06. Catur Marah

3.5K 182 5
                                        

"Gimana sekolah kamu, Nay?" tanya lelaki berambut cepak, mengenakan kaos apolo berwarna merah maroon

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gimana sekolah kamu, Nay?" tanya lelaki berambut cepak, mengenakan kaos apolo berwarna merah maroon.

"Lancar dong, Naya punya temen banyak dan mereka baik semua," aku Kanaya dengan senang. Kegiatan melukisnya terhenti karena sang Papa banyak bertanya.

"Kamu udah punya pacar?" Kanaya terbengong sejenak, lalu senyum malu-malu itu terbit membuat wajahnya tampak ayu.

"Udah, namanya Catur. Tapi, Papa nggak marah kan kalau Naya pacaran?"

Herdi tampak berpikir, tatapannya mengintimidasi wajah Kanaya. Anak itu mendadak takut.

"Suruh pacar kamu main ke sini ya, Papa perlu ngobrol."

"Siap Papa!"

"Kamu enggak macam-macam kan, Nay? Papa nggak mau kamu ikutan hal nggak baik," ucap Herdi. "Teman-teman kamu baik semua, yakin mereka baik? Atau mungkin cuma manfaatin kamu."

"Cindy baik, Wenda baik, Wildan sama Bimo lucu, mereka teman terdekat Naya, Pa."

"Semoga mereka nggak membawa pengaruh buruk ya, kalau mereka macam-macam lapor ke Papa oke?"

"Laksanakan!" Kanaya memberi hormat dengan antusias. Herdi mengusap puncak kepala Kanaya dengan usapan lembut. Herdi ketir-ketir dengan putri kesayangannya yang baginya masih anak-anak.

***

Wenda menahan lenguhannya, kedua paha itu ia rapatkan karena terasa ngilu pada bagian intinya. Netranya terpejam dengan dada gemuruh. Adegan panas di depannya tidak hanya ia tonton sendirian, ada Cindy, Wildan dan Bimo.

"Enghh.." Cindy meloloskannya, setelah menahan cukup lama agar tidak saling mengganggu. Tapi begitu lenguhannya terdengar, baik Wildan maupun Bimo terlihat puas. Seolah lenguhan Cindy adalah bonus untuk mereka saat menonton video dewasa secara bersama-sama.

"Jamah gueh dongh.. Bim," ucap Wenda yang posisi duduknya di sisi Cindy. Letak duduk Bimo terhalang Cindy tentunya.

"Enggak ahh, gue anti grepe temen sendiri." racau Bimo dengan kedua mata terpejam.

"Fuck!" pekik Wenda merasa kesal, hasratnya tidak ada yang memuaskan. Ia hanya pasrah hanya dengan permainan tangannya sendiri.

"Sialan! Sakit banget, keras, gue perlu sentuhan!" ujar Wildan mengerang di sisi Bimo. Pandangannya fokus pada video di layar laptop miliknya. Peraduan panas yang membakar jiwanya untuk terus bereaksi pada bagian inti miliknya sendiri.

DIA, CATURKU [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang