****
Semuanya akan berakhir bahagia jika diselesaikan dengan kelapangan dada dan keiklasan yang ditanamkan dalam hati.
****
Dengan wajah sedikit kesal Randu berjalan mendekati tempat dimana Auristela juga Charles berdiri. Ntahlah, Randu hanya tidak menyukai kala Auristela dekat dengan lelaki lain, ntah apa haknya dengan itu namun ia sangat tidak suka dengan wajah tengil milik Charles. Bak meremehkannya.
Di ikuti dengan Stefen, Ikram, Farhan juga Tebe dibelakangnya. Randu terus berjalan dengan mata yang tidak lepas dari Charles. Charles yang melihat itu tidak peduli lalu menyuapkan kembali ice cream yang digenggamnya.
"Hai Stela." Sapa Tebe dengan tersenyum.
Kelima sekawan itu telah sampai dihadapan Auristela dan dengan tanpa disangka Randu langsung memeluk Auristela. Bukan hanya Auristela namun Tebe, Ikram, Farhan juga Stefen sedikit terkejut akan hal itu. Charles yang melihat itu hanya memutar bola matanya.
"Kamu gak kenapa-napa kan dari ngomong sama Ayah kamu,aku khawatir." Ujar Randu masih dengan memeluk Auristela.
Mata Auristela bertemu dengan Farhan dan dengan hangat dibalas senyuman oleh Farhan. "Gue gak kenapa-kenapa semua baik-baik aja." Jawab Auristela.
Randu melerai pelukan mereka lalu menatap kedua netra indah milik Auristela. "Kamu gak dari nangis kan?"
"Dih apa sih pake aku-kamu an, geli tau gak lo." Sela Charles yang merasa aneh mendengar perkataan Randu. Bahkan ekspresi laki-laki itu terlihat seperti melihat hal yang menjijikan.
"Apasih lo reseh bae, iri bilang beban keluarga." Balas Stefen bahkan dibalas dengan wajah julid adalan Stefen.
"Palak lo beban keluarga, liat diri sendiri deh lo."
"Nyenyenyee."
Auristela hanya menggelengkan kepala mendengar percakapan kedua orang itu. Tanpa disadari Ikram tengah menatapanya. Terlihat ragu-ragu untuk bicara. Sejak tadi mulutnya terbuka lalu tertutup kembali.
Menghembuskan nafasnya Ikram maju selangkah lalu menarik lengan Auristela. Menggengam telapak tangan perempuan yang selama ini menyimpan luka lebih dari apa yang terlihat.
"Maafin semua kesalah Dhija ya Stela, gue tau seharusnya gue gak kaya gini. Kelakuan dia udah diluar nalar, gue bahkan gak nyangka dia bisa berbuat sekeji itu. Tapi, gue yakin sih lo pasti udah maafin semua kesalahan mereka."
Auristela yang mendengar itu tersenyum lalu ikut menumpukam sebelah telapak tangannya diatas telapak tangan Ikram. "Gue ngerti dan gue udah maafin semuanya, lo jangan ngerasa bersalah lagi. Gue udah iklasin semuanya."
"Gue tau lo baru mau mulai hubungan lagi sama dia kan, tapi sekarang lo kecewa sama perilaku dia. Percaya sama gue dia pasti juga nyesel dan bakal ngerubah diri jadi lebih baik. Dan mungkin pas saat itu dateng kalian bisa bareng lagi."
Ikram menggelangkan kepalanya, "Mungkin rasa sayang gue besar kedia, tapi kalo buat bareng lagi mungkin engga. Gue bakal milih jomblo."
"Halah lo, bilang aja mau kambuh lagi jadi playboy kan lo, ngaku lo. Baru aja tobat lo udah mau melancarkan aksi lagi, Istigfar broo." Ujar Tebe dengan mengelus dadanya dengan dramatis.
Dan langsung dijitak oleh Ikram, "Heh, omongan lo yee, minta di mutilasi lo hah?"
Ikram dan Tebe langsung terhenti kala Farhan memberi arahan untuk tidak dilanjutkan. Tebe memeletkan lidahnya mengejek Ikram yang nampak kesal.
"Udah jangan ribut disini, nanti tetangga keganggu." Ujar Farhan lalu merangkul bahu Auristela dan berjalan masuk kedalam apartemen perempuan itu meninggalkan semua kegaduhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURISTELA (SELESAI)
Jugendliteratur[REVISI] Mungkin tersenyum adalah hal tersulit yang tidak dapat dilakukan oleh seorang Auristela Chalondra. Tapi bagaimana jika takdir dengan senangnya mempermainkan perasaan Auristela. Membuatnya dapat tersenyum juga terluka secara bersamaan. Aur...
