"Jadi semuanya berawal dari malam pas gue ambil tugas yang gue jilid di stationery store langganan gue. Berangkatnya gue naik taksi. Terus waktu gue pulang niatnya gue mau pesen taksi lagi tapi ternyata hp gue mati. Jadi gue nungguin taksi sendirian dibangku pinggir jalan. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan gue. Ternyata mobil kak Elang." Lea menghela nafas kasar.
"Kak Elang nawarin gue buat nebeng dia. Daripada gue lama nungguin taksi yang entah bakal dateng apa ga ,yaudah gue iyain aja. Tapi kak Elang bilang mau ambil baju diapartnya dulu. Jadi aku ikut aja lagian kan ambil baju cuman bentaran doang kan. Sampai didepan gedung apartnya kak Elang kak Elang markirin mobilnya ga jauh dari depan gedung. Niatnya gue mau tungguin di mobil. Kak Elang juga ga masalah gue nunggu dimobilnya. Tapi karena gue takut jadi gue ikut turun gue ngejar kak Elang."
Lagi-lagi Lea menghembuskan nafas kasar sementara Abel dan Zahra mendengarkan Lea dengan Serius. Mereka sama sekali tak memotong ucapan Lea.
"Jadi gue ikut masuk ke Apartnya kak Elang. Kak Elang langsung masuk ke kamar buat ambil bajunya. Gue nungguin di sofa depan tv kak Elang. Letaknya ada di tengah. Ga lama kemudian kak Elang keluar udah bawa bajunya di paperbag. Terus kak minta minum di botol yang ada di depan gue. Itu botol kak Elang yang bawa dari mobilnya." Lea menarik nafas pelan menenangkan hatinya.
"Semua berubah setelah kak Elang minum air itu. Tiba-tiba kak Elang jadi aneh. Kak Elang lari ke kamarnya dengan bodohnya gue ngikutin kak Elang ke kamar. Jujur gue khawatir kalo kak Elang kenapa-napa."
Lea berhenti sejenak. Ia sudah mulai berkaca-kaca. Abel dan Zahra menenangkan Lea.
"Kak Elang nyuruh gue pergi, nyuruh gue buat ga deket-deket sama dia. Tapi karena gue khawatir gue malah deketin kak Elang. Niat gue cuman nolong kak Elang. Mana bisa gue ninggalin kak Elang sementara keadaan kak Elang ga baik-baik saja.
Lalu kak Elang...." Lea sudah menangis.
"Stop it ! Lo ga usah lanjutin ceritanya. Gue udah paham." Ucap Abel. Ia tak ingin Lea bertambah tertekan.
Sejujurnya Abel sangat terkejut sengan cerita Lea tapi ia tidak ingin Lea mengetahuinya. Saat ini yang terpenting membuat Lea senyaman mungkin. Ia sudah sangat tertekan dengan kejadian itu jadi dia tak boleh menambahnya lagi.
"Astagfirullah." Zahra memeluk Lea. Begitu juga dengan Abel. Lea semakin menangis tersedu-sedu.
"Jujur gue ga tau harus ngomong apa Le kalo gue di posisi lo gue juga bingung "
"Sabar. Allah selalu bersama-sama orang yang sabar. Allah hanya akan menguji umatnya sampai batas kemampuannya. Jika Allah menguji Lea seperti ini Lea pasti kuat menghadapinya." Jelas Zahra.
"Aku ga tau Zah. Hidup aku udah hancur."
"Berserah sama Allah. Kamu ga salah, kamu adalah korbannya Le. Kamu terpaksa."
"Apa Allah masih mau mengampuni aku yang udah ga suci. Aku udah berdosa."
"Lea. Lo ngomong apa sih. Allah itu selalu mengampuni hambanya." Geram Abel.
"Bel." Tegur Zahra. Zahra menggelengkan kepalanya memberi peringatan.
"Le aku pernah baca tentang firman Allah yang menyebutkan bahwa Tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tidak ada hukuman dan tidak pula ada dosa bagi perempuan yang diperkosa. "
"Tapi aku udah ga pantes buat dapat ampunan dari Tuhan." Ucap Lea sendu
"Astagfirullah. Istigfar Le. Kalau kamu mau kamu bisa memperbaiki diri."
"Apa masih mungkin."
"Selama kamu masih hidup kamu masih mungkin memperbaiki diri Le. Hijrah, bertaubat kepada Allah. Niat yang ikhlas Le. Ikhlas semua karena Allah bukan karena sesuatu."
"Lea lo pasti kuat." Abel juga menyemangati Lea.
"Nabi SAW bersabda : Taubatlah kalian kepada Allah dan janganlah berputus asa, karena sungguh putus asa adalah kekufuran. Jadi Lea ga boleh putus asa."
"Bantu aku belajar dari awal Zah."
"Pasti. Langkah pertama Ikhlas Le. Niat yang Ikhlas hanya kepada Allah. Kalau kamu udah bisa Ikhlas kamu coba tutup Aurat dulu. Setelah itu kamu boleh cari aku lagi. Kita belajarnya pelan-pelan biar lebih istiqomah."
"Lea semangat." Ucap Abel.
"Makasih kalian ada buat gue saat gue hancur kaya gini." Memeluk Abel dan Zahra. "Kalian memang teman aku yang terbaik."
"Teman?" Tanya Abel "gue ga mau."
"Bel" Ucap Lea sendu,ia berfikir apakah Abel tidak mau berteman setelah tau kenyataannya. Zahra juga bingung kenapa Abel seperti itu.
"Gue ga mau jadi teman lo. Gue maunya sahabat." Ucap Abel membalas pelukan Lea. Zahra tersenyum lembut.
'Sahabat. Semoga kalian beda dari dia. Gue bakal coba percaya kepada kalian. Sahabat baru gue'
Lea tersenyum. Lea memutuskan mengajak kedua sahabatnya pulang kerumahnya. Tanpa mereka sadari ada yang mendengarkan dari awal mereka cerita sampai ke akhir , ia sendari tadi bersembunyi di balik pohon.
"Kalian akan hancur bersama. Gue akan cari bukti buat kehancuran lo ini. Kalian sudah membuat masalah denganku . Satu, seseorang yang gue cintai tapi sayang lo memilih ngelukain gue. Yang satu lagi, lo musuh gue dan lo udah rebut orang yang gue cintai. Siap-siap kalian akan hancur bersama. Gue ga akan biarin kalian bahagia diatas penderitaan gue." Ucap seseorang itu.
Seseorang itu segera pergi dari sana. Ia harus segera mancari bukti agar rencananya berjalan lancar
.
.
.
.
"Bodoh. Kalian benar-benar bodoh. Gitu aja lo ga bisa." Ucap Draka dengan nada tinggi
Saat Draka berada di markasnya. Ia berdiri dihadapan ketiga anak buahnya. Draka memarahi anak buahnya yang menurutnya tak bisa menjalankan tugas mudah yang sudah dia berikan.
.
.
.
.
Tbc.
Maaf cerita belum di revisi.
Jika ada typo dimana-mana mohon dimaafkan.
Jangan lupa voment
Tq.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT AFTER DARKNESS : Takdir Cinta (END)
Novela Juvenil𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙛𝙤𝙡𝙡𝙤𝙬 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙜𝙪𝙮𝙨 ! Dia ALLEA KANIA FAJIRA seorang gadis barbar , periang , pemberani dan supel. Yang sehari-hari dipanggil Ale. Berubah seketika saat sesuatu yang tak pernah terbayangkan terjadi menimpanya. Ia mem...
