Happy Reading 🍂
Hari ini Zafia berencana ingin mengajak Dinda mencari kado ulang tahun untuk pernikahan Kartika dan Bima. Sebenarnya Alfa sudah menawarkan diri untuk mencari kado itu bersama. Tapi, Zafia menolak dengan alasan ini masalah wanita.
Saat ini Zafia sedang mengantarkan Alfa untuk ke kantor. Hanya sebatas teras saja. Di rumah pun hanya tinggal Zafia sendiri. Sedangkan Syifa sudah dibawa Tari dan Wisnu pulang duluan ke Medan.
"Kakak pulangnya jam lima, ya. Kamu harus udah ada di rumah. Jangan kemana-mana tanpa izin Kakak. Habis dari Mall langsung pulang. Cuma sama Dinda, 'kan?" tanya Alfa sambil menggandeng tangan Zafia menuju teras.
Zafia menjawab saat sudah sampai teras, "Cuma berdua, Kak. Lagian aku perginya pagi ini. Mungkin sebelum zuhur udah di rumah."
"Nanti kalau kamu ngerasa pusing di jalan, atau gejala-gejala trauma kamu itu, langsung pulang aja. Takutnya kamu pingsan dan cuma berdua lagi sama Dinda," ucap Alfa sambil mewanti-wanti Zafia.
"Nggaklah. Kemarin 'kan udah nggak kaget lagi waktu terapi bareng Kakak," ucap Zafia dengan senyuman di wajahnya.
"Iya, deh. Kakak berangkat dulu. Inget pesan Kakak tadi," ucap Alfa sambil mengecup kening Zafia. Diambilnya tas kerja itu dari tangan Zafia dan berjalan ke arah mobil yang sudah dipanaskan oleh securitinya tadi.
Langkah Alfa terhenti saat melihat seseorang memaksa masuk dari gerbang rumahnya. Zafia pun mendekat ke arah Alfa saat melihat seseorang itu.
"Maaf, Tuan. Tuan ini memaksa masuk," ucap Securiti Alfa sambil menundukkan kepalanya.
"Biarkan dia masuk, Pak." Securiti itu mengangguk paham. Kemudian berbalik menuju tempatnya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alfa dengan nada datar. Tangannya buru-buru menarik pinggang Zafia untuk lebih merapat ke arahnya. Seakan menunjukkan kalau Zafia adalah miliknya.
"Hari ini jadwal terapi Zafia, Tuan. Bukan begitu, Zafia?" tanya Rizal sambil tersenyum ke arah Zafia, namun memasang wajah malas pada Alfa.
"Zafia sudah sembuh. Sebaiknya Anda pulang," ucap Alfa masih dengan nada datar.
"Tapi, pemeriksaan terakhir Zafia belum dilakukan 'kan, Tuan? Pihak Rumah Sakit belum memberikan kabar untuk menghentikan proses terapi Zafia," ucap Rizal.
"Mungkin mereka belum memberitahumu. Kemarin kami sudah periksa ke Rumah Sakit. Jadi, sekarang sebaiknya Anda pergi," ucap Alfa makin mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Zafia.
"Lancang sekali Tuan mengatakan itu," ucap Rizal dengan nada sinis.
"Saya suaminya," tegas Alfa sambil menatap tajam Rizal.
Rizal tertawa pelan, "Sepertinya kalian kompak sekali mengatakan status itu. Pernikahan adalah suatu hal yang sakral. Kalian tidak berhak mempermainkannya."
"Dan Anda lebih tidak berhak mengkhianati istri Anda dan menghamili simpanan Anda. Ups ... Istri siri Anda maksud saya. Bahkan, Istri siri Anda yang sedang hamil ingin menggugurkan kandungannya, ya?" tanya Alfa dengan nada sinis.
"Kak." Zafia memegang lengan Alfa.
"Pergilah. Tugasmu sudah selesai di sini. Jangan pernah menginjakkan kakiku di halaman rumah saya, apa pun alasannya," tegas Alfa kembali ke nada datarnya.
Wajah Rizal sudah memerah. Di luar dugaannya. Rupanya dua orang di depannya ini sudah mengetahui sisi lain dalam dirinya.
"Biarkan saya mengecek ulang Zafia. Dia tanggung jawab saya sebelumnya," ucap Rizal sambil mendekat ke arah Alfa dan Zafia.
"Selangkah kamu mendekati kami, jangan larang tanganku menghantam tubuhmu," ucap Alfa masih dengan nada sama.
Tak mengindahkan ucapan Alfa, Rizal tetap mendekati Zafia. "Biar aku memeriksamu, Zaf."
Kreek!
"Arrggh!"
"Jangan berani menyentuh istriku!" teriak Alfa dengan tangan menggelintir lengan Rizal ke belakang punggungnya.
"Lepas! Tanganku akan patah!" teriak Rizal berusaha berbalik arah dan membalas Alfa. Namun usahanya sia-sia, karena Alfa lebih unggul darinya.
"Berjanjilah Anda akan keluar dari sini dan tidak akan mengganggu rumah tangga saya lagi," ucap Alfa masih menggelintir tangan Rizal.
"Iya! Saya janji!"
"Berjanjilah jangan buat istri siri mu mendekatiku lagi, atau gelar Dokter tidak akan tersemat kembali pada dirimu," ucap Alfa kembali dengan tegas.
"Apa hubungannya dengan Siska? Anda mengenalnya?" tanya Rizal di tengah rasa sakitnya.
"Berjanjilah mengatakan itu, atau tanganmu akan kupatahkan dari tubuhmu!" ucap Alfa sedikit memekik. Rizal hanya mengangguk karena sakit di tangannya lebih mendominasi.
"Kak Al?" Zafia memandang Alfa dengan mata berkaca. Suara terdengar bergetar di telinga Alfa. Segera Alfa melepaskan tangan Rizal dan memintanya pergi.
"Zaf ..."
"K-Kak?" Zafia sedikit mundur saat Alfa mendekatinya. Ia tidak menduga Alfa bisa berbuat sekasar itu. Ia sedikit takut dekat dengan Alfa sekarang.
"Jangan takut, Sayang. Kakak tidak akan melukaimu," lirih Alfa terus mendekati Zafia.
Akhirnya Zafia membiarkan Alfa mendekat dan memeluknya. Tangis Zafia tidak terbendung. Dia memecahkan tangisnya di dada bidang Alfa.
"Jangan takut. Kakak minta maaf," ucap Alfa sambil mengusap kepala Zafia.
"Jangan diulangi. Zaf takut," cicit Zafia sambil melepaskan pelukannya. Alfa menganggukkan kepalanya, kemudian mengecup kening Zafia lama.
"Kalau dia atau Siska datang ke sini, kamu langsung telepon Kakak, ya. Jangan keluar kamar, ngerti?" tanya Alfa yang dibalas anggukan oleh Zafia.
"Kakak berangkat sana. Pasti udah telat, ya?" ucap Zafia sambil melihat jam tangan di pergelangan tangan Alfa.
"Apa Kakak nggak usah kerja aja, ya? Kakak nggak akan fokus kalau lihat kamu kayak gini. Kamu pasti syok lihat Kakak tadi. Kamu takut Kakak, ya?" tanya Alfa sambil menarik pinggang Zafia dan mendekatnya padanya dalam posisi berhadapan.
Zafia menggeleng, "Nggak. B aja, tuh."
"Dih, tadi nangis, tuh?" tanya Alfa sambil menjawil hidung pesek Zafia.
"Cuma akting. Biar dia cepet pergi dan Kakak nggak perlu sakiti tangan Kakak buat pukul dia," ucap Zafia sambil memainkan tangannya di dada bidang Alfa.
"Dih, masa?" goda Alfa sambil mendekatkan wajahnya pada Zafia.
"Iya, takut dikit," jawab Zafia sambil mengedipkan matanya.
"Kakak jadi males kerja, deh. Kamu kayaknya lagi asik goda Kakak," ucap Alfa lebih mendekatkan wajahnya.
"Iihh, kerja sana. Kakak itu Bos di kantor, jadi harus disiplin," ucap Zafia mendorong dada bidang Alfa agar menjauh.
"Kamu dulu anak donatur terbesar di sekolah, tapi masih berani bolos, tuh," ucap Alfa dengan senyum menggoda.
"Iih, itu beda. Udah sana kerja."
"Iya, oke. Sampai ketemu sore nanti, Sayangku." Alfa mengecup pipi Zafia kilat kemudian berjalan menuju mobilnya.
Zafia tersenyum menatap mobil Alfa yang mulai meninggalkan halamannya. Segera ia masuk ke dalam dan mengganti pakaian, setelah itu pergi ke rumah Dinda.
Sebenarnya Denzi juga akan ikut nanti. Tapi Alfa melarang keras lelaki itu, dengan alasan Zafia alergi cowok jomblo. Makanya, Denzi yang sakit hati dengan Alfa memilih untuk memberi kejutan buatnya nanti.
Apakah itu? Belum ada yang tahu.
.
.
-Tbc-
Jngn lupa vote&komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Kedua Guru Olahraga [ END ]
Ficción GeneralBagaimana ketika siswi SMA menikah dengan guru nya karena terjadi kesalahpahaman? Bahkan guru yang mengajar mata pelajaran olahraga tersebut sudah mempunyai istri bahkan mereka sudah dikaruniai seorang putri? Dan apa alasan istri pertamanya rela sua...
![Gadis Kedua Guru Olahraga [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/235745520-64-k775587.jpg)