TOTALLY 🔞
Stay tf away if ur not into this 😋
———
"Does he touch you like me?". Suara baritone itu menggema mengisi kamar Calvin malam ini.
Tara sudah tidak bisa lagi menggunakan panca inderanya yang manapun, ia hanya mampu menjawab dengan rintihan, desahan yang tak mampu lagi tertahan. Darah seakan mengalir ke otaknya pelan, membuat pasokan oksigen di tubuhnya berkurang.
"Does he fuck you from behind? Does he bend you over, taking you from behind? Hm?". Suara itu kembali menyapa.
Calvin tak kunjung mendengar respon apapun dari gadis di depannya yang tengah menelungkupkan kepala dan menahan bobot tubuhnya di dua kakinya yang tertekuk. Lelaki itu mengambil sejumput rambut Tara dan menariknya hingga wajah gadis itu terlihat. Cermin yang terpasang di samping kasur Calvin membuat pantulan bayangan mereka yang tengah bercinta terlihat jelas.
"Bet he won't fuck you like me". Desis Calvin. Dua tangan lelaki itu meraih kedepan, meremas kedua dada Tara kanan kiri dan menstimulasi bagian puncaknya.
Calvin membiarkan dirinya keluar masuk dari belakang, menyaksikan betapa desperatenya Tara saat lelaki itu menaikkan temponya. Dari ekspresi Tara, Calvin tahu, she's been edging. Namun, lelaki itu makin sengaja menggoda, membiarkan Tara sedekat mungkin dengan puncaknya, tapi tak membiarkan gadis itu mencapainya.
"Calv—Ah". Desah Tara saat Calvin melesakkan miliknya begitu dalam, Calvin menyaksikan betul airmata di sudut mata Tara yang turun begitu saja.
"Enak banget ya? Sampai nangis gitu, Kak?". Goda Calvin berbicara di bibir Tara, begitu sensual dan menggoda.
Tara bersumpah, perpaduan hentakan kasar dan dalam dari Calvin, ditambah dengan suara rendahnya yang terus mengucap kata kotor, mengirim sinyal bahkan ke seluruh tubuh gadis itu agar sampai ke pelepasannya.
Calvin melepas permainannya pada dada Tara dan berganti menarik kedua tangan gadis itu ke belakang, menyatukannya disana. Suara kecipak basah yang datang dari daerah intim mereka membuat lelaki itu hampir gila juga.
"I swear you almost got me crazy, Kak. How are you this sensitive towards my touch?". Calvin merintih, nampaknya ia juga sudah ada diujung.
Calvin merasakan hangat meliputinya, tubuh Tara juga kian melemas, nampaknya gadis itu sudah menjemput puncaknya lebih dulu. Teriakan dan pekikkan Tara menemani hujaman Calvin yang tidak kunjung memelan.
"Calvin.. Calv—Oh. Please, pelan-pelan. Gue baru keluar, masih sensitif". Rengek Tara.
Calvin malah menambah temponya cepat, membuat bunyi basah itu makin nyaring terdengar di telinga mereka yang hampir tuli. "Shit, Kak. Lo sebecek ini gara-gara gue? Hm?".
Lelaki itu menyesap dalam di ceruk leher Tara guna menahan dirinya agar tidak melenguh. "Gue mau selesai".
Tara merasakan sekali saat Calvin menarik dirinya dari dalam tubuhnya dan melepas plastik kondom yang sejak tadi melapisi, lelaki itu memasukkan dirinya kembali secara tiba-tiba dan menggempur dengan gerakan yang brutal, membuat Tara meneriakkan nama Calvin berulang kali.
"Shit, hangat banget kalo bare gini. Gue beneran udah gak kuat". Ucap Calvin sebelum menarik diri dan mengeluarkan muatannya hingga habis di sekitaran bokong hingga ke punggung Tara.
"Berantakan. Berantakan banget, sayang". Komentar sang lelaki, menjulang tinggi dari tempatnya.
Tara masih sibuk mengatur nafasnya saat merasakan tisu basah yang dingin menyentuh daerah belakang tubuhnya. Tak lama kemudian, Calvin membalikkan tubuh Tara hingga mereka bisa saling menatap.
"Lo belum keluar kan, Tara?". Ujar Calvin tiba-tiba, lelaki itu tiba-tiba saja memasukkan dua jarinya kebagian inti Tara, memompanya pelan tepat di titik manisnya.
"Ah—Calv. Stop, stop, udah, gue gak kuat, Calv". Rintih Tara dengan mata terpejam.
Sudut bibir Calvin kembali tertarik. "Calv? So that's my nickname from you, baby?".
Jemarinya makin giat bergerak keluar masuk, membantu Tara sampai ke ujung, dan dengan satu gerakan, lelaki itu mengganti jemarinya dengan miliknya. Gadis itu sampai membelalakkan mata saat merasakan kulit itu tak terlapisi penghalang apapun.
"Calv, are you.. doing it—Uh, bare?". Tanya Tara susah payah, merasakan akalnya yang makin menipis.
Calvin memilih untuk membungkam bibir Tara dengan dua jemarinya yang tadi ia gunakan untuk menstimulasi Tara, hanya sebentar, sebelum lelaki itu turun untuk memagut bibir Tara panas, lidahnya membendung seluruh kata yang hampir keluar dari bibir gadis itu.
"Just enjoy this, baby". Bisik Calvin, herannya stamina nya tidak turun sedikitpun bahkan setelah mengalami pelepasan tadi.
"Calv, Calv.. Mm.. Mau keluar". Rengek Tara tak karuan.
Kali ini, Calvin merasakan sesuatu yang seperti mendorong bagian intinya, seperti semburan. Lelaki itu melepas sejenak persatuan mereka dan menyaksikan bagaimana akhirnya Tara menyemburkan cairan yang mengenai bagian inti Calvin. Lelaki itu sampai terbengong untuk beberapa saat, pemandangan indah itu membuat otaknya ikut tersumbat.
"Holy shit. I never knew I'd fuck a squirter". Komentar Calvin saat melihat tubuh lemas itu.
Kasurnya resmi basah karena percintaan dan kelakuan Tara barusan, menyisakan sebuah daerah yang cukup luas dan basah. Lelaki itu menarik kaki Tara dan membawa gadis itu mendekat.
"Lo gak akan gue lepasin, lo harus jadi milik gue, Girisha Triastara Briel, gimana pun caranya". Titah Calvin sebelum kembali memasukkan milknya tanpa ampun dan menggempur Tara kembali.
Cakaran di punggung Calvin menjadi pertanda betapa nyata dan panasnya sesi bercinta mereka kali ini, begitu penuh kejutan dan terbuka, membuat keduanya larut dalam gelombang hasrat yang tiada usai, tidak sampai keduanya merasa pengelihatan mereka menggelap.
———
Calvin bangun lebih dulu, membiarkan dirinya menatapi tubuh mungil yang masih tertidur disebelahnya. Matanya membesar saat menemukan satu fakta baru pagi ini, guratan tinta di daerah tengkuk Tara yang rasanya kurang mendapat apresiasi lantaran begitu tersembunyi.
Sial.
Kurang sempurna apa gadis tomboy di sebelahnya itu?
Tertidur lemah karena terlalu lelah bekas pergempuran semalam, yang membuat Calvin berhasil tidur nyenyak dan seakan tidak pernah mengalami insomnia.
Lelaki itu kembali memotret figur cantik Tara, mengabadikannya agar otaknya tak pernah lupa akan betapa cantiknya ia dan betapa tak terlupakannya malam mereka.
Tara harus menjadi miliknya.
Ini rasanya mulai menjadi obsesi buas bagi Calvin.
Menggerogoti dirinya dan bersemayam disana minta dilegakan dahaganya. Lelaki itu tersenyum manis, menyusun sebuah rencana didalam otaknya.
"I'd do anything to get you mine, Tara. Lo punya gue mulai sekarang". Ucap Calvin.
———
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
RomanceGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
