Kanaya melambaikan tangan pada Papanya. Setelah itu ia menghirup udara pagi banyak-banyak. Ia berjalan dengan senandungnya. Melewati lapangan utama, kemudian masuk lorong yang belum terlalu ramai. Kedua netranya menelisik jam tangan tosca transparan, pukul 7.05 WIB. Kanaya diam sejenak, mengamati keseluruhan.
"Kok belum pada berangkat ya?"
Kanaya mengabaikan hal itu. Seperti biasa, ia menuju kelas Catur untuk apel pagi. Memang itu kebiasaan Kanaya. Walaupun sebenarnya tidak ada hal yang penting ia lakukan di kelas Catur selain duduk dan sekadar bercerita tentang mimpi yang menurut Kanaya menyeramkan.
Kanaya berhenti tepat di depan pintu kelas XI-IPA, kelas Catur, cowok kesayangannya. Kanaya tersenyum menjumbulkan kepalanya untuk menelisik isi kelas, tempat duduk Catur di sebelah tembok. Senyumnya memudar saat ia tidak menemukan Catur yang biasanya sudah bertengger di bangkunya.
"Loh, Catur belum berangkat?" tanyanya pada diri sendiri.
"Eh nyari Catur kan lo?" tanya salah seorang cewek dengan perawakan tinggi, ramping dan berambut sepundak.
"Catur mana kok tumben jam segini belum berangkat."
"Yah lo nya aja yang telat berangkat, Catur mah udah berangkat dari jam enam, dia kan ada kegiatan mendampingi anak-anak pramuka pelantikan kelopak bantara."
Kanaya menyuramkan alisnya, Kanaya baru ingat tentang ucapan Catur semalam. Segera ia meluruhkan pundaknya.
***
"Cindy sama Wenda belum berangkat?" tanya Kanaya pada teman kelasnya. Mereka mendiamkan Kanaya. Selalu seperti itu, Kanaya tidak di inginkan mereka, selain karena di anggap bodoh, sok lugu dan karena Kanaya cantik.
"Eh kok kalian pada diem aja? Terus yang lain mana kok belum pada berangkat?"
"Yaelah, Nay. Kita kan di liburkan, emangnya lo nggak cek info grup kelas. Sekarang sebagian guru mau dampingi anak-anak bantara."
"Tapi kalian berangkat, itu juga ada kok yang berangkat."
"Gue hari ini sengaja berangkat, biar dapat uang saku."
"Oh jadi hari ini libur, yaahh kok aku nggak tahu sih, padahal semalem aku sempet pantengin grup kok."
"Pantengin doang, kagak lo baca kan?"
Kanaya meringis dengan kedua tangan mengeratkan ransel peachnya. Ia mulai bingung harus apa. Pulang? Sayang banget padahal baru sampai di sekolah. Ke perpustakaan? Emangnya di buka? Kan semua sibuk. Ke UKS? Kanaya menemukan jawabannya. Sekadar rebahan di kasur UKS yang sangat empuk bagi Kanaya.