63. 🍂YOUR NAME IS

661 106 25
                                        


Namaku Yoona.
Benar, namaku adalah Yoona. Ahn Yoona. Kurasa aku melupakan nama itu untuk waktu yang lama.

Zenith Magritha sudah melekat dalam otakku. Bahkan nama itu benar-benar sudah tertanam dalam diriku

Semua orang memanggilku Zenith, atau Nona Magritha. Mereka mengenalku atas nama itu kecuali satu orang

Lucas.

Pria itu tak pernah memanggilku dengan nama Zenith. Bahkan dari awal dia juga menyapaku dengan sebutan Chimera. Awalnya itu benar-benar menyakitkan. Bagaimana bisa dia menghina orang lain dengan lidah berbisanya itu.

Namun sekarang aku sadar, jika bukan karena dia aku tidak akan mengenal diriku lagi. Siapa aku? Darimana aku berasal? Kapan aku terlahir dan apakah aku mengalami reinkarnasi?

Bahkan ingatan dunia lamaku juga sudah tak kuingat lagi. Semuanya samar, kecuali nama itu. Ahn Yoona

" ZENITH!!"

Aku berputar menghadap tembok luar. Jeruji besi ini membuat pandanganku sedikit sempit, tetapi aku masih bisa melihat siapa yang tengah memanggilku saat ini

" Zenith, kau.. Kenapa? Ke-Kenapa?!"

Itu Izekiel. Dia sepertinya baru tau kalau aku ditahan di penjara bawah tanah Obelia hari ini. Sepertinya aku membuatnya sedikit syok.

" Izekiel, kenapa kau kesini?"

" Kenapa kau didalam?"

" Menebus kesalahanku? Ya itu"

Apa lagi yang aku lakukan disini kalau bukan menerima hukuman? Tidak ada orang baik yang duduk dipenjara kan? Bahkan pengawal yang menjaga jeruji besi ini juga muak berada didalam.

" Kau tidak salah, kenapa kau harus ditahan?"

" Aku penyebabnya. Wajar aja aku disini"

Aku tersenyum pada Izekiel yang masih menggenggam kuat besi penghalang diantara kami. Aku melihat wajahnya yang begitu pucat, perban yang membalut lengan kanannya itu masih melekat seperti kemarin hari.

Belum ada yang berubah ya?

" Apa lukanya masih sakit?" Ujarku sembari mengelus perban yang sudah mulai menguning itu.

" Aku ingin kau keluar. Aku akan meminta Tuan putri membebaskanmu. Tunggu sebentar, Zenith"

Izekiel terlihat beranjak dari tempatnya sekarang. Namun dengan cepat aku menahannya untuk pergi. Aku meraih cepat bajunya dan kembali membuat dia berjongkok dihadapan ku

" Hentikan, ini adalah salahku. Kau juga tau apa yang aku lakukan di istana tiga hari yang lalu kan? Ini adalah hukuman untukku Izekiel. Aku menerimanya, aku menyerahkan diri"

" Tolong jangan meminta apapun pada Tuan putri. Jika kau memintanya membebaskanku, sama saja kau mempermalukan ku. Kau paham itu?"

Izekiel terdiam mendengar perkataanku. Maaf saja, aku lebih memilih untuk menerima hukuman daripada dipermalukan.

Aku harap Izekiel juga mengerti akan pilihan yang aku ambil sekarang. Yah, walau pada kenyataannya Kaisar juga akan mengejarku kalau aku kabur. Lebih baik menyerahkan diri kan?

" Maaf.."

Hanya itu kata yang aku dengar keluar dari mulut pria bersurai putih itu.

Sementara aku, aku hanya memandangnya dengan senyuman. Aku tidak tau harus melakukan apa lagi. Bagaimana caranya menghibur orang disaat sebenarnya aku juga ingin dihibur.

Dibawah sini cukup dingin dan lembab. Lantainya tak sebagus lantai kaca diruangan Istana. Disini hanya ada tanah, dan juga tumpukan jerami disudut sana.

LADY MAGRITHA, ( Suddenly i Became a Princess, Chimera)  TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang