51. Jaga Dia

1K 72 21
                                        

Lanjut kan? Lanjut lah masa enggak hahah. Enjoy, tamatnya gak tau kapan. Udah baca aja, yang penting jangan lupa vote ya!

***


SMA 79 riuh lantaran Kanaya Fradilla kembali bersekolah lagi. Semua murid tahu apa kasus yang di alami Kanaya sebelumnya, lantas pagi ini gadis itu memunculkan diri dengan wajah berseri-seri.

Koridor yang menghubungkan antara kelas Kanaya menuju perpustakaan kontan menjadi gerumulan memandangi Kanaya. Banyak yang mengatakan bahwa gadis dengan korban perundungan oleh Wenda dan Cindy itu sudah sembuh dari trauma.

"Naya!" serunya membuat Kanaya menoleh. Ia tersenyum lebar dengan kedua tangan mengeratkan tali ranselnya.

"Mayla, Suci, Sahila. Kalian apa kabar?" sambutannya begitu ramah. Kanaya tidak sabar memeluk namun ketiganya berdiri canggung di sana. Saat ini mereka menjadi sorotan Kakak Kelas yang melintas.

"Nay, aturan kita yang nanya kabar lo. Udah baikan? Udah nggak takut sekolah terbuka lagi?" sahut Suci.

Kanaya menggeleng. "Udah nggak takut kok. Aku selalu baik, di rumah banyak belajar. Terus main sama kucing dan nay nay." jawabnya antusias.

"Wah, seneng dengernya." sela May.

"Oh iya, Wenda udah berangkat belum?" tanya Kanaya.

Ketiganya saling pandang dengan raut sedih. Lalu, Sahila meraih tangan Kanaya. "Wenda keluar dari sekolah ini setelah berita tentang Cindy tersebar luas. Terakhir kalinya, Wenda nangis di gudang. Dia nggak terima kalau semua orang mencaci Cindy yang hamil dan suka ke club. Wenda juga udah nggak mau sekolah lagi, namanya semakin buruk, dan lagi, Kak Cecil makin menjadi-jadi, menyebar aib Wenda yang katanya jadi perempuan simpanan om-nya Kak Cecil." papar Sahila dengan tenang dan jelas.

Kanaya merasa lemas. Kedua netranya berkaca-kaca. Ia menunduk menahan tangisan. Selama itu, setelah mereka saling memaafkan satu sama lain, baik Wenda maupun Cindy terlihat baik-baik saja. Tidak menyangka akhirnya Wenda menyerah dan Cindy juga kalah oleh keadaan.

"Nay, maafin kita ya." ucap Sahila.

"Iya, kita punya banyak salah sama lo." ujar May. "Kita pernah jadi teman yang buruk buat lo. Gue merasa udah nggak pantas berteman sama manusia sebaik lo."

"Nggak boleh gitu, kita masih bisa berteman, aku nggak mau kalian menjauh. Tujuan aku sekolah lagi juga karena kalian semua. Aku pengin jajan di kantin lagi, pengin olahraga lagi, pengin praktik di Labolatorium lagi, dan tentunya aku kangen recokin Catur ke kelasnya." ungkap Kanaya menangis namun bibirnya tersenyum.

"Makasih ya, Nay." Sahila memeluk Kanaya lalu di ikuti Mayla dan Suci.

Begitu menghayati, sampai-sampai mereka tidak menyadari kedatangan seseorang. Ia berdiri mengamati mereka dengan seulas senyum terlukis indah. Namun ia tidak tahan untuk bersuara agar menyudahi pelukan mereka.

"Kanaya." panggilnya.

Gadis itu reflek terpelongo dengan mata membola. Sementara itu, ia si jangkung yang menenteng ranselnya terkekeh.

"Udah sekolah lagi lo?" tanyanya.

"U-uddah ... Kak Tigo? Kok di sini?" jawab Kanaya tergagap.

"Gue sekolah di sini, oh iya nanti pulang sekolah lo ke rumah gue ya." ucap Tigo.

"Mau apa, Kak?" sahut Kanaya gugup.

Tigo menatap Sahila, Mayla dan Suci. Merasa tidak nyaman bicara di depan mereka. Namun akhirnya mereka peka. Undur diri dari hadapan Tigo dan Kanaya karena tidak ingin mengganggu obrolan keduanya.

DIA, CATURKU [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang