"Assalamu'alaikum, aku pulang."
Reina memasuki mansion dengan keadaan lesu karena kelelahan. Ruang keluarga tampak ramai, sepertinya semuanya sudah berkumpul.
"Loh? Kakak udah pulang? Kenapa cepet banget," ucap Reina yang melihat Salsabila sudah sampai di rumah. Reina duduk di samping Salsabila dan Fadly.
"Kamu kok lama banget pulangnya? Kakak kira kamu kenapa-napa tadi." Salsabila nampak khawatir.
"Ya ... emang apa masalahnya? Rein gak kenapa-nap-"
"Jangan dibiasain ya Reina. Abang gak suka kamu kayak gini, apalagi gak ada ngabarin sama sekali. Kamu kira Abang gak khawatir?" Fadly memotong ucapan Reina.
Reina tertegun, dia jarang sekali dikhawatirin hanya karena pulang telat. Reina merasa asing, dulu biasanya hanya teman-temannya di Amerika yang begitu.
Walaupun Fadly dan Salsabila menyayangi Reina, tidak seperti yang lainya. Tapi dulu mereka tidak tinggal di satu atap, jadi Reina tidak pernah diperhatikan seperti itu.
"Iya."
Reina membuka tutup botol minuman kopi, ketika hendak meminumnya Fadly menahannya. "Jangan sering-sering minum itu, apalagi kalo belum makan nasi." Fadly melarangnya.
"Makan sana dulu." Fadly merebut botol minuman itu dari tangan Reina. "Ini Abang balikin kalo kamu udah makan." Fadly menyita minuman Reina.
"Lagian Abang heran, perempuan kok suka banget sama kopi," ucap Fadly lagi.
"Namanya enak, gimanasih! Rein dari dulu udah suka," ucap Reina sambil membuka satu bungkus permen kopi. Fadly melotot dan merebut permen itu dari Reina.
"Adeek, udah dibilang makan dulu baru konsumsi ginian. Nanti kamu sakit," ucap Fadly sambil menatap Reina tajam. Reina hanya menatap malas Fadly.
"Telat, Rein udah habisin lima tadi," ucap Reina dengan santainya. Fadly yang mendengar itu sontak merebut tas yang Reina pakai dan langsung merogoh isinya.
"Abang apa-apaan! Balikin gak!" Reina merasa tidak terima. Dengan seenaknya Fadly membongkar tasnya.
Lalu Fadly menemukan satu bungkus plastik kemasan kopiko yang isinya masih ada beberapa biji lagi permen. Fadly menatap Reina dengan tatapan dingin.
"Yaampun Reina, dasar maniak kopi." Salsabila sampai menjewer telinga Reina dengan kuat. Reina mengaduh kesakitan.
"Aduh aduh, ya emang kenapa sih! Selama ini juga biasa aja, adoh!" Reina berusaha melepaskan jeweran Salsabila.
"Ini Abang sita sampe besok, hari ini kamu jangan konsumsi permen ini dulu. Lama-lama overdosis permen, tau rasa." Mendengar ucapan Fadly, Reina merengut kesal.
"Gapapa, Rein beli lagi, kok payah." Reina beranjak dari kursinya. "Itu Kakak sama Abang-abang Rein gak masalah, kok Abang yang repot." Reina menunjuk ketiga saudaranya yang tidak berguna.
Mereka memang tidak berguna bagi Reina. Statusnya saja yang sebagai saudara Reina, tapi sikap mereka tidak menunjukkan seperti itu.
Fadly hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa Reina susah sekali di kasih tau, pikir Fadly.
"Tadi kenapa Papa sibuk kali nyuruh Rein pulang?" Kali ini pandangan Reina mengarah kepada Mahardika.
"Ya itu Salsa yang meminta Papa untuk menelponmu," ucap Mahardika tanpa mengalihkan pandangan ke arah Reina. Reina hanya ber-oh ria. Dia sudah menduganya sejak awal, mana mungkin ayahnya menelponnya dengan inisiatif sendiri. Pekerjaan lebih penting dari pada dirinya, begitu pikir Reina.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is Rein | End
Teen FictionFollow sebelum membaca. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kalau ada yang bertanya, siapa yang hidupnya paling santai? Jawabannya adalah Reina. Yang sikapnya selalu berubah-ubah? Jawabannya adalah Reina. Siapa yang pecinta kopi? Jawabannya adalah Reina? Selalu...
