21

3.5K 176 8
                                        

Setelah aksi kejar-kejaran tadi kini mereka sudah berada di rumah Kevin.

"Sekarang lo cerita."

"Gue bingung mau cerita darimana?"

"Dari awal masalahnya lah."

"Jadi masalah awalnya itu terjadi setelah gue pulang dari balapan sama Draka. Terus waktu perjalanan pulang gue ketemu Lea yang sendirian di bangku pinggir jalan, katanya dia lagi nunggu taksi. Gue ga tega lihat cewek sendirian malem-malem di jalan pula jadi gue niatnya mau nganterin dia tapi gue mampir dulu ke apart buat ambil baju.... Bla... Bla... Bla."

Elang menceritakan semua dari ia bertemu Lea di jalan. Ia yang meminum botol yang ia ambil dari dashboard mobilnya sampai berakhir pada ia merampas kehormatan Lea.

Setelah mendengar cerita Elang mereka menganga tak percaya. Pantas saja Elang terus saja mencari Lea dan juga Lea yang terus menghindari Elang . Terlihat bahwa Lea sangat membenci Elang. Jadi seperti ini masalahnya..

"Gue pikir air itu lo yang beli jadi gue ga curiga sama sekali."

"Gue ga pernah letakin minum disana El."

"Gue sih curiga ke Draka." Celetuk Satria.

"Kita ga boleh asal nuduh. Kita harus cari bukti dulu."

"Gue ga asal nuduh Yos. Gue cuman curiga ke Draka. Lo inget ga yang waktu tiba-tiba Draka nyerang kita tapi beberapa menit kemudian tiba-tiba dia nyuruh anak buahnya buat cabut.  Gue curiga Draka cuman ngalihin perhatian kita supaya salah satu anak buahnya gampang masukin tuh botol ke mobil Elang."

"Masuk akal sih." Ucap Kevin.

"Bisa juga sih tapi kita juga harus punya buktinya. Jangan sampek Draka bilang kita asal nuduh dia ."

Elang sendari tadi diam saja. Jujur saja dia baru menyadari apa yang dikatakan Satria benar juga.

'Draka.'

"Lo pada inget ga sama rencana Draka yang dia bilang waktu di depan gerbang sekolah?" Ucap Satria

"Yang mana sih? Tanya Kevin.

" Pikun banget sih lo Kev. Itu yang Draka bilang gini 'gue bakal bikin salah satu diantara kalian hidup didalam rasa bersalah'." Ucap Satria menirukan cara berbicara Draka.

"Dan bener Elang yang di targetin sama Draka."

"Licik , benar-benar licik."

"Gue rasa ga ada yang lebih licik daripada Draka."

Mereka tak habis pikir bagaimana bisa Draka bisa selicik itu.

"Btw , lo sadar ga memang bener sekarang Elang hancur gara-gara masalah ini tapi Draka bahkan lebih hancur daripada Elang." Ucap Yosi

"Maksud lo?" Tanya Kevin. Sementara Elang dan Satria mengernyitkan keningnya.

"Jadi gini lo tahu kan Draka kek ga bisa move on gitu dari Lea. Dari cara dia perlakuin Lea aja udah kelihatan. Dan dengan rencana Draka sendiri siapa sebenarnya korbannya ? Lea. Bukan Elang. Elang hanya target tapi korban sesungguhnya itu Lea. Gue bisa yakin kalo Draka tau bahwa korbannya adalah cewek yang ia cintai otomatis dia sendiri yang bakalan hancur. Dia yang lebih menyesal. Penyesalannya bahkan bisa seumur hidup. Jika bukan Lea korbannya mungkin Draka akan bahagia tapi sayangnya korbannya Lea. Dia yang harusnya masih bisa dapetin Lea sekarang perjuangannya bakalan sia-sia."

"Otak lo nyampek sana juga Yos. Keren juga lo."

"Dalam tanda kutip sebenarnya Draka sendiri yang hancur bukan Elang. bisa dikatakan senjata makan tuan" Ucap Yosi lagi.

"Iya lah kalo Elang mah ga hancur yang ada keenakan bisa ena-ena sama Lea." Celetuk Kevin. Elang seketika menatap tajam Kevin , bisa-bisanya Kevin berbicara seperti itu.

"Ogeb. Lo kira setelah itu lo ga ngerasa bersalah. Enak banget lo kalo ngomong." Ucap Yosi.

"Terus rencana lo apa El?" Tanya Satria.

"Gue belum tau. Lea masih ga mau ngomong sama gue. Jangankan ngomong ketemu aja dia ga mau."

"Sabar El, dia butuh waktu . Ga semudah itu maafin kesalahan lo. Kesalahan lo itu termasuk hal yang fatal buat cewek." Nasehat Yosi

"Gue masih nyari rumah Lea tapi gue belum dapet." Ucap Elang.

"Nanti kita bakal bantuin lo El. Lo tenang aja." Ucap Kevin. Elang mengangguk mengiyakan.

Elang sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka. Tidak hanya saat bahagia mereka ada tapi saat ia terpuruk seperti ini mereka masih peduli dan memberinya semangat.

"Tapi gimana kalo Lea hamil?" Celetuk Satria membuat mereka semua terkejut.

Ya, bagaimana bila sampai itu terjadi. Elang juga mendadak membeku. Mengapa sendari kemarin ia tidak terpikir tentang itu. Ia tidak akan membiarkan Lea menghadapi masalah ini sendirian.

'Gue harus cepet ketemu dan berbicara sama Lea.'

"Iya, gimana El?"

"Kalo Lea hamil lo bakal tanggung jawab dan terima itu kan?" Tanya Kevin

"Lea ga hamilpun gue siap tanggung jawab Kev tapi Lea selalu nolak gue . Apalagi kalo Lea sampai hamil kalopun dia ga mau gue tanggung jawab gue tetep bakal paksa dia nerima gue."

"Ya emang harus gitu sih El. Lo harus terus berjuang buat dapet maaf dari Lea."

"Gue bayangin gimana ya anak lo sama Lea. Gue yakin sih kalo cewek bakal cantik banget kalo cowok juga pasti ganteng secara bibitnya aja bibit unggul semua." Celetuk Kevin.

Mendengar celetukan Kevin, Elang juga membayangkan wajah anaknya kelak. Tiba-tiba hatinya bahagia, hatinya menghangat. Ia membayangkan jika suatu saat dia akan di panggil Daddy oleh anaknya dan Lea yang menjadi ibu dari anak-anaknya , lalu Lea juga yang akan menemaninya sampai ia tua. Tanpa Elang sadari senyum tercetak di bibir Elang. Senyum itu sangat tipis sampai tak ada yang menyadarinya.

"Gila sih pasti ucul banget." Timpal Satria.

"Ga sabar gue liat Elang junior."

"Itu belum pasti bagong. Iya kalo jadi, kalo kaga?" Ucap Satria.

"Ya bikin lagi." Ucap Kevin dengan watadosnya.

"Enak aja main bikan bikin lo kira apaan." Jawab Satria.

"Serah deh. Terus bonyok lo udah tau El?."

Elang mengangguk.

"Mereka tahu. Mereka kecewa itu udah pasti tapi mereka dukung gue buat tanggung jawab sama Lea. Mereka nyuruh gue cari Lea bagaimanapun caranya" Jelas Elang

"Terus kuliah lo ke Jerman ?"

"Gue bakal nolak. gue bakal bicara lagi sama bokap. Gue ga mungkin ninggalin Lea dalam keadaan kek gini. Gue bukan pecundang yang pergi setelah mengambil mahkota seorang cewek."

"Gue bangga sama lo bro." Ucap Kevin tulus.

"Gue juga." Ucap kedua sahabatnya yang lain.

"Thanks lo semua udah ngertiin gue. Udah dukung gue disaat gue kaya gini."

"Ga masalah kita kan sahabat. Masalah lo masalah kita juga. Lo itu udah kaya saudara buat kita."

"Sekali lagi thanks."

"Okey."

Mereka memutuskan untuk berfikir bagaimana ia akan mencari bukti bahwa memang Draka lah yang merencanakan semua itu.

.

.

.

.

Tbc.

Cerita belum revisi.
Maaf jika ada typo.
Jangan lupa voment.
Tq.

ABOUT AFTER DARKNESS : Takdir Cinta  (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang