jika aku memang sudah mati maka hari ini adalah peringatan kematianku yang ke 14 kan Ibu. Tapi aku yakin, aku masih bisa melihat wajah ibu, aku pasti bisa terbangun lagi ibu."
Zenith masih saja mengusap matanya yang sudah memerah. Tangan yang begitu putih basah seketika oleh air mata yang ia ciptakan. Isak tangisnya selalu seperti sekarang ketika dia berulang tahun. Terus seperti itu untuk beberapa jam, dia juga kesal sebenarnya tetapi kerinduannya juga bukanlah salahnya.
Dari dalam, Zenith mendengar seseorang memanggilnya sembari membuka pintu.
" Nona, apa kita jadi latihan dans-"
Keito yang masuk dengan sedikit tergesa-gesa langsung berhenti bertanya ketika melihat Zenith mengusap matanya. Keito sudah terbiasa dengan ini, Zenith beberapa kali bahkan mungkin bisa dikatakan sering memperlihatkan sisi unik itu kepadanya.
" Kenapa?" Ujar Keito pada Zenith yang sudah berjalan masuk ke dalam Ruangan.
" Biasa.." Jawab Zenith dan menaruh Kantung emasnya di sudut ruangan. " Apa kau sudah siap?" Tanya Zenith dan dijawab Anggukan oleh Keito.
Tanpa pembukaan atau apapun, mereka memulai dansa mereka dengan beberapa musik pengiring. Langkah demi langkah mereka lakukan berdua di dalam ruangan itu. beberapa putaran dilakukan oleh Zenith dibawah bimbingan Pria yang akrab disapanya dengan nama Keito.
Musik berganti, alunan lagu menjadi lebih tenang dan ballad.
Langkah tarian menjadi lebih tenang dan santai. Melangkah maju kedepan, Zenith menciptakan sebuah senyuman lepas untuk tekanan hatinya,langkahnya kian berirama mengikuti alunan Musik dansa.
Bukan hanya Zenith, Keito juga menikmati melodinya.
Bergerak ke samping, kedepan dan kebelakang. dia menuntun Zenith bersama Dansanya. Memang ini lebih sulit daripada berpedang, tetapi ini lebih menyenangkan daripada hal lainnya.
" Kau ahli dalam segala bidang, ya Keito" Ujar Zenith di sela-sela dansanya. Mendengar hal itu Keito memperlambat gerakannya.
" Saya bisa karna ini sudah keharusan saya. Anda juga bisa seperti ini kok Nona" Ujar Keito tak mau disanjung sendiri.
" Apanya yang bisa? Aku berpedang juga karna kamu mengajariku.." Ujar Zenith lagi
" Buktinya Anda bisa kan," Balas Keito lagi dan membuat Zenith menengadah sebentar, lalu kembali fokus pada latihan dansanya.
" Aku tidak sepandai kamu, aku saja tidak memiliki Sihir"
Keito tak menjawab perkataan gadis didepannya, benar sekali Zenith tidak memiliki sihir entah itu juga Manna. Dia seperti manusia pada umumnya yang hanya bisa melakukan sesuatu dengan usaha, tetapi tidak pernah bisa menggunakan Sihir.
KAMU SEDANG MEMBACA
LADY MAGRITHA, ( Suddenly i Became a Princess, Chimera) TAMAT
FantasyYoona adalah seorang gadis SMA yang sangat menyukai webtoon Apapun jenis Webtoon selalu ia baca. Pada suatu ketika, ketika ia selesai membaca salah satu Webtoon berjudul Suddenly i Became a Princess kejadian aneh menimpanya Dan.. Mengapa AKU HARUS M...
