"Mama?" Reina melihat Olivia yang masuk ke dalam kamar Fadly. Olivia mendekati Reina dengan membawa sepiring makanan dan segelas susu.
"Pagi sayang," ucap Olivia lembut. Dia mengelus lembut pipi Reina. "Makan ya? Mama udah bawain makanan kesukaan kamu." Olivia menunjukkan sepiring nasi dengan lauknya.
"Mama, lepasin ini dong. Rein mau sekolah~~." Reina menarik-narik ujung baju Olivia. Dia menunjukkan tangannya yang terlilit tali hingga kemarin. Ya, borgol itu sudah digantikan dengan tali oleh Fadlan sendiri.
"Gak bisa sayang. Kamu mau Abangmu semakin marah? Turutin saja dia." Olivia mencoba memberikan pengertian. "Sekarang makan dulu ya."
Reina hanya bisa memasang wajah dongkol. Reina paling tidak bisa terkurung seperti ini, dia suka kebebasan. Tapi sekarang, mungkin tidak ada lagi kata bebas untuknya.
"Aaaaa." Olivia mulai menyuapi Reina. Reina menerima suapan itu walau tak ingin.
Reina memperhatikan wajah Olivia lekat. Reina sangat jarang menatap wajah orangtuanya sendiri sampai seintens itu. Dia memperhatikan Olivia yang sedang menyuapinya makan.
"Haha, kenapa natap Mama kayak gitu?" tanya Olivia dengan kekehan kecil.
Reina menatap teduh Olivia. "Mama sayang sama Rein?" tanya Reina. Olivia tertegun menatap Reina.
"Kenapa kamu mengatakan itu. Sudah pasti Mama sayang sama kamu," ucap Olivia yakin. Dia tidak suka dengan pertanyaan itu.
"Tapi, selama ini Mama kemana? Mama cuman melihat ke arah Kak Salsa, tapi Rein?" Reina merasa tidak pernah dekat dengan ibunya sendiri. Tidak ada salahnya dia berbicara seperti itukan?
Reina hanya ingin mengungkapkan sedikit isi hatinya yang bertahun-tahun dia pendam. Tidak ada salahnya dengan hal itu.
"Jangan mengatakan itu lagi. Mama gak suka." Olivia menatap dingin ke arah Reina. "Mama menyayangi kalian berdua. Apalagi kamu itu anak Mama," lanjutnya.
Reina tersenyum tipis. "Mungkin itu sekarang. Tapi tidak dengan lima belas tahun lalu, Mama gak sayang sama Rein. Rein memang gak penting kan di hidup Mama?" ucap Reina.
"Rein memang gak pantes ya? Dapet kasih sayang Mama? Rein boleh gak, sedikit egois? Rein cuman mau disayang sepenuhnya," lanjut Reina.
"Haha, Rein tau. Rein memang gak sepenting itu di hidup kalian."
"REINA!"
Olivia mengangkat tangannya ingin menampar Reina. Reina memejamkan matanya, bersiap menerima rasa sakitnya. Tapi ketika tangan itu hampir menyentuh pipi Reina, Olivia menahannya.
Olivia menggelengkan kepalanya, dia mengepalkan tangannya dan malah memukul keras kepala ranjang. Dia menatap sendu ke arah Reina yang sedang memejamkan matanya.
Dia meletakkan piring nasi ke nakas, lalu membawa Reina ke pelukannya. "Jangan pernah mengatakan itu lagi. Mama itu sayang sama kamu! Ingat kata-kata ini!" ucap Olivia tegas.
"Semuanya sayang sama kamu. Jangan pernah berpikiran kalau kamu gak pantes disayangi. Mama benci kalimat itu."
"Maafkan sikap Mama yang dulu. Mama janji, hal itu gak akan terulang lagi. Sekarang kamu prioritasnya Mama, sayang. Mama itu sayang kamu melebihi apapun yang ada di dunia ini," lanjut Olivia dengan suara yang lebih lembut.
Reina menikmati pelukan hangat dari Olivia. Pelukan yang sudah lama ingin Reina dapatkan. "Hm, bagaimana kalau Mama mengingkarinya? Apa Mama nanti tetep sayang Rein walapun Rein melakukan kesalahan besar?" ucap Reina dengan suara parau.
"Itu tidak akan terjadi. Mama akan tetap sayang kamu," ucap Olivia.
Reina menganggukkan kepalanya di pelukan Olivia. "Kalau suatu saat Rein melakukan kesalahan besar, dan kalian tidak menerima Rein lagi. Rein janji, akan pergi sejauh mungkin," ucap Reina.
"Jangan pernah pergi dari keluarga ini. Mama tidak akan pernah mengizinkannya, janji?" Olivia menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji."
Olivia mengecup singkat kening Reina. "Kami tidak pernah berpikiran untuk membiarkanmu pergi. Jangan pernah berani berpikiran untuk pergi."
"Rein gak akan pergi."
.
.
.
Setelah 4 hari Reina terkurung di kamar Fadly, akhirnya Fadlan melepaskannya. Saat ini Fadlan masih menguasai Fadly, entah sampai kapan.
"Nanti pulang sekolah pulang sama saya. Awas kalau kabur lagi," ucap Fadlan mengingatkan.
"Iya," jawab Reina ketus.
"Kalau itu terjadi. Jangan harap kau bisa bersekolah normal lagi, kau akan homeschooling. Dengar?" Fadlan mengancam.
"Dengar!" ucap Reina ketus.
Setelah itu Fadlan pergi dari hadapan Reina. Reina menatap kesal kepergian abangnya itu, dia menendang dengan keras batu yang ada di dekatnya saking kesalnya.
Lalu Reina berjalan menuju kelasnya. Wajahnya sangat datar karena modnya memang memburuk sejak kemarin. Baru kali ini Reina menghadapi masalah seperti ini.
"Pagi, cantik." Alfino menyapa Reina hangat. Dia menyodorkan sebotol kopi dingin pada Reina, Reina menerimanya dengan senang hati.
"Pagi juga," ucap Reina sambil tersenyum. Mod buruknya sedikit berkurang karena kopi pemberian Alfino.
"Kemana semalem semalem? Aku nyariin kamu loh." Alfino membawa Reina duduk di salah satu kursi di bawah pohon.
"Aku dihukum Abang gaboleh keluar mansion, cuman gara-gara kabur gak pulang kerumah," jelas Reina.
"Cuman gara-gara itu? Really?" Alfino sedikit terkejut.
"Iya."
Alfino menghela nafas, lalu mengelus pipi Reina lembut. "Mungkin mereka takut kamu kenapa-napa. Keluargamu kan keluarga terpandang, pasti banyak musuh di luar sana yang ingin menjatuhkan." Alfino memberikan penjelasan.
"Kamu tau gak?" tanya Alfino. Reina menaikkan sebelah alisnya.
"Enggak, kan kamu belum ngasih tau," ucap Reina dengan polosnya.
"Aku sayang kamu."
Ucapan Alfino membuat Reina tersenyum. "Aku tau, dan maaf kalau aku belum bisa mengucapkan itu juga," ucap Reina. Alfino mengangguk paham.
"Gak papa, yang penting aku mau mengucapkan itu setiap hari. Sampai kamu juga bisa mengucapkan kalimat itu." Alfino menatap Reina dengan senyuman juga.
"Aku cuman takut kamu ninggalin aku," lanjut Alfino.
"Walapun aku belum bisa mengucapkannya. Tapi aku tau caranya menghargai. Tenang saja, aku gak akan berpaling." Reina menatap serius Alfino.
"Aku gak akan pergi ninggalin kamu. Karena aku milik kamu dan kamu milik aku. Selagi kita masih bersama aku gak akan pergi, sebelum kamu yang pergi lebih dulu," jelas Reina. Alfino tertegun sekaligus terharu mendengarnya.
"Kalau suatu saat kamu memiliki orang lain yang kamu cintai, dan kamu mau pergi ninggalin aku demi dia. Maka pergilah, itu hak kamu. Aku gak akan marah dan larang-larang kamu." Reina menatap tepat ke arah kedua mata Alfino.
"Itu gak akan pernah terjadi," ucap Alfino mantap. "Karena aku sayang kamu," lanjutnya.
Reina tersenyum tipis. "Hati manusia bisa berubah. Kapanpun, seiring berjalannya waktu," ucap Reina. Alfino menggelengkan kepalanya.
Alfino memeluk Reina dari samping. "Jangan tinggalin aku ya? Aku berusaha untuk tidak berubah. Tegur aku kalau aku salah nanti, aku takut semakin terjerumus," pinta Alfino.
"Kamu percayakan? Kalo aku sayang kamu?" tanya Alfino setelah melepaskan pelukannya.
"Hm, aku percaya."
Bersambung~~
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is Rein | End
Roman pour AdolescentsFollow sebelum membaca. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kalau ada yang bertanya, siapa yang hidupnya paling santai? Jawabannya adalah Reina. Yang sikapnya selalu berubah-ubah? Jawabannya adalah Reina. Siapa yang pecinta kopi? Jawabannya adalah Reina? Selalu...
