"Kamutidakbisamenilaiseseorangdariapa yang kamulihatsaja. Hanya karena diaseorangpremansekalipun; tidakmenjaminbahwadia orang jahat. Memangitulah cover, hanyasampulpenutuptentangsegalahal yang memangtidakseharusnyadiperlihatkan."
"Omg.. Lo cantik banget, Nay. Yuk berangkat."
Kanaya menatap pantulan dirinya pada cermin besar miliknya. Pasalnya begitu Cindy dan Wenda datang, Kanaya langsung di makeup sedemikian rupa bahkan sampai mengganti baju tidur dengan gaun pesta yang sangat anggun. Bodohnya Kanaya hanya diam seperti boneka mereka, ia terlalu bingung ingin bereaksi apa. Ia juga bingung menolak dengan cara apa, toh kalaupun menolak, Cindy dan Wenda tetap akan memaksa dan membujuk Mamanya Kanaya agar memperbolehkan Kanaya pergi.
Kanaya pasrah.
Jadilah Kanaya dengan gaun selutut berwarna baby pink yang bagian pundaknya terbuka. Ukuran serta warna gaun itu sangat pas dan cocok untuk kulit Kanaya yang putih susu. Wenda membuat wajah Kanaya tampak cantik dengan makeup yang tidak terlalu menor.
"Nanti lo tinggal senyum-senyum aja sama orang, nggak pa-pa kalau nggak kenal, ada kita inih," ujar Wenda yang masih memoles bibir Kanaya agar tampak glossy.
"Yuk, Nay kita capcus!" Cindy tampak bersemangat.
"Aku mau telpon Catur dulu ya, soalnya dia juga janji mau ajak jalan tapi seharian ini belum datang, siapa tau dia lagi otw ke sini ajak aku ke pasar malam," ucap Kanaya.
"Tenang aja, Catur udah gue chat kok, dia kasih izin. Yuk keburu acaranya selesai."
"Aku izin ke mama ya," Kanaya tampak meribetkan suasana.