58. Kata Maaf

770 60 16
                                        

****
Lidah ini kelu ketika melihat wajahnya, jika bisa, mungkin aku akan menggunakan mesin waktu untuk mengulang segalanya. Dan mengerti lebih cepat apa arti perasaaan aneh yang terus muncul ketika didekatnya. Cinta.
****


Auristela berjalan seorang diri menuju gerbang, setelah mendengar penjelasan dari Randu, Farhan, Stefen, Ikram dan Tebe juga ditambah dengan drama seorang Karenina Mithaya. Dapat Auristela simpulkan bahwa segalanya telah dibongkar. Dan itu semua terjadi dengan tindakan orang yang tidak terduga. Dan diakhiri dengan putusnya hubangan Karen juga Randu.

Auristela terus berjalan, ia dapat melihat dengan jelas tadi saat Randu mencuri pandang kearahnya. Ya, sekarang Auristela dapat dikatakan sedikit risih dengan tindakan lelaki itu.

Dan satu fakta dimana ternyata yang menyebarkan segalanya adalah geng SMA Soroz. Ya, SMA Soroz, sekolah yang menaungi geng besar dengan nama The Cruel, kalau-kalau kalian lupa apa nama sekolah itu.

Perasaan Auristela masih sama, rasa yang ia simpan untuk lelaki bernama Randu itu masihlah sama. Tidak berkurang sedikit pun. Auristela telah menjanjikan pada dirinya sendiri bahwa akan segera mengubur perasaan itu apapun yang terjadi.

Ayunan langkah Auristela teehenti kala mendapatkan pelukan dari arah belakang. Auristela terdiam mencoba menerka siapakah orang yang tengah memeluknya kali ini. Jika bisa memilih, mungkin Auristela tidak ingin memilih Randu saat ini.

"Kenapa gue bego banget ya Stela, kenapa gue bisa gak tau lo semenderita ini disekolah." Auristela menghela nafas lega, Farhan lah orang yang tengah memeluknya saat ini.

"Udah gue bilang Han, semuanya bisa gue atasin dan gak semua rahasia bisa kita bagi ke orang lain." Auristela merasakan pelukan terlepas, Farhan membalikan tubuh Auristela hingga menghadap lelaki itu.

"Tapi Stela gue.."

"Gue ngerti Han, lo orang yang paling ngertiin gue di sekolah ini, lo temen terdeket gue. Gue ngerti gimana khawatirnya lo ke gue. Tapi, lo bisa liat gue sekarang, gue baik-baik aja."

Farhan sedikit menggeleng, "Gue bukan temen yang bisa jagain lo, gue gagal jagain lo Stela, gue gagal jadi temen lo."

Auristela tensenyum tipis lalu memegang pipi sebelah kanan Farhan. Farhan yang merasakan itu menatap perempuan yang berada didepannya itu.

"Lo gak gagal, lo tetep jadi temen terbaik gue Han." Farhan menggeleng dan kembali memeluk tubuh perempuan yang begitu rapuh dihadapannya.

Dengan tulus Auristela membalas pelukan Farhan, lelaki yang selama ini selalu mengerti akan dirinya dan selalu ada untuknya. "Lo tetep jadi temen terbaik gue Han, sampe kapanpun." ujar Auristela dn dapat ua rasakan pelukan Farhan yang semakin erat.

Randu yang melihat itu hanya dapat terdiam. Ingin hati untuk berada pada posisi Farhan saat ini, tapi, ia terlalu brengsek untuk itu. Ia terlalu bodoh sehingga tidak dapat melihat apa yang seharusnya ia lihat. Tidak dapat merasakan apa yang seharusnya ia rasakan.

Bisa kalian tahu, seberapa tidak peka dirinya akan perasaannya sendiri. Bahkan menjatuhkan diri pada perempuan yang ternyata hanya memacarinya dengan motif menyakiti orang lain. Bodoh, brengsek, kata apa lagi yang tepat untuk Randu saat ini.

Tebe yang terus memperhatikan Randu tergerak dan merangkul bahu sahabatnya itu. Randu yang meradakan rangkulan itu menolehkan kepalanya kearah Tebe dan hanya disabut dengan senyum oleh Tebe.

"Dari pada bengong gini mending kita kesana, minta maaf sama Stela karena kita udah salah paham sama dia. Tanpa kita sadar kita juga ikut menores luka dihati dia." Tebe menatap Stefen, Ikram juga Randu secara bergantian. Dapat di ketahui jawaban meraka hanyalah anggukan.

"Udahlah Kram, dari video itu kita bisa denger kalo Dhija cemburu makanya kemakn hasutan Karen." ujar Tebe ketika melihat wajah Ikram yang tidaklah baik-baik saja.

"Tapi itu gak bisa dimaklumin Be, itu udah keterlaluan." ujar Ikram dengan tegas.

"Gue tau, tapi, hati lo kan baru aja mau balik kedia. Hati lo pasti lagi gundah."

"Dahlah, mending kita kesana sekarang sebelum Stela pulang. Urusan gue gak penting."

"Udahan kali Han pelukannya." ujar Stefen saat mereka telah sampai didekat Farhan juga Auristela.

Auristela menatap ke empat lelaki yang sekarang berada tepat dihadapannya ini.

"Jadi, Stela, kita mau minta maaf banget sama lo. Kita selalu salah paham sama lo, kita gak pernah mau denger penjelasan lo. Kita emang sebrengsek itu." ujar Stefen dengan menaruh telapak tangannya pada dadanya dengan kepala tertunduk.

"Dih, lo kali yang brengsek kita kaga." ujar Tebe saat mendengar kata-kata Stefen.

Dan disaat itu juga Tebe mendapat tonyoran dari Stefen, "Heh, gak salah lo? Sok suci lo." ujar Stefen.

"Gue minta maaf Stela, seharusnya gue gak mojokin lo saat itu. Gue terlalu dibutai sama perasaan sampe-sampe gak bisa liat keadaan." Ikram maju dn menepuk bahu Auristela beberapa kali.

"Lo mau kan maafin gue." Auristela mengangguk dan tersenyum.

"Terkadang memang perasaan hati selalu diproritasin tanpa sadar Kram, gue maklum." Auristela mengatakan itu dengan tulus sampai-sampai Ikram hendak memeluk perempuan itu.

Sebelum sampai memeluk Auristela Stefen dengan cepat menghalangi, "Heh, mau apa lo hah? Main mau peluk-peluk aja emang lo sapa hah?" Ikram hanya memasang wajah datar melihat wajah Stefen lalu tanpa hati mendorong kepala Stefen dengan cukup keras. "Tai lo." umpat Stefen.

Tebe mengulurkan tangannya kearah Auristela dengan tersenyum, "Gue minta maaf yang sedalamnya Stela, gue juga udah mojokin dan salahin lo kemarin."

Auristela membalas uluran tangan Tebe, "Gak papa kali, santai aja."

Dan dengan tidak tahu dirinya Stefen mendorong Randu hingga sesikit mendekat pada Auristela, "Buruan minta maaf oon." bisik Stefen.

Randu menggaruk lehernya yang bahkan tidak terasa gatal sama sekali, setelah itu pergi tanpa mengatakan apapun.

Stefen tersenyum dan sedikit tertawa yang sangat terlihat dibuat-buat ketika melihat Randu yang melangkah pergi, "Jadi, lo masih mau jadi temen kita kan?" tanya Stefen.

"Kayanya gue gak bisa, kita gak bakal bisa jadi temen kaya sebelumnya." ujar Auristela dengan suara yng tak getar sedikitpun.

"Lah, kenapa gitu?"

"Gue gak percaya sama ikatan itu."

"Chal! Yuhuu!" teriak Charkes dari luar gerbang. Auristela berblik dan membalas lambaian tangan Charles seraya tersenyum.

"Gue duluan ya." ujar Auristela lalu meninggalkan Stefen, Farhan, Ikram juga Tebe.

Farhan yang melihat itu terdiam, ya, ia tahu jika hubungan Auristela dengan Charles lebih dari kata teman biasa. Terlihat dari seberapa marah Cjarkea jika itu bersangkutan dengan Auristela.

"Yuk balik." ujar Farhan dan diikuti oleh Stefen, Ikram juga Tebe.

Sesampainya di parkiran Farhan langsung berjalan kearah Ransu yang terlihat melamun disana, "Kenapa, gak bisa ngomong apa-apa ke dia?" tanya Farhan. Randu hanya diam lalu menaiki motornya dan segera melajukan kendaraan beroda dua itu.

Randu sempat melihat Auristela dengan Charles didekat gerbang, hatinya memanas tapi ia tidak dapat melakukan apapun. Ia bukan siapa-siapa. Bahkan ia sempat berpikir, mungkin Auristela tidak akan memaafkannya atas segala kesalahannya. Ya, mungkin dirinya jugalah yang menores luka dalam dihati perempuan itu dan tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf. Bukan, bukan tidak tahu namun tidak mampu untuk mengucapkannya.









Makasih banget buat kalian yang udah mau dukung cerita ini. Thank you sooo much.

See you guys!









NendyBudiman

AURISTELA (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang