Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Karena apa yang menjadimilikmu pun berhakkumiliki."
Tigo tidak henti-hentinya tersenyum menatap pesan di ponsel Catur. Tadi supir pribadi papanya menitipkan ponsel Catur lantaran takut kalau-kalau hilang. Mengingat, Herman pekerjaannya banyak. Bukan hanya sebagai supir pribadi Bisma, kadang-kadang ikut sibuk di kantor.
Jadilah Tigo dengan leluasa membaca pesan dari Kanaya Fradilla.
Caturakumaungomong. Tapijanji ya janganmarah. Akumintamaaf ya, tadiakuizininKakTigocium. Akunggak tau tiba-tiba ada KakTigo. Akujuganggak tau kenapaakumaudiciumKakTigo. Tapi, KakTigociumnyanggakkasar kayak dulu. Malahanlembutbanget. Caturmaaf ya. Kamukalomaumarah, marahnyasamaakuaja. JangankeKakTigo. Inisalahakukok. AkusayangCatur. Sayangbanget❤❤
"Menggemaskan."
Tigo menghapus deretan pesan itu agar Catur tidak membacanya. Tigo tidak ingin Catur tahu mengenai ciuman itu. Tigo tidak ingin Catur marah pada Kanaya, terlebih pada dirinya yang sedang malas berkelahi.
"Catur Catur... Sebentar lagi lo bakalan kehilangan Kanaya. Cewek lugu lo itu bakalan jadi milik gue. Cepat atau lambat."
Tigo menyunggingkan senyumnya, "gue bakal leluasa sentuh dia lebih dari sekadar cium bibir."
Tigo meletakkan ponsel Catur di atas nakas dekat ranjang. Ia merasa aman, Catur tidak akan curiga. Semua akan baik-baik saja pikir Tigo.
***
"Heh lo berdua, gue mau ngomong." Cecil beserta anak buahnya menghadang Cindy dan Wenda di jalanan yang sepi. Sepulang sekolah Cindy dan Wenda berniat ke rumah Wildan, tentu saja akan ada acara nobar atau nonton bareng. Ya tidak jauh-jauh dari hal-hal berbau pornografi.
"Ada apa?" Wenda menyahut dengan raut berani. Wenda tipikal yang tidak akan menciut walaupun berhadapan dengan kakak kelas. Apalagi hanya sekelas Cecil, kecil bagi Wenda yang tubuhnya jauh lebih tinggi dan bertenaga.