Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mauucapinbanyakmakasihbuat yang bacadansukasamaceritaini. Semogatulisanseadanyadiceritainibemanfaatbuat kalian remaja-remaja yang belumterjerumuslebihke sex. Dan kalaupunudahterlanjur, letit go. Masadepan kalian masihpanjang. Kalian siapkandenganmatangdanmenyenangkan.
Happy reading❤
"Everything will be fine, Kanaya..."
Catur mengendarai motor menuju sekolah dengan mood buruk. Semua gara-gara Tigo, adik tidak tahu diri itu selalu bisa mengusik jiwa Catur yang tenang akan masalah.
Catur masih ingat, siapa penyebab tercemarnya otak Kanaya. Saat ini tujuan utama Catur mendatangi kelas Kanaya. Ya, meminta penjelasan. Bila perlu mengobrak-abrik sekalian. Biar mereka tahu, pawang Kanaya bukan sekadar pawang biasa. Sekali mencemari otak Kanaya. Berurusan langsung dengan Catur Fakhri Panunggal—ketos bijak sejuta umat.
Kelas Kanaya nyaris paling ujung. Lorongnya lumayan gelap. Kelas sisa, SMA 79 sedang membangun kelas baru. Untuk kelas-kelas X masih memakai kelas seadanya.
"Gue nyari Cindy sama Wenda."
Wuss! Ibarat angin muson dari arah barat. Semua yang duduk dengan kesibukan masing-masing sontak kaget dengan kedatangan Catur, ah mereka lebih senang memanggil ketos. Oke, citra kewibawaan Catur luntur saat mengucapkan gue lo dengan nada sarkasme. Biasanya dengan siapapun Catur menyebut aku-kamu. Katanya biar jadi contoh adik-adik kelasnya.
"Mas Catur, nyari Cindy ngapain?" sahut Bimo.
"Ada urusan, mana anaknya?" Catur menatap datar. Teman-teman Kanaya menatap takut. Ada apa ya?
"Kak, Cindy sama Wenda belum berangkat." sahut perempuan yang duduknya paling depan.
"Oh. Kalu udah berangkat. Bilangin ke mereka. Di tunggu di ruangan Osis. Sekarang banget. Nggak boleh sampai lewat jam tujuh." Catur berlalu begitu saja membuat mereka semakin terpelongo. Lantas kelas itu gaduh akan sikap Catur. Ada yang bilang, tumben Catur kasar. Selebihnya memuji sikap bar-bar barusan. Kadar ketampanan Catur akan sangat terpancar saat raut wajahnya serius dan menampilkan semburat marahnya.
***
"Kalian di cari Catur," sergah May begitu Cindy dan Wenda berangkat. Belum juga mendaratkan bokong, mereka langsung di serbu yang lain.