64

11.6K 452 6
                                        


Happy Reading 🍂

"Ma?" Zafia membawa Tari sedikit menjauh dari pintu kamarnya. Kemudian menggenggam tangan Tari dengan mata penuh harap. "Mama tahu sesuatu, 'kan? Ayo, Ma. Cerita sama Zaf."

"Cerita apa, Sayang? Tahu sesuatu apa?" tanya Tari belum mengerti sepenuhnya ucapan Zafia.

"Alasan Kak Al. Mama tahu mengenai penjelasan yang selama ini Kak Al tutupi, 'kan?" tanya Zafia dengan nada mendesak.

Tari sedikit gugup dengan tatapan Zafia padanya. "B-bukan Alfa yang menutupinya, Nak. Tapi Alfa menghargai kamu, sampai kamu siap mendengar penjelasan dia."

"Iya, begitu. Sekarang Mama jelasin sama Zaf. Jangan buat rasa bersalah Zaf lebih besar pada Kak Al, Ma. Zaf butuh penjelasan. Mama tahu sesuatu, 'Kan?" tanya Zafia dengan harapan lebih besar.

Tari yang gugup terlihat menghela nafas pelan. "Alfa ingin dia yang menjelaskan padamu. Mama tidak bisa ikut campur masalah kalian."

"Kak Al nggak mungkin bisa jelasin sekarang, Ma. Kak Al masih sakit. Zaf butuh penjelasannya sekarang. Zaf bingung, Ma. Zaf harus gimana?" tanya Zafia diikuti lelehan air mata di pipinya.

Tari mengusap pipi Zafia. "Tunggulah Alfa sehat, Zaf. Hargai keputusan dia yang ingin memperbaiki hubungan kalian tanpa campur tangan orang lain."

"Tapi Mama bukan orang lain." Zafia menunduk dengan tatapan sendu.

"Bersabarlah. Kamu pasti bisa." Tari memeluk Zafia erat. Ingin rasanya Zafia kembali mengajukan protes dengan ucapan Tari. Namun, urung saat melihat pintu kamarnya terbuka.

Tari dan Zafia segera mendekat ke sana setelah mendapati Dokter keluar.

"Bagaimana kondisi Suami saya, Dok?" tanya Zafia dengan raut khawatir yang tidak bisa disembunyikan.

"Kondisi Tuan Alfa masih kurang baik, Nyonya. Saya terpaksa memasang infus di dalam. Ini resep obat yang harus ditebus di Rumah Sakit atau klinik terdekat." Dokter paruh baya yang merupakan Dokter kepercayaan keluarga Wisnu di Jakarta itu memberikan selembar kertas yang berisi resep obat Alfa.

"Tuan ingin menemui Nyonya di dalam. Mungkin sebentar lagi Tuan akan tertidur karena reaksi obat yang sudah saya suntikan ke botol infusnya. Setelah bangun nanti sebaiknya Tuan segera diberi makan, setelah itu obatnya segera diminum. Jika sampai nanti malam kondisi belum stabil, Nyonya bisa menelfon saya atau langsung membawa Tuan ke Rumah Sakit terdekat," jelas Dokter itu panjang lebar.

Zafia dan Tari hanya menganggukkan kepalanya. Tari mengambil kertas yang berisi resep obat tadi dari tangan Zafia, "Biar Mama yang tebus."

Zafia menganggukkan kepalanya.

"Mari saya antar, Dok," ucap Tari sambil berjalan mendahului Dokter tadi.

Zafia melangkahkan kakinya memasuki kamar. Pandangannya langsung tertuju pada netra Alfa yang ternyata tengah menunggu kehadirannya. Segera ia berjalan dan menaiki kasur di sisi Alfa.

"Kakak harus sembuh. Kakak hutang penjelasan padaku," lirih Zafia kemudian membenamkan wajahnya di pelukan Alfa.

Alfa hanya bisa tersenyum tipis. Matanya sudah enggan untuk terbuka. Berat sekali rasanya. Terlebih rasa pusing yang menjadi pelengkap kesengsaraannya.

"Tidurlah, Kak." Zafia mendongak, menatap Alfa.

Alfa menggeleng pelan. "Nanti kamu ninggalin Kakak kayak tadi," suara lemah Alfa menjawab.

Zafia menggeleng. Kembali ia memeluk Alfa dengan erat dari samping. "Aku akan terus begini. Aku nggak akan ke mana-mana sebelum Kakak bangun dan sembuh."

Gadis Kedua Guru Olahraga [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang