****
Jangan lakukan sesuatu yang akan kamu sesali nantinya, jalani hidupmu dengan benar dan perbanyak bersyukurlah.
****
Apa kalian pernah berpikir sebelum melakukan atau mengatakan sesuatu, apa kemungkinan yang akan terjadi. Apa yang dirasakan oleh orang yang menjadi subjek dari perkataan juga perlakuan kita. Jikapun itu mungkin, kalian akan mulai berpikir ketika selesai mengatakannya kan?
Mungkin hampir semua orang memang dalam kodratnya menyadari setelah melakukan. Kadang mulut memang tidak dapat terkontrol, tapi mungkin kalian bisa berpikir sebelum bicara dan berbuat.
Bersikap baiklah pada orang lain walau ia mungkin tidak bersikap baik untuk kita. Jangan meminta balasan atau apapun atas sikap yang telah kita lakukan tapi berpikir mungkin nanti akan ada balasan yang lebih baik daripada apapun.
Seperti sekarang, nampak dua orang pasang laki-laki dan perempuan tengah membagikan beberapa bungkus nasi kepada orang jalanan yang mungkin tidak dapat mengisi perut mereka hari ini.
"Stela, selesai dari sini kita ke salah satu tempat favorit gue ya." ujar Farhan ketika ia juga Auristela tengah berjalan kearah mobil miliknya.
Auristela mengangguk, "Gue sih iya aja,"
"Gue kan nebeng." potong Farhan dengan cepat sebelum Auristela menyelesaikan kalimatnya.
Dengan ringannya Auristela memukul lengan Farhan dengan wajah kesal, "Iya deh iyaa." ujarnya.
Farhan hanya terkekeh melihat itu, setelah masuk kedalam mobil tiba-tiba handphine milik Auristela bergetar. Auristela menatap siapa yang tengah menelponnya dan tertera nama sahabat masa kecilnya disana. Dengan cepat ia menggeser bottom hijau dan mendekatkan handphonenya pada telinga.
"Iyaa, Waalaikumsalam, kenapa Chal?"
"Oh, gue lagi sama Farhan sekarang, udah gak usah nunggu balik aja lo sana."
"Iyaa gue tau, iyaa bawel ah, udah ya bye."
"Eh iya, Assalamualaikum." diakhir salamnya Auristela nampak terkekeh kecil.
Farhan yang mendengar itu sedijit mencuri pandang kearah Auristela, lalu berdehem kecil.
"Charles ya? Kedengerennya kalian deket banget." ujar Farhan dengan mata yang fokus kepada jalan raya.
"Bisa dibilang gitu lah ya." jawab Auristela lalu menyimpan kembali handphonenya pada tas selempangan yang ia bawa.
"Gue harap lo gak salah nilai orang ya Stela. Kita gak tau gimana orang itu sebenernya." Auristela tersenyum mendengar saran Farhan. Pasti, Auristela tahu Farhan pasti sedikit khawatir tentang hubungannya dengan Charles.
Auristela mengangguk dan menoleh kearah Farhan, "Kaya orang disamping gue ini, gue juga gak tau gimana lo sebenernya." ujar Auristela.
Farhan sedikit tersenyum dan dengan tiba-tiba mengelus puncak kepala Auristela, "Salah satu hal yang paling gak bisa dipercaya didunia ini, ya manusia. Jadi, jangan percaya sama apa yang diliat." Farhan menatap Auristela dengan tulus.
"Gue harap lo bisa terus jadi temen gue ya Han, karena gak semua orang bisa kaya lo ke gue sekarang."
"Gue temen lo, abang lo, sahabat lo. Lo bisa sebut gue apa aja, jadi jangan sungkan buat cerita ke gue." Setelah mengatakan itu, Farhan kembali memperhatikan jalan ketika lampu lalu lintas telah kembali berubah menjadi warna hijau.
****
"Lo tuh gak usah cari masalah, yang ada lo yang tambah malu. Goblok apa bego sih lo hah?!" teriak Karen pada lelaki dihadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURISTELA (SELESAI)
Ficção Adolescente[REVISI] Mungkin tersenyum adalah hal tersulit yang tidak dapat dilakukan oleh seorang Auristela Chalondra. Tapi bagaimana jika takdir dengan senangnya mempermainkan perasaan Auristela. Membuatnya dapat tersenyum juga terluka secara bersamaan. Aur...
