38. Lucas

1.1K 134 9
                                        

Author PoV

Pria bersurai hitam legam itu menghentakkan kakinya ke sebuah ruangan yang bercahaya terang. Didalam ruangan itu, seseorang tengah bekerja untuk menyiapkan beberapa dokumen Istana. Tidak ada basa-basi, Pria itu masuk dan duduk dengan semena-menanya di kursi tamu ruangan tersebut.

Izekiel hanya menarik nafas kasar, melihat lucas yang menghempaskan tubuhnya dengan cepat ke sofa kesayangannnya. Bahkan tak beradap dengan mengangkat kaki dan menginjak-injak Sofa berwarna ungu itu.

" Tidak bisakah kau masuk lewat pintu depan? Untuk apa gunanya dibuat pintu kalau kau hanya akan masuk dari jendela?" Ujar Izekiel yang masih sibuk dengan kertas-kertass yang banyaknya segudang.

" Biadab.." Ucap Lucas kasar sembari mengusap wajahnya. Izekiel hanya menggeleng karena ia tau pasti orang didepannya saat ini tengah mengalami masalah lagi.

" Kenapa? Apa kau bermasalah lagi dengan Tuan putri?" Balas Izekiel. Selama dua tahun ini mereka berdua telah berlomba-lomba untuk mendapatkan hati Athanasia yang masih saja terpaku pada ayahnya si Claude sang Kaisar. Entah apa yang akan mereka lakukan lagi supaya hati gadis tersebut jatuh kepada salah satu dari mereka. Hanya saja, belakangan ini Izekiel dan Lucas terlihat cukup akrab untuk sesuatu yang disebut dengan " teman curhat"

" Si tua bangka itu tak melepaskan anaknya. Keparat memang " Balas Lucas dan memainkan sihirnya di ruang kerja Izekiel.

" Sudah kubilang, Tuan putri hanya akan menemuiku dengan senag hati. Haha" Ledek Izekiel yang membuat Lucas bangun dari tempat duduknya itu.

" Daripada itu, lebih baik kau mengawasi adik sialanmu itu. sebelum dia mati!!"

Izekiel berhenti mengurusi dokumennya dan melihat Lucas. Apalagi yang dilakukan Zenith sekarang? Apa dia buat masalah lagi?

" Aku bertemu dengan adikmu di Hutan. Beberapa srigala sepertinya mengincar tudung merah" Lucas kembali berujar dengan kalimat Isyarat. Jika Izekiel memang belajar di Arlanta, maka Isyarat seperti itu dengan mudah dapat dipahaminya. Dan sepertnya Izekiel memang memahami hal itu.

" Besok lusa, Tuan putri ingin mengajak Zenith ke Siodona. Bersama beberapa pengawal Istana dan mungkin kau juga ikut? Tapi sepertinya aku tidak akan pergi." Ujar Izekiel dan menghela nafas pelan. Yah karena tugas menumpuk yang harus didiskusikan dengan para Bangsawan. Roger juga pasti kewalahan jika Izekiel tidak membantu

" Sial, Kenapa juga harus ikut. AHHH" Lucas mengobrak abrik kepalanya dan menjadi sangat kesal. Sementara Izekiel hanya menatapnya heran karena Pria didepannya jarang sekali kesal seperti ini. palingan dia kesal karena ada sesuatu yang tak-

" Apa ada masalah lain?" Ujar Izekiel yang menghentikan tugasnya lalu menatap lama Lucas.

" Tidak ada, urus saja tugas sampahmu itu!! Politikus!"

Lucas beranjak dari duduknya lalu pergi keluar ruangan. Meninggalkan Izekiel dan menatap bulan purnama yang begitu terang. Seketika cahaya Ruby merambat di pelopak matanya.

" Aethernitas...Cih berani juga dia menampakkan auranya."

......................................




Gadis itu kembali mengeluarkan aura mistis dari tubuhnya. Entah itu memang karena reaksi tubuh atau ada yang memancing aku tidak tau. Tapi aku peduli, karena ini adalah kesempatanku untuk bertemu pemilik Black magig yang ditanamkan dalam tubuhnya.

Beberapa kali aku mengikuti Chimera ini karena Sihirnya dapat terdeteksi dengan mudah, dia selalu meninggalkan jejak hitam dimanapun dia berjalan. Sihirnya ini sungguh adalah Black magig yang dapat membahayakan kekaisaran. Sebenarnya aku tidak peduli akan hal itu, mau ini Obelia hancur atau apapun tidak akan aku urus! Hanya saja sihir ini berbahaya untuk Athanasia. Dia memiliki barier yang rapuh dan bisa saja dalam satu serangan bariernya hancur dan dia akan mati. Masa lalu yang kelam akan kembali menghampirinya. Aku tak mau itu terjadi

LADY MAGRITHA, ( Suddenly i Became a Princess, Chimera)  TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang