18. Wilson

1.3K 202 6
                                        

Selamat Membaca

Jika dibilang sekarang, aku mungkin akan menerimanya.

Beberapa orang mengatakan, hidup ini sungguh sangat memuakkan, berjalan diatas kaca panas dengan ribuan debu yang berterbangan menuju kita. Aku juga pernah mendengar, Hidup ini seperti air yang mengalir, Manna yang menyeruak di dalam tubuh seakan membuat kita menjadi lebih kuat dan tetap ingin bernafas.

Ada juga yang mengatakan, Hidup ini seperti Roler Coaster yang selalu membuat jantung kita berdegup kencang.

Semua orang menyeruakkan kehidupannya, bahkan ada yang terus ingin menerima nyawa dan ada juga yang berusaha untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Jika diizinkan, aku juga ingin merasakan hal itu, aku ingin merasakan kehidupan yang seperti air mengalir itu. aku ingin merasakan kehidupan yang amat menyenangkan seperti kata orang-orang itu. aku ingin...

Aku juga ingin mengangga dunia ini seperti itu tetapi!!

Bolehkah aku mengatakan itu sementara beberapa detik yang lalu aku masih mengatakan ini adalah mimpi?


ZING....!!

TANG......


Dua buah pedang beradu seketika dibawah pohon rimbun di taman belakang kediaman Alphaeus. Suara menyeringit itu selalu dan selalu menebas angin yang bejalan disampingnya. Tak mengeluarkan darah, tetapi keringat menetes bak darah yang keluar dari pembuluh nadi.

Dengan penuh semangat, gadis itu terus mengayunkan pedangnya menebas lawan di depan. Lekukan tubuh yang sudah sangat seimbang untuk seorang pendekar nantinya sekarang berusaha memainkan pedangnya dengan beberapa seni cipta gerakan.

Menggunakan gaun tipis berwarna putih dibalut pita berwarna Coklat tua dan rimpalan jahitan yang hanya sampai lutut membuat gadis ittu leluasa melangkahkan kakinya kesana kemari. Lengan baju yang hanya menutupi separuh tangannya membuat kulit putihnya itu terlihat begitu bersinar.

" Bagus, Nona!!"

Suara seorang pria yang terus menuntunnya berpedang terdengar sangat nyaring di depan sana, secuit senyum keluar dari bibir pria itu dan membuat kegiatan kali ini sangat meenyenangkan
.

" Nonaa SEKARANG!!"

" BAIK,

SWITCH!! TANG!!!



Begitu menyenangkan hingga keduanya terdampar di bawah pohon besar di taman itu.
Nafasnya masih tak karuan, dadanya masih naik turun karna tidak mampu mengatur jalannya pernafasan. Sesekali mereka berteriak kegirangan karna apa yang telah berhasil mereka lakukan. Bersama angin sepoi-sepoi mereka menikati keletihan mereka.

" KYAAAA...Hahaha, Tadi itu baguskan? Kau melihat gerakanku kan ?? bagaimana aku menghindari tebasan ketigamu, wahh benar-benar seru." Ujar Zenith sembari memutar tubuhnya dan membuatnya tiarap, gambaran letih berbalut senang terpapar di wajahnya.

" Iya, anda sangat menguasainya. Saya yakin anda tidak perlu diberitahu lagi sebelum berpedang" Balas Keito yang duduk disampingnya.

" Tentu saja, kau selalu memberitahukanku gerakan itu sebelum mulai, sebaiknya kau tidak mengatakannya lagi Keito,hehe"

Mereka kembali tertawa dibawah Pohon rindang itu. sungguh suasana yang begitu bahagia. Zenith yang sudah menguasai teknik berpedang dari Keito hanya bisa senyum-senyum sendiri setelah mendapat pujian dari sang partner kecilnya itu.

" Nona..."

" mmm...??

Zenith yang tadinya memandang langit biru sekarang beralih menatap pria di sampingnya. Mata biru langit yang adalah warna penutup dari mata permatanya itu memancarkan cahaya matahari dari atas sana. Dia menatap Pria yang tengah memanggilnya itu dengan wajah penasaran.

LADY MAGRITHA, ( Suddenly i Became a Princess, Chimera)  TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang