Girisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan.
Di arena balap itu juga lah, Cal...
Tara mengacak rambutnya gelisah, memandangi mobil Acura merah yang sudah ia tambatkan sebagai teman racing miliknya. Gadis itu berdiri didepan mobil miliknya, berulang kali memekikkan rasa kesal dan umpatan karena belum berhasil mencapai target utamanya, mengitari 2 lap dalam waktu dibawah dari 3 menit.
Dari kejauhan, Gio berlari mendekat. Lelaki itu mengatur nafasnya hingga kembali normal dan menyatakan waktunya. "4 menit 18 detik, Tar".
"Fuck". Umpat Tara, menendang bumper merah mobil miliknya. "Gue tolol banget, drift gue kacau tadi". Lanjut gadis itu mengeluh.
Gio mengerutkan keningnya, sejak tadi, lelaki itu sebenarnya memiliki pertanyaan di kepalanya. "Sebenernya lo ngapain sih? Tiba-tiba mau latihan sekeras ini dan punya target sesusah ini? You're a begineer, Tar. 4 menit aja udah lebih dari cukup buat 2 lap sejauh ini. It's a process, gak bisa langsung jadi pro dalam beberapa hari, masih ada beberapa skill yang mesti lo pelajarin".
"Lo gak ngerti! Gue terancam, Gi!". Bentak Tara kencang, membuat Gio tersentak dan membelalakkan matanya.
Tara nampaknya menangkaap ekspresi kaget dari wajah itu dan meminta maaf. "Sorry, gue kebawa emosi". Gadis itu menelan getirnya. "Pokoknya ini penting buat gue. This is between death and alive. Pride and degradation".
"Gue gak ngerti". Balas Gio lagi.
Tara berakhir berdecak dan melenggang masuk kedalam mobil merahnya. "Sekali lagi, Gi. Pokoknya yang kali ini gue gak boleh gagal".
Dan mobil merah itu kembali melesat, memacu dengan kecepatan tinggi yang membuat Gio sampai ikut menahan nafas. Suara decitan ban pertanda Tara sudah berhasil melewati satu tikungan akhirnya terdengar, gadis itu melewati lap pertama dengan mulus. Gio melihat kearah stopwatch di genggamannya dan kearah Tara yang masih melesat bergantian, gadis itu bagai kesetanan, bergerak tanpa aturan di lintasan yang khusus untuk dirinya saja malam ini.
Gio mengatupkan bibirnya, 2:45 detik, hanya perlu memacu gas sampai full hingga mobil Tara kembali ke garis start, dan lelaki itu memekik tak percaya saat melihat mobil mengerem di lokasi tempat pertama kali ia memulai, dengan rekor waktu tepat di 3 menit. Lelaki itu sampai membuka bibirnya tak percaya.
Tara langsung loncat turun dari dalam mobil dan menghampiri Gio. "Gimana?".
"Fuckin street devil". Desis Gio sembari menunjukkan stopwatch miliknya.
Tara meninju udara dan melompat kegirangan. "Holy shit! I told you gue bisa!".
"Otak gue masih gak bisa memproses gimana caranya lo bisa lakuin ini dengan minim skill, but you did it, you're totally gifted, Tar". Puji Gio lebih lanjut.
Tara menenggak botol minumnya dan menunjukkan cengirannya.
Easy.
Dengan begini, ia akan dengan mudah menjauhkan Calvin dari hidupnya.
Gadis itu kemudian tersenyum. "Call me street murder from now".
———
Tara menaikkan satu alisnya saat menatap seseorang yang sudah duduk di kursi kelas tempatnya biasa duduk. Lelaki dengan pakaian kaos hitam dan celana jeans itu tertelungkup disana, sepertinya tengah tertidur pulas dengan wajah tertutup.
Gadis itu celingukan melihat kearah lain, bangku lain sudah sepenuhnya terisi, perkuliahan sebentar lagi dimulai, tak ada pilihan lain, gadis itu perlu membangunkan lelaki aneh yang berani tidur di bangkunya guna menghindari usiran dosen komunikasinya yang terkenal killer.
"Sorry? Ini bangku gue. Ada namanya". Ucap Tara sembari mencolek pundak sang lelaki.
Lelaki itu bergerak, dan beranjak menegakkan tubuhnya. Dan betapa terkejutnya Tara ketika menemukan ternyata wajah tampan nan slengean itu lah yang tengah di bangkunya.
Calvin.
Tara merasakan darahnya mendidih, namun menahan amarahnya dengan menarik nafas panjang dan memejamkan mata. "Kenapa ini orang ada dimana-mana, tuhan".
"Hai, Kak. Mau duduk?". Tanya Calvin tenang, melebarkan kakinya dan bersandar di bangku dengan nyaman.
Tara memaksakan senyum saat menyaksikan beberapa mata di sekitar mereka mulai memaku padanya. "Iya. Ini bangku gue, gue mau duduk".
Bukan Calvin namanya jika tidak mempermainkan dan mempermalukan Tara di depan umum. Lelaki itu malah terkekeh dan menepuk pahanya sendiri. "Mau duduk? Duduk aja, sayang. Sini, gue pangku".
Tara sontak meraih kerah baju sang lelaki dan menatapnya nyalang. "Cabut gak lo? Jangan kayak orang tolol. Gak usah jadi attention seeker. Ini bukan kelas lo, lo tuh masih junior".
Beberapa disekitar mereka memekik kaget, sebagian lagi nampaknya terpesona dengan aura mematikan milik gadis tomboy yang barusan keluar begitu saja tanpa diminta, mereka yang terpesona, didominasi oleh laki-laki, yang entah sejak kapan memakukan matanya kearah Tara yang tiba-tiba saja terlihat seksi.
Calvin memainkan lidahnya di dinding pipinya. "Yang lagi jadi attention seeker itu siapa? Gue atau lo, sayang?". Lelaki itu kemudian memilih meraih pergelangan tangan Tara di kerah bajunya dan bangkit. "You drawn eyes on you, Kak Tara, senior gue yang paling seksi".
Tara menarik tangannya dari genggaman Calvin dengan kasar. "Mulut lo pantes disandingin sama sampah".
Decak kagum makin terdengar, tiba-tiba saja, Tara meraih eksistensinya di sekitaran, menunjukkan pesonanya yang selama ini teredam. Calvin berakhir maju selangkah dan berbisik, memastikan hanya mereka yang mendengar ucapannya selanjutnya. "Jangan lupa taruhan kita, Kak. Malam ini. Get ready and wear something sexy, cause you absolutely will end up on my bed".
"You wish". Sembur Tara lagi, sebelum melengos dan memilih duduk di tempatnya yang sebelumnya ditempati oleh Calvin.
Calvin kemudian memilih menarik diri dan bersiul sepanjang perjalanannya keluar dari ruang dosen, bahkan menyapa sang dosen terlebih dahulu yang keheranan melihat sikapnya dan tak mengenalinya. Tara baru menyadari tatapan orang-orang padanya, saat emosinya sudah mulai mereda.
Gadis itu sampai menutupi pipinya sendiri yang ia yakini memerah karena atensi sekitaran padanya. Mereka menatapi Tara dengan penuh rasa tertarik, penasaran akan figurnya yang selama ini hanya terkenal boyish belaka.
Sialan.
Nampaknya tanpa sadar ia benar-benar membuat tontonan segar barusan. Mata kuliah itu berjalan dengan kurang nyaman, dikarenakan tatapan dari sekitaran Tara yang bergantian dan tanpa terang-terangan mengarah padanya.
Ia harus segera mengakhiri ini, menyelesaikan perkara setan idiot yang selalu mengganggu hari-harinya setiap hari. Jemari Tara mengepal, membulatkan tekadnya untuk memenangi perang taruhan bodoh yang menjeratnya.
Malam ini, seharusnya siksaan ini bisa berakhir.
Tara pasti bisa mengakhirinya.
Harus bisa.
———
MOBIL TARA :
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.