“Kenapa orang bodohselaludisepelekan? Salahmerekaapa? Tuhantidakmembatasikemampuanberpikirsetiapmakhluknya. Jikadiacukupbodohdibidangtertentu, makadiajugamemilikisisipintar akan bidanglain yang; mungkinituadalahbakatterpendamnya.”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Beban keluarga.
Beban masyarakat.
Beban sekolah.
Beban negara.
Ya, sekiranya itulah sebutan-sebutan untuk Tigo Leonard Panunggal, si bungsu dari keluarga Panunggal yang nyaris di hapus namanya dari Kartu Keluarga dan berniat membuang anak begundal itu.
Entah dari kapan, Tigo terjun menjadi anak pembangkang, dunia yang ia temui terlalu keras saat seusianya masih kisaran 15tahun. Saat itulah sosok anak laki-laki sedang mencari jati dirinya masing-masing. Mencari pijakan dunianya, mencari titik kenyamanannya.
Seperti biasa, jika hidupnya mulai merasa suntuk, butuh uang, butuh makan, butuh kasur dan selimut yang hangat. Tigo akan menginjakkan kedua kakinya ke mansion mewah keluarga Panunggal. Tentu saja kalau ia tengah malas, Tigo tidak akan sudi pulang ke rumah itu.
"Oh anak urakan pulang, tumben. Butuh makan? Laper kamu ya? Nggak ada duit kan? Enak hidup di luar dengan kebebasan bertindak? Udah ada niatan tobat?"
Ocehan itu berasal dari mamanya. Wanita sosialita itu gemar membaca majalah, dan koran harian dengan newsline terheboh. Wanita paruh baya itu berdiri di sisi tangga. Kedua tangannya ia lipat di depan dada.
"Berisik!" serah Tigo tanpa mau tahu dengan keberadaan mamanya. Ah, Tigo sangat jijik memanggilnya mama. Sehingga ia melengos begitu saja.
"Memangnya kamu ini siapa? Berani sama orangtua. Kamu pikir biaya sekolahmu siapa yang nanggung? Kamu pikir papamu nggak pusing mikirin kasus-kasus kamu di luar sana? Papamu udah keluarin duit banyak buat bungkam pihak sekolah juga masyarakat. Kamu mau jadi apa, Tigo!"
Tigo bergeming, ia menghentikan langkahnya. Segera ia menoleh ke arah wanita yang terkobar amarah itu.
"Kalian cukup buang gue jauh dari sini, ke belahan dunia manapun. Biar kalian nggak merasa terbebani adanya gue. Biar hidup kalian tentram tanpa hujaman dan cibiran orang-orang gara-gara gue. Emang itu kan yang kalian pengin? Kepergian gue kan yang kalian pengin?!" kelakar Tigo beraut merah redam. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya terkepal.