****
Banyak orang yang dengan lihainya menyembunyikan perasaannya. Dan tentu juga banyak orang bodoh yang tidak dapat mengenali perasaannya sendiri.
****
Auristela tengah berada di kantin saat ini. Dirinya sudah akan berjalan kearah perpustakaan tadi, namun bagai tak mengizinkan hal itu perutnya berbunyi meminta untuk di isi. Auristela yang sedang mencari tempat duduk mengitari seluruh kantin.
Auristela tersentak dengan sebuah tangan yang tiba-tiba telah berada pada pundaknya. Auristela menoleh dan mendapati Farhan berada di sampingnya.
"Katanya mau ke perpus?" tanya Farhan pada Auristela. Dibelakang Farhan telah berdiri, Randu, Stefen, Ikram dan Tebe.
"Tadinya sih gitu, tapi lambung gue gak ngizinin," jawab Auristela dengan cepat.
"Ya udah yok ke tempat biasa," ajak Ikram dengan menarik tangan Auristela. Auristela yang terkesiap hanya dapat mensejajarkan langkan dengan lelaki itu.
"Tarik aja nyampe lepas tangan gue." protes Auristela ketika telah duduk di salah satu kursi. Ikram hanya tersenyum kecil.
"Laper kan? Ya gue juga sama Stela, semakin cepet semakin baik kan?"
Auristela menggelengkan kecil kepalanya. Tanpa ia sadari Randulah yang duduk tepat di hadapannya. Ketika ia menaruh tangan diatas meja dan menatap orang yang ada di depannya. Tanpa disadari Auristela menahan nafas terkejut melihat Randu berada tepat di depannya. Kejadian malam itu kembali berputar dalam benaknya.
Auristela menggeleng, Randu yang melihat itu terdiam. Senyum jahil muncul dengan tiba-tiba.
"Lagi mikirin apa, hm?" Randu bertanya dengan menatap Auristela.
Auristela tersentak, "Gak ada," Auristela beralih dengan pada handphonenya yang sedari tadi bergetar.
"Really? You look like thinking bout me right now." Randu terkekeh melihat raut Auristela yang langsung menatapnya dengan tatapan memperingati.
"Jangan-jangan lo mikirin tentang tadi malem?" Randu terus memojokan Auristela, Auristela gelagapan bingung harus merespon apa.
"Kenapa emang tadi malem?" tanya Tebe.
"Gue yang cerita apa lo yang cerita?" bibir Auristela masih terkatup dengan kuat.
"Oke, gue yang cerita," Auristela sontak berdiri dengan cepat.
Namun tatapannya kembali pada ponselnya yang sedari tadi bergetar. Auristela menatap handphonenya dengan mata terkejut. Rasa senang telah melingkupi hatinya saat ini.
"Gue gak jadi makan deh, gue duluan." Auristela dengan cepat meninggalkan kantin, dengan langkah yang berayun ringan.
"Tadi malem ada kejadian apa Ndu, lo apain Stela?" tanya Tebe yang masih stuck dengan pikirannya.
"Gak ada, masalah pribadi," Randu tak dapat menyembunyikan senyumnya. Mengingat dengan jelas raut Auristela semalam juga hari ini.
****
"Halo kenapa Mah?" Karen menjawab telpon dari Sarah.
"Oh ya, oke, oke. Aku bakal siap-siap," senyum bahagia Karen tercetak.
"Iya Mah, ih aku seneng banget sekarang." Karen bahkan berjalan dengan girangnya.
Sampai sesosok lelaki menghadang jalannya. Karen memutar kedua bola matanya, "Ya udah Mah, Karen mau ke kelas dulu"
"Iya Mah Karen tau, Bye!" telpon itu terputus, tatapan tak bersahabat muncul pada sorot mata Karen.
"Apa lagi mau lo?" tanya Karen pada lelaki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURISTELA (SELESAI)
Teen Fiction[REVISI] Mungkin tersenyum adalah hal tersulit yang tidak dapat dilakukan oleh seorang Auristela Chalondra. Tapi bagaimana jika takdir dengan senangnya mempermainkan perasaan Auristela. Membuatnya dapat tersenyum juga terluka secara bersamaan. Aur...
