"Lah gue mau kemana nih. Mana belum bel istirahat lagi." kata Lea berfikir.
"Taman belakang kali ya, biar ga ketahuan guru." gumam Lea lirih sambil sedikit terkekeh.
Mungkin jika ada yang melihat itu disangka Lea kurang waras karena terkekeh sendiri.
Lea mengayunkan kakinya ke taman seorang diri. Sampainya disana sama sekali tidak ada orang, wajar saja semua orang tengah mengikuti KBM. Eh tidak-tidak sebenarnya ada kelas yang jamkos dan ada juga yang bolos seperti dirinya sendiri dan kakel yang mengajaknya tadi.
Lea mendudukkan dirinya disalah satu bangku. Ia menghirup udara dalam-dalam. Ia merasa bahwa dia selalu saja sendirian. Ia memang selalu berada di keramaian tapi ia selalu merasa dirinya sendirian.
Ingin rasanya memiliki sahabat tapi ia tidak percaya dengan yang namanya sahabat setelah kejadian beberapa tahun lalu.
Flashback on
Waktu itu Lea tengah duduk dibangku SMP tepatnya kelas 9 SMP. Ia dekat dengan seorang laki-laki bernama Alvaro. Alvaro adalah sosok idaman murid perempuan di sekolahnya.
Lea juga memiliki seorang sahabat bernama Sheila. Kemanapun mereka selalu bersama. Dimana ada Lea disitu ada Sheila. Sehingga banyak yang iri dengan persahabatan mereka.
Sampai akhirnya Alvaro mendekati Lea. Sebenarnya Lea selalu menghindari Alvaro. Bukan karena Lea tidak suka kepada Alvaro tapi karena dia tidak ingin mendapat masalah dari fans-fans Alvaro.
"Ale , kenapa kamu hindarin aku mulu ?" tanya Alvaro saat Lea hendak menghindarinya.
"Al , kamu ga lihat apa tatapan fans kamu pas kamu deket aku." kata Lea lalu hendak meninggalkan Alvaro.
"Kenapa kamu peduli banget apa kata mereka." kata Alvaro.
"Udahlah Al, aku gak mau nambah masalah. Aku pergi dulu." kata Lea menarik tangan Sheila yang sendari tadi hanya menonton.
Setiap hari Alvaro selalu saja mendekati Lea. Ia tidak peduli jika kadang mendapat perkataan ketus dari Lea, mendapat sikap acuh dari Lea. Sampai ketika akhirnya perjuangannya membuahkan hasil.
Ya, Lea menerimanya sebagai seorang kekasih tanpa tau ada yang membencinya diam-diam. Ada yang terluka dengan kejadian itu.
Lea menjalani hubungannya dengan mulus-mulus saja sampai ketika sebuah masalah datang. Tiba-tiba Alvaro datang dengan wajah yang merah padam.
"Ale. Aku mau ngomong sama kamu." Alvaro menarik tangan Lea kasar. Lea meringis mendapat perlakuan seperti itu.
"Al , lepas tangan aku sakit." gerutunya saat tangannya masih ditarik Alvaro.
Alvaro membawa Lea ke taman sekolah. Alvaro menghempaskan tangan Lea kasar. Sebenarnya Alvaro sangat menyayangi Lea. Sehingga ia terbilang possessive kepada Lea. Ia sebenarnya juga tidak tega memperlakukan Lea seperti itu tapi saat ini Alvaro sangat dikuasai oleh kemarahannya.
Lea memegangi pergelangan tangannya yang merah akibat cekalan tangan Alvaro tadi. Alvaro yang melihat itu merasa menyesal tapi ia sama sekali tak ingin menunjukkan raut penyesalannya.
"Ada apa sih Al ?" tanya Lea kebingungan dengan sikap Alvaro yang tiba-tiba sekasar itu.
"Ini apa ? Jelasin!" perintah Alvaro tegas. Alvaro menyerahkan ponselnya , ia menunjukkan sebuah foto yang dikirim oleh no tak dikenal.
Dalam foto itu tampak Lea sedang bersama seorang laki-laki ditaman samping rumah yang Alvaro fikir adalah rumah sang laki-laki. Karena Alvaro hafal dengan rumah Lea dan itu bukan rumah Lea. Hampir setiap hari Alvaro menjemput Lea jadi wajar saja jika Alvaro hafal.
"Ngapain kamu berduaan sama dia, kamu ada apa sama dia?" tanya Alvaro tajam.
"Itu ga seperti yang kamu pikirkan Al. Aku hanya kerja kelompok sama dia. Lagian aku ga sendirian. Ada Sheila juga. Kamu bisa tanya dia" jelas Lea.
"Oke , sekarang kamu telfon Sheila suruh kesini." putus Alvaro.
Lea mengangguk. Lea segera mendial no telepon sahabatnya. Lea berharap sahabatnya bisa memperbaiki kesalahpahaman ini.
Selang beberapa saat Sheila datang.
"Ada apa Le ?" tanya Sheila.
"Sheil tolong lo jelasin ke Al kalo kemarin kita kerja kelompok bareng-bareng kan." kata Lea berhenti sejenak dan menunjukkan foto yang menjadi biang masalahnya.
"Iya , tapi aku ga tau Le kalo yang ini kan aku udah pulang kemarin." jelas Sheila.
Lea mengangga bagaimana bisa sahabatnya berbicara seperti itu sementara saat itu dia ada di sana. Ya walaupun di foto tersebut Sheila memang tidak ada.
"Maksud kamu apa Sheil. Kamu kan ada disana?." tanya Lea lagi. "Kamu jelasin yang bener dong. Jujur Sheil." kesal Lea.
"Apaan sih Le. Kan aku udah jawab. Mau kamu aku jawab apa, harus bohong nutupi kebohongan kamu. Aku ga bisa Le." jelas Sheila yang jelas itu hanya sebuah kebohongan belaka.
"Sheil ka..." belum selesai berbicara Alvaro sudah menyela.
"Udah. Aku kecewa sama kamu Ale. Aku pikir kamu beda ternyata kamu sama aja kaya yang lain." kata Alvaro.
"Tapi Al."
"Cukup." sela Alvaro lagi. "Kita sudahi sampai disini Ale. Aku ga bisa bersama orang yang tidak setia." kata Alvaro lagi.
Alvaro berjalan meninggalkan Lea yang menahan tangisnya.
"Kamu bakal nyesel setelah tau kebenarannya Al. Dan saat itu udah tidak ada lagi yang bernama kita." teriak Lea. Alvaro menghentikan langkahnya sebentar lalu berjalan lagi tanpa menghiraukan kata-kata Lea. Lea memandang punggung laki-laki yang beberapa menit lalu masih menjadi kekasihnya sampai ia hilang di balik tembok.
"Maksud kamu apa Sheil." tanya Lea masih menahan tangis.
"Kamu masih ga tau maksud aku apa ? Aku yang ngirim foto itu ke Alvaro. Asal kamu tahu, aku sudah menyukai Alvaro sejak lama tapi apa ? Alvaro malah milih kamu. Kamu selalu cerita tentang kebahagiaan kamu bareng Alvaro. Aku terluka apa kamu tahu Le?. Dan saat kamu berantem sama Alvaro disitulah aku yang paling bahagia tapi aku harus pura-pura jadi sahabat yang baik. Cih membosankan" jelas Sheila. Lea menggelengkan kepala mendengar apa yang baru saja dikatakan sahabatnya.
Lea pikir selama ini semua baik- baik saja. Tapi ternyata....
"Kenapa kamu ga bilang Sheil? " tanya Lea sudah menangis.
"Kalo kamu sahabat aku seharusnya kamu tahu Le tanpa harus aku kasih tahu. Kamu itu ga peka Le. Aku benci sama kamu. Kamu bukan sahabat aku lagi " jelas Sheila lagi dan pergi meninggalkan Lea yang sudah menangis.
"Kenapa kamu jahat Sheil." gumam Lea lirih. Lea sudah terduduk di rumput taman.
Setelah kejadian itu Sheila sudah tidak muncul lagi karena Sheila mumutuskan pindah sekolah. Dan Alvaro tampak seperti orang yang tak saling kenal.
Flashback off.
"Ck.Sahabat." Decak Lea
"Gue ga percaya lagi dengan yang namanya sahabat." kata Lea pada dirinya sendiri.
"Gue hanya akan percaya kepada diriku sendiri." tambahnya.
Memang disakiti oleh sahabat sangat menyakitkan tapi tidak semua sahabat akan melakukan hal yang sama seperti itu.
.
.
.
.
Tbc
Mohon votenya.
Tq
KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT AFTER DARKNESS : Takdir Cinta (END)
Teen Fiction𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙛𝙤𝙡𝙡𝙤𝙬 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙜𝙪𝙮𝙨 ! Dia ALLEA KANIA FAJIRA seorang gadis barbar , periang , pemberani dan supel. Yang sehari-hari dipanggil Ale. Berubah seketika saat sesuatu yang tak pernah terbayangkan terjadi menimpanya. Ia mem...
