43. Semua karena aku?

918 132 1
                                        


Up!!
Jangan lupa komen dan vote ya. 3000 word





Jika seandainya ada kata Deja Vu dalam kehidupan Obelia, maka itulah yang dialami oleh pria bersurai putih susu itu.

Izekiel berdiri mematung tepat di pintu masuk ruang kerja ayahnya. Matanya menyipit dan keningnya mengerut mengingat perkenalan yang baru saja terlaksana beberapa menit lalu

Viscount Peterson?

Mengapa nama itu begitu tidak asing baginya, seolah itu bukanlah pertama kali sang Izekiel mendengar nama itu.

Memutar otak adalah hal yang paling pas untuk dilakukan saat ini, mencari kembali dalam memori ingatan yang mungkin sudah tertimbun oleh ribuan hafalan-hafalan tugasnya.

Izekiel menggerakkan tubuhnya menuju lantai atas mansion, berjalan tergesa-gesa menuju sebuah kamar yang tak lain adalah milik adik perempuannya, Zenith.

Rasanya, kalimat Viscount Peterson itu berasal dari kamar tersebut.

" Seharusnya itu ada disini sekarang" gumam Izekiel ketika mengutak Atik beberapa laci meja milik Zenith.

Kamar ini memang sudah kosong sejak 6 bulan yang lalu. Zenith sudah pindah ke mansion bawah yang terletak dekat danau kecil milik kediaman alphaeus. Namun Izekiel masih yakin kalau 'itu' masih ada dikamar ini.

Membolak-balik lembaran kertas ditangannya, Izekiel membaca bait demi bait kalimat yang tertera dalam kertas itu.

" Ah sial, dimana bukunya?"

Izekiel kembali mengambil buku baru yang terletak di beberapa rak buku kamar itu, mambacanya berulangkali namun juga tidak ditemukan. Hanya satu hal yang dia ingat, kalimat Viscount Peterson tidak dalam bentukan tulisan Obelia yang rapi, tetapi tulisan acak-acakan milik seorang anak kecil.

Akhirnya, Izekiel menyerah mencari buku itu di kamar lama milik Zenith. Buku itu tidak lagi berada di mansion besar ini. Dan mungkin saja, sudah berada di rumah kecil milik Zenith di luar sana. Dia membawanya bersama barang pribadi lainnya.

Izekiel masih ingat, Zenith pernah menulis beberapa hal dalam buku itu, ketika gadis itu tak sadar, Izekiel membacanya berulang kali. Terkadang adiknya itu menulis apa yang ia kesalkan selama berada dirumahnya, namun juga dia menuliskan beberapa hal yang tidak masuk akal di kepala Izekiel. Seperti.. aksi bunuh diri?

" Ada beberapa dokumen yang ingin saya ambil di ruangan Zenith." Ujar Izekiel ketika beberapa penjaga mansion milik Zenith bertanya pada Izekiel. Jangan sangka, walaupun masih dalam pengawasan Duke Alphaeus gadis bernama Zenith Magritha tetap memasang pengamanan terhadap rumahnya. Memiliki penjaga sendiri, pelayan sendiri walau gajinya ya dari Roger alphaeus. Permintaan anak yang berharga milik Roger .

Izekiel masuk ke rumah itu, dan pergi menuju kamar milik Zenith. Sebenarnya dia agak sedikit canggung untuk masuk sekarang, mengingat bahwa dia belum pernah memasuki kamar ini semenjak sang tuan rumah pindah. Kalau yang di mansion sana, mungkin Izekiel sudah biasa akan hal itu. Tetapi yang sekarang, dia seperti maling yang akan mengutak Atik kamar orang lain.

" A-Apa boleh begini?" Ucap Izekiel disaat ia memegang daun pintu kamar Zenith Magritha. " Ah terserahlah. Toh dia masih lama pulang "

Kreakk...

Pintu itu akhirnya terbuka, terlihat sebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun begitu rapi. Tirai jendela yang tertutup membuat cahaya dari luar merambat dan mengubah warna ruangan sesuai dengan tirai itu, merah jambu.

Disisi lain, terlihat rak buku kecil yang menempel pada dinding dekat ranjang berukuran sedang. Buku disana tersusun begitu rapi dan sepertinya terdapat beberapa buku-buku lama.

LADY MAGRITHA, ( Suddenly i Became a Princess, Chimera)  TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang