Rabu, 30 Juni 2021
↪Part ini lumayan panjang karena menjadi part terakhir di flash back.
Bahagia, saking bahagianya sampai harus ada yang di korbankan.
.
.
.
Bulan bulan berlalu dengan cepat, dari yang tadinya masih berada di pertengahan kelas 9. Kini sudah mencapai tingkat ujian Nasional, ujian kelulusan Smp.
Wajah yang dulunya lembut dan halus sekarang perlahan kasar beriring dengan beberapa bekas sobekan di bibir dan matanya.
Bagas memperhatikan namanya yang tercantum di kartu ujian itu, ujian yang akan di laksanakan besok. Di tangannya juga memegang kalung penanda peserta ujian sekolahnya. Beberapa hari lagi ia akan lulus Smp dan lanjut ke jenjang Sma.
Namun perasaannya tetap tidak senang dan tenang. Disaat dirinya dan teman sebayanya bersiap dengan ujian ini. Memilih sekolah selanjutnya yang ingin di tuju.
Di seberang sana, seseorang yang harusnya juga mendapat kartu ini malah hanya bisa melihat status temannya lewat handpone. Dia justru mempersiapkan hari hari menuju persalinannya.
Bagas menunuduk getir, harusnya ia juga tidak usah melanjutkan sekolah seperti Rara. Perempuan itu putus melanjutkan sekolah di rumah. Tidak punya teman dan sendiri.
Drt drt!
Getaran di handponenya membuat Bagas mengalihkan pandangannya, cowok itu meletakan kartu ujianya ke meja dan berdiri mengangkat panggilan itu.
"Hal--"
"Halo Bagas! Selamat ya, besok mau ujian nasional! Semangat belajarnya! Jangan main hp mulu! Jangan banyak kerja! Tidurnya jangan malam malam! Jangan begadang! Satu lagi, jangan nyontenk! Hehe.."
Bagas menjauhkan handponenya lalu mengusap air matanya, menarik nafas berat. Ia mengatur agar suaranya tidak terdengar serak.
"Halo Bagas! Kok diam aja? Rara ganggu ya, maaf. Yaudah Rara mat--"
"Jangan" potong Bagas cepat.
"Suara Bagas kok serak? Bagas sakit?" tanya Rara di seberang sana.
Bagas terdiam, telapak tangannya di tempelkan di jendela yang berembun karena hujan di luar.
"Di rumah kamu hujan gak?"
Hening sejenak hingga Rara kembali bersuara. "Hujan, deras banget malah" jawab Rara.
"Coba kamu ke jendela" ujar Bagas lembut.
"Ngapain?" tanya Rara terdengar bingung.
"Tempelin tangan kamu ke jendela, terus pandang bulan di langit" titah Bagas sambil memandang langit hitam di luar sana.
"Gak ada bulannya. Gelap, gak ada cahaya apa apa di langit" balas Rara.
"Sama."
Di seberang sana, Rara mengerutkan keningnya bingung. "Terus kenapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BagasRara [END]
Teen FictionSpin off Young Parents [Bisa dibaca terpisah] _____ Menjadi seorang Ayah di usia muda tidak pernah terlintas dalam benak Bagas. Namun karena satu kesalahan yang tidak sengaja dilakukannya, ia benar-benar menyandang status sebagai ayah sekaligus sua...
![BagasRara [END]](https://img.wattpad.com/cover/256156458-64-k876125.jpg)