18.DINGIN

4.5K 177 7
                                        

Pagi hari Lea terbangun terlebih dahulu. Lea mengingat sesuatu yang terjadi semalam. Tiba-tiba pandangannya menjadi dingin. Ia melirik seorang laki-laki yang masih tertidur pulas disampingnya.

Lea menuruni kasur perlahan. Ia merasakan sakit diantara kedua pahanya. Lea berjalan ke arah lemari Elang mengambil sebuah baju dan celana karena bajunya sendiri sudah tak berbentuk sama sekali. Lalu Lea menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Ia terus melamun di kamar mandi. Ia terduduk dibawah pancuran shower.

'Gue udah ga suci. Gue kotor. Sesuatu yang gue jaga direbut paksa. Gimana perasaan ayah sama bunda jika tahu putri semata wayangnya ga bisa jaga diri. Gue cuman malu-maluin mereka. Gue ga bisa banggain mereka.' batin Lea

Lea terus saja terisak didalam kamar mandi. Sambil membersihkan tubuhnya. Walaupun selesai Lea masih memilih duduk dibawah guyuran air shower. Setelah tubuhnya merasa kedinginan Lea segera menyudahinya. Ia mulai mengunakan bajunya kembali. Lalu keluar kekamar mandi.

Ceklek,

Suara tersebut membangunkan seorang laki-laki yang masih tidur di atas kasur. Ya, Elang.

Elang mulai membuka matanya perlahan. Elang mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Lalu matanya seketika membulat. Ditatapnya gadis yang sedang memunguti bajunya .

Lea melirik Elang dengan tatapan dingin. Selesai memunguti baju yang berserak di lantai , Lea memasukkan bajunya ke sebuah paperbag yang entah iya dapat dari mana. Lalu Lea melangkahkan kaki untuk keluar dari ruang terkutuk itu.

"Le maafin gue." Ucap Elang penuh penyesalan.

Lea yang mendengar ucapan Elang berhenti dan berbalik.

"Untuk apa ?" Ucap Lea dingin.

Kini sudah mati sikap Lea yang ceria. Yang ada hanya Lea yang dingin.

"Semalam , itu gue bener-bener ga bisa kendaliin diri gue. Itu bukan kehendak gue Le."

Lea menyunggingkan senyum mengejek. Lea menatap tajam Elang .

"Lo pikir dengan permintaan maaf lo , Apa lo bisa ngembaliin apa yang udah lo rampas? Tidak ! Lo ga bisa balikin apa yang gue jaga selama ini." Lea berkata dengan nada tinggi. "Lebih baik lo jauh-jauh dari gue." Ucap Lea dengan nada dinginnya.

Elang sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan Lea. Memang benar dia tak bisa mengembalikannya. Elang mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Kini ia menjadi seorang bajingan yang merampas paksa kehormatan seorang wanita.

Karena merasa tak ada jawaban dari Elang, Lea melanjutkan langkahnya. Tapi lagi-lagi suara Elang terdengar.

"Gue akan tanggung jawab."

"Lebih baik lo ga usah lagi muncul dihadapan gue. Gue benci sama lo."

"Maksud lo ? Terus gimana dengan lo?"

"Dengan gue ? Itu cuman selaput dara. Gue ga akan mati cuman gara-gara kehilangan itu. Karena rasanya lebih buruk dari sekedar mati. Gue udah hancur berkeping-keping. Gue udah kotor." Ucap Lea dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan dalam hati.

"Lo." Elang geram. Ia berniat tanggung jawab tapi malah di tolak oleh Lea. "Gue ga habis pikir lo meremehkan hal yang penting seperti itu."

Ck! Such a bastard. Tidak ada satu orang perempuan didunia ini yang bersedia kehilangan keperawanannya untuk orang yang tidak ia cintai. Selama ini ia menjaga mahkotanya untuk suaminya kelak tapi malah dirampas dengan paksa oleh orang yang sedang berdebat dengannya. Dan dengan mudahnya ia bilang bahwa Lea menyepelekannya. Benar-benar gila. Dia seolah berkata bahwa dia korbannya sedangkan kenyataannya Lealah korbannya.

" Terus menurut lo gue harus apa ? Menangis dan mohon buat lo balikin semuanya? Apa lo bisa ? Gue capek mohon ke lo dari tadi malam. Apa lo pernah dengerin gue?" Ucap Lea dengan nada tinggi disusul dengan menetesnya sebulir air mata. Lea buru-buru menghapusnya dan berlari keluar ruangan.

Lea sudah tidak tahan berada disana . Ia terus saja mengingat bagaimana ia kehilangan mahkotanya dengan cara dipaksa.

Lagi-lagi Elang tak bisa menjawab. Dia membeku mendengarkan ucapan Lea. Ya dia sama sekali tak mendengar permohonan Lea, semalam ia sama sekali tak bisa mengendalikan dirinya berakhir dia merampas mahkota Lea.

Lalu dia tersadar Lea sudah berlari keluar. Ia segera memakai bajunya lagi dan segera berlari mengejar Lea. Ia tak akan membiarkan Lea pergi begitu saja.

Dia akan bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan kepada Lea. Tapi setelah sampai di depan gedung apartnya. Ia sama sekali tak menjumpai Lea. Lea udah pergi. Ia terus berlari menuju ke arah jalan Raya, lebih tepatnya di halte didepan gedung Apart nya. Dia berharap Lea masih ada disana tapi hasilnya nihil.

Elang terduduk dihalte.

"Lea. Maafin gue. Gue mohon lo bisa terima pertanggung jawaban gue. Gue menyesal Lea . Gue ga tahu kejadiannya bakal kek gini. Gue ga bisa ngendaliin diri gue Le." Gumam Elang.

Tanpa Elang sadari Lea berada di balik halte, Lea tahu bahwa Elang akan mengejarnya. Jadi dia bersembunyi disana. Lea mendengar setiap apa yang diucapkan Elang barusan. Lea membekap mulutnya agar isakannya tak terdengar.

Elang memutuskan kembali ke apartnya dengan lesu. Ia harus segera mencari tahu rumah Lea. Elang harus bertanggung jawab. Ia tidak mau meninggalkan Lea disaat seperti ini.

Setelah Elang pergi Lea segera keluar dari tempat persembunyiannya. Ia duduk di bangku halte. Ia menangis tersedu-sedu disana . Untungnya halte sangat sepi ia seorang diri disana.

"Sorry kak, gue ga semudah itu maafin lo. Lo udah melakukan kesalahan yang ga bisa gue maafin dengan mudah. Lebih baik lo jangan pernah muncul lagi dihadapan gue. Saat gue lihat lo , gue inget apa yang lo lakuin ke gue." Gumam Lea disela tangisnya.

Lea menunggu taksi agar dia bisa pulang dan beristirahat. Sebenarnya ia tidak tau bagaimana nanti dia akan menghadapi kedua orang tuannya.
Lea menghela nafas menenangkan dirinya. Ia tak mau orang tuanya khawatir kepadanya.

.

.

.

.

Tbc

Jangan lupa Voment.
Maaf jika ada typo
Tq.

ABOUT AFTER DARKNESS : Takdir Cinta  (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang