Rara menghembuskan nafasnya untuk yang ke sekian kali, matanya menatap jendela yang sudah menampakkan sinar yang terang. Jam dinding menunjuk pukul 7 pagi, masih ada waktu untuk sekolah.
Ia melirik perutnya sendiri lalu terdiam sebentar, seragam sekolahnya ini masih muat. Jelas, dari segi badan belum ada yang berubah. Ia masih seperti dulu, kecil dan mungil.
"Ini Non susunya, di minum ya biar ada vitamin"
Bi Ani meletakkan segelas susu penuh ke hadapan Rara kemudian tersenyum kecil. "Biskuit nya udah bi--"
"Bibi ngapain sih?" potong Rara tak suka.
Bi Ani kembali tersenyum. "Di minum dan di makan ya, Non. Biar ana--"
"Gak ada!" Rara motong ucapan wanita paru baya tersebut kemudian menenteng tas nya berdiri. "Gak usah ada usaha untuk mempertahankan anak ini, aku sendiri gak mau. Dan aku akan mencari cara lain biar dia gugur" ujarnya melangkah pergi tanpa menyentuh susunya.
Bi Ani menatap sendu punggung majikannya yang sudah hilang masuk ke dalam lift. Ia mengambil gelas susu itu dan berjalan ke bawah lewat tangga.
Sementara di bawah, Rara berjalan keluar rumah menuju garasi mobilnya. Ia memanggil Pak Akbar cukup keras hingga pria tua itu muncul tergesa ke hadapannya.
"Maaf, Non Rara. Mari naik ke mobilnya" ucap Pak Akbar.
"Rara yang nyetir, Pak Akbar duduk di samping Rara" ujar Rara santai.
"Gak bisa, Non. Nanti Tuan marah" tolak Pak Akbar menggeleng.
Rara merenggut kesal. "Yaudah, mobilnya biar Rara yang bawa sendiri. Ini kan emang mobil Rara yang dibeliin Papah" ucapnya hendak membuka pintu mobil mini berwarna pink itu namun di cegah Pak Akbar.
Pria paru baya tersebut meringgis bingung. "Belum boleh, Non. Nanti kalau udah Sma baru boleh, sekarang saya antar saja ya. Saya yang nyetir, kaya biasa. Non duduk di belakang" ujar Pak Akbar tersenyum.
"Gak mau!" Rara menatap tajam satpamnya sambil memasang wajah masam.
"Ini sudah siang, Non. Mari ke sekolah keburu telat" ucap Pak Akbar lagi. Meski sejujurnya ia bingung dengan sikap anak majikannya ini.
"Pulangnya Rara yang bawa" balas Rara mutlak. Pak Akbar mengangguk saja, yang penting urusan pagi ini selesai.
Setelah mengatakan itu, Rara membuka pintu mobil belakang dan masuk ke dalamnya, kemudian diikuti Pak Akbar yang menyetir.
Mobil itu melaju santai tanpa suara, hingga pandangan Rara menatap seseorang yang tengah jalan sendiri. Ia membuka kaca mobilnya lalu mengeluarkan sedikit kepalanya melihat orang itu.
"Pak Akbar liat deh, ada yang jalan kaki. Sendiri lagi!" teriaknya membuat orang itu menoleh.
Pak Akbar pun ikut menoleh sambil meringis. Salah makan apa dah Non Rara, batinnya heran.
"Pak Akbar liat sini!" teriak Rara lagi.
"Gak boleh gitu, Non" tegur pria paru baya tersebut.
Rara mencebikkan bibirnya dan menutup kembali kaca mobilnya. Ia membalikkan badannya melihat orang yang sudah tertinggal jauh di belakang, orang itu tetap berjalan sambil memperhatikan mobilnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BagasRara [END]
Teen FictionSpin off Young Parents [Bisa dibaca terpisah] _____ Menjadi seorang Ayah di usia muda tidak pernah terlintas dalam benak Bagas. Namun karena satu kesalahan yang tidak sengaja dilakukannya, ia benar-benar menyandang status sebagai ayah sekaligus sua...
![BagasRara [END]](https://img.wattpad.com/cover/256156458-64-k876125.jpg)