Happy Reading ❤
***
"Jangan pernah kamu menemui anak dan keluarga itu lagi! Ibu gak akan terima jika mereka kembali menghina kita" tandas Surti membuka pintu rumahnya dan masuk lalu duduk di kursi.
Ia mengatur nafasnya berat, dadanya masih sesak atas perlakuan orang kaya itu. Sementara Bagas yang mengikuti dari belakang hanya bisa menunduk, orang tua mereka pun tau gak membuat masalah selesai. Malah semakin runyam.
"Benar benar sombong mereka. Belum aja kena azab" gerutu Surti lagi sambil berkipas.
"Ibu gak mau punya besan seperti mereka, bisa mati berdiri dengar hinaannya"
Lalu pandangan wanita itu beralih menatap anaknya. "Berhenti berjuang untuk bertanggung jawab, Bagas. Mereka yang menolak. Biar mereka rasakan sendiri menanggung malu atas aib anaknya" ujar Surti.
Bagas mengambil duduk di samping ibunya lalu menggenggam tangan itu erat. "Ibu kan yang ngajarin Bagas biar jadi lelaki yang bertanggung jawab. Bagas gak bisa lepas tangan begitu aja. Anak yang dikandung Rara juga bukan aib, bu. Anak itu gak salah. Bagas cuma mau nebus kesalahan Bagas" ucapnya menatap Surti teduh.
"Kamu memang di ajarkan agar menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Tapi bukan berarti kamu bisa diam aja dihina dan di rendahkan orang lain. Dengan kamu berani jujur ke orang tua gadis itu, menurut Bapak itu sudah cukup" sahut Abdul yang berdiri di dekat pintu.
Dia sejak tadi memperhatikan percakapan anak dan istrinya. Dirinya marah atas perlakuan mereka, namun anaknya ini kekeuh. Kekeuh meski sudah dihina. Ck, terbuat dari apa hati anaknya.
Surti mengangguk menyetujui ucapan suaminya. "Seperti yang kamu bilang, kamu di jebak. Oke Ibu percaya kalau kamu di jebak teman jahanam kamu itu. Di sisi lain, berarti itu memang bukan kesalahan kamu. Tidak ada yang perlu di pertanggung jawabkan, semuanya selesai disini. Keluarga Rara lebih memilih melihat anaknya hidup tanpa suami, dan itu pilihan mereka."
"Tugas kamu untuk mencoba tanggung jawab selesai sampai sini. Mereka gak butuh kamu" lanjut Surti.
Bagas menggeleng, semakin menggenggam tangan ibunya. Ia menatap Abdul dan Surti bergantian. "Gak bisa, bu. Kasihan Rara" balasnya sendu.
"Kasihan Rara tapi kamu gak kasihan diri kamu sendiri. Liat ini.." Surti menujuk wajah lebam anaknya. "Karena si tua bangka itu, muka ganteng kamu jadi rusak. Belum puas, dia juga menghina orang tua kamu. Dan kamu terima? Terima di rendahkan?" lanjutnya bertanya.
Tidak ada jawaban apapun membuat Surti melepaskan tangan Bagas lalu berdiri meninggalkan ruang tamu itu diikuti Abdul.
"Lebih pilih orang tua kamu atau gadis itu, ibu kasih pilihan"
Suara Surti terdengar dari dapur.
"Bagas gak bisa milih" balas Bagas pelan.
Cowok itu memandang lapangan yang memang berada di depan rumahnya. Pikirannya berkecamuk, di umurnya yang masih lima belas tahun mengapa harus di hadapan dan di pusingkan masalah serumit ini.
Ini bukan umurnya.
Ia harusnya seperti remaja lain. Main dan menikmati masa muda dengan tenang, bukan malah memikirkan masalah yang jauh dari umurnya sekarang.
Dia tidak ada bahan, tidak ada pengalaman apa apa. Tidak ada orang yang bisa di ajak cerita. Semua masalah ini di pendam sendiri. Lalu bagaimana cara menyelesaikannya.
Kedua orang tuanya tidak mendukung, begitupun kedua orang tua Rara. Bahkan Rara-nya pun tidak bisa membantu mencari solusi.
Menggugurkan anak itu. Anak kandungnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
BagasRara [END]
Teen FictionSpin off Young Parents [Bisa dibaca terpisah] _____ Menjadi seorang Ayah di usia muda tidak pernah terlintas dalam benak Bagas. Namun karena satu kesalahan yang tidak sengaja dilakukannya, ia benar-benar menyandang status sebagai ayah sekaligus sua...
![BagasRara [END]](https://img.wattpad.com/cover/256156458-64-k876125.jpg)