Pria bersurai merah itu pergi meninggalkan Duke Grafton dan beralih menghampiri Zenith yang masih sibuk dengan minumannya. Melihat betapa Izekiel begitu cuek membuat Keito mendapatkan kesempatan yang begitu besar untuk meengobrol bersama Zenith dipesta ini. karena itu, dia sungguh terlihat begitu bersemangat.
Mendekat ke meja tamu, Keito mengambil segelas anggur yang telah disediakan Istana sebagai jamuan tamu undangan lalu mendekat kepada Gadis bermata biru laut itu.
" Halo Nona Magritha, anda ternyata sudah hadir ya.." Keito menyapanya dari arah samping. Zenith yang sedikit kaget akhirnya memutar badannya menghadap Keito.
" Aa.. Keito. Senang bertemu denganmu. kamu terlihat sangat menawan" Puji Zenith dan tersenyum lebar. Cahaya merona terpancar dari wajahnya.
" Apa maksud anda? Anda lebih menawan Nona. Hehe"
Pria itu merasa sangat senang atas pujian yang diberikan Zenith terhadapnya. Malam ini, dia sengaja memakai pakaian megah karena acara pesta dan juga karena kehadiran Zenith di Istana. Memakai baju berwarna hijau tua lengkap dengan permata yang menghiasi setiap kancing bajunya. Serta jubah ala Ksatria Wilson yang melekat dipundak kiri membuat Keito terlihat begitu tampan.
Sesekali Keito memperhatikan tingkah laku Zenith yang begitu tenang di acara pesta. Dia kira Nona Magritha akan bersikap ceroboh lagi seperti di kediaman. Ternyata dia juga bisa menenangkan sikanya sekarang.
DUNG...
DUNG.....
Suara penyambutan akhinya terdengar dengan begitu menggema di Aula dansa Istana Emerald. Semua mata terfokus pada tangga yang berbalut karpet merah yang berada di tepi Aula. Setelah musik ini berhenti, Kaisar dan Tuan Putri mahkota akan turun bersama para pengawalnya.
Semua aktivitas yang dilakukan oleh tamu undangan seketika teerhenti, semua orang mengarah kepada Pintu besar yang berada diatas mereka. Pintu itu masih tertutup namun Musik pengiring sudah berbunyi setengah.
Dengan penuh kesabaran, semua orang masih menatap dan menunggu pemilik acara keluar dari Singgasananya. Detak jantung semakin berdegup kencang memikirkan betapa indahnya malam ini.
Pintu itu akhirnya terbuka, terbuka dan semakin terbuka dengan lebar. Saut-saut dapat terlihat mahkota emas yang melekat di rambut emas yang terurai dengan sangat panjang. Pita rambut yang terbuat dari bunga berwarna merah jambu turut menghiasi keanggunan kepalanya. Dua orang itu terus berjalan hingga menuju tangga pertama. Terlihat dengan begitu jelas seorang Kaisar nan gagah tengah berdiri dengan membimbing Putrinya nan Anggun untuk turun dari tangga.
Mereka terus berjalan ke bawah hingga akhirnya musik pengiring kembali berbunyi. Kali ini tidak bersemangat lagi tetapi musik dansa yang begitu Ballad. Melodinya tenang dan menghanyutkan. Sekali lagi, semua orang terpukau dengan pembukaan dansa yang dilakukan oleh Tuan putri Athanasia.
" Anda terus-terusan diam. Apa yang anda pikirkan?"
Keito mengeluarkan Zenith dari lamunannya. Beberapa kali Keito melihat gadis disampingnya hanya menatap kosong Aula dansa yang saat ini tengah diisi oleh Kaisar dan Putri. Dia seperti melihat namun pikirannya bukan untuk menikmati.
" Apa anda tidak enak badan?" Ujar Keito lagi
" Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja" balasnya pelan lalu kembali menatap Aula Dansa.
Aula itu sungguh bersinar, kelap kelipnya membuat rambatan cahaya seperti Kristal yang bermain bersama pe dansa. Seolah-olah bunga mawar tengah mekar diantara dua orang itu, Kaisar dan Putrinya.
Namun untuk Zenith kali ini, itu sangatlah menyakitkan. Pamannya berjanji sebelum pesta dansa dimulai dia akan memperkenalkan Zenith kepada Kaisar dan Kaisar akan berdansa bersamanya. Tetapi yang dia lihat saat ini, adalah sosok Putri sesungguhnya yang sudah menggantikan tempatnya.
Dia tidak bisa tersenyum, dia juga tidak bisa kesal. Hanya wajah datar yang dia lemparkan saat ini untuk pertunjukan Dansa yang sedang berlangsung.
" Tidak apa-apa, jika paman memberitahunya setelah ini aku juga tidak masalah. Tuan putri adalah adikku." Gumam Zenith di sela-sela Musik Ballad
" Saya masih ingat perkataan anda beberapa hari yang lalu. Anda bilang ingin melihat rupa Kaisar seperti apa." Ujar Keito lagi dan terkekeh kecil. " Anda lihat sekarang kan, Kaisar benar-benar tampan"
Zenith tiba-tiba terkejut dan menatap lama Keito yang juga tengah menatapnya. Dia seperti terheran dengan kalimat yang dilontarkan pria disampingnya. Tampan? Bahkan dia lebih disebut sebagai sosok ayah.
" Apa anda sudah siap untuk menjadi Selirnya?" Goda Keito lagi pada gadis yang saat ini begitu terlihat bodoh.
" A-Apa aku pernah mengatakan itu kepadamu? A-apa aku.."
" Tentu saja, siap ini anda akan dikenalkan pada Kaisar untuk menggantikan Ratu yang telah meninggal" Balas Keito lagi.
Sebenarnya ini hanyalah sebagai ajang bercanda dari Keito. Bahkan pria itu tidak paham mengapa Zenith menangkapnya dengan begitu serius. Padahal di taman waktu itu Zenith jugalah yang memulai canda itu kepadanya. Tetapi ketika dibalikkan lagi dia malah terkejut bukan main dan jadi was-was.
" Aku tidak akan dikenalkan sebagai pendampingnya. Paman mengatakan padaku kalau aku....." Zenith menghentikan bicaranya. Bahkan logat bicaranya seketika berubah drastis. Entah dia tidak bisa mengontrol emosinya atau memang ada sesuatu yang tidak baik dari sikapnya Zenith hanya menghela nafas kasar lalu pergi menjauh dari Keito.
Pria yang ditinggalkannya itu hanya bisa menatapnya kosong dan kembali menyeruput minumannya.
Dansa antara ayah dan anak telah selesai. Sekarang giliran para putri Bangsawan yang hadir dalam debutante itulah yang akan berdansa bersama. Termasuk Putri Athanasia. Dia berdansa bersama anak Bangsawan lainnya.
Sementara Zenith hanya berdiri beberapa langkah dari semua gadis yang tengah berdansa. Dia hanya berdiri sembari menatap Athanasia yang bahagia. Dansa yang telah dia latih selama berbulan-bulan di kediaman Alphaeus tidak terlihat sedikitpun saat ini. bahkan untuk memutar tubuhnya saja dia tidak melakukan.
Berjalan pelan, Zenith terus memfokuskan matanya pada Athanasia yang masih bersama rombongan putri-putri itu. kilauan bunga yang terpancar di sekeliling Athanasia membuat Zenith begitu terkagum dan suka. Orang itu adalah adiknya, walaupun bukan dari ibu yang sama tetapi Zenith yakin bahwa ayahnya satu. Yaitu Kaisar. Dia harus menghampiri Athanasia dan menyapanya. Setidaknya agar Athanasia tau kalau Zenith adalah kakak kandungnya.
TRAKKK..
TAP...
Berhasil mendekat, Zenith akhirnya bisa meraih Athanasia yang tengah berdansa. Hanya saja, sesuatu juga menghampirinya. Kepalanya begitu berat dan sakit. Bahkan kakinya terasa berat untuk melangkah. Hanya sampai disitu Zenith tak bisa berjalan lebih jauh lagi.
" Oh, Maafkan saya. Saya menginjak kaki anda. Saya benar-benar minta maaf"
Zenith kembali membuka matanya, spontan rasa terkejutnya keluar dengan begitu cepat. Siapa didepannya? Athanasia? Athanasia tengah memegang tangannya?? Kenapa? Kok bisa? Zenith masih terdiam menatap gadis cantik di depannya saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
LADY MAGRITHA, ( Suddenly i Became a Princess, Chimera) TAMAT
FantasíaYoona adalah seorang gadis SMA yang sangat menyukai webtoon Apapun jenis Webtoon selalu ia baca. Pada suatu ketika, ketika ia selesai membaca salah satu Webtoon berjudul Suddenly i Became a Princess kejadian aneh menimpanya Dan.. Mengapa AKU HARUS M...
