Chapter 46 - Menaruh Curiga

1.6K 126 7
                                        

Sejak tadi, Tara sibuk sendiri mempelajari dan menelan seluruh isi buku yang membahas mengenai gangguan-gangguan mental, beberapa studi kasus pembahasan membuat tubuhnya merinding, namun saat membaca pemicu dan faktor pencetus dari kelakuan yang terbilang gila, hatinya jadi mencelos. Karena sebagian besar dari mereka yang memiliki gangguan kejiwaan maupun mental, adalah orang-orang yang memiliki luka dan trauma yang sulit disembuhkan.

Luka yang menumpuk, perasaan asing dan sendiri, tidak memiliki tempat untuk bercerita, membuat ketenangan dan rasa aman di diri mereka terenggut begitu saja. Ketika seseorang sudah tidak memiliki perasaan aman, saat itulah ia menjadi gelisah. Dan kegelisahan itu bisa tersalurkan dalam berbagai macam hal, dan terkadang bentuknya negatif.

Mau tak mau, Tara sedikit banyak menyambungkan kehidupan nyatanya dengan rangkaian penjelasan di buku. Jika mengambil sample nyata, Joan, sang Kakak, sama sekali tidak bisa dijadikan salah satu contoh, sebab Joan sama sekali tidak memiliki masa lalu yang menyedihkan, apalagi trauma berat yang membuatnya kacau. Begitu juga dengan Kenneth, yang Tara tahu betul bagaimana dicintainya sang lelaki oleh keluarganya, begitu pun lingkungan sekitarnya.

Kening Tara berkerut, gejala-gejala yang sempat ia baca di buku-buku teoritikal itu, sebenarnya sempat muncul pada seseorang. Perilaku obsesif, emosi yang tidak stabil, bahkan keinginan menyakiti seseorang. Pikiran Tara tak lepas dari seseorang, yang sampai saat ini cerita mengenai dirinya sendiri pun masih menjadi misteri, yang bahkan sampai detik ini tidak pernah terlalu membuka diri untuk banyak orang.

Calvin.

"Sayang". Panggil Tara pada Ken yang tengah sibuk mengetik di laptop di sebelahnya. Saat ini mereka tengah melakukan sesi belajar bersama di kamar Tara, persis seperti tahun-tahun sebelumnya saat mereka masih menjadi sepasang sahabat biasa.

"Hmm?". Respon Ken sekenanya, mata sang lelaki masih sibuk memandangi isi laptop.

"Tadi aku ketemu Calvin". Sambung Tara.

Otomatis, pandangan Ken langsung mengarah padanya. Lelaki itu memberi tatapan bertanya. "Ngapain?".

"Dia sih yang temuin aku. Minta maaf katanya, karena udah celakain aku". Balas Tara, menuai tatapan lain dari Ken.

Sang lelaki memasang wajah tak suka. "Terus kamu bilang apa?".

"Aku maafin". Balas Tara lagi. "But I gave him one condition".

Ken yang tadinya tiduran menelungkup, sampai terbangun dan duduk di sebelah sang gadis. "What condition?".

"Aku minta dia gak ikut race di Bali". Ucap Tara, menuai tatapan tak percaya dari Ken. "Tapi dia gak mau, dia insist tetep ikut, terus dia tawarin opsi untuk kalah aja, ngalah secara sengaja".

Ekspresi Ken makin bingung. "What?".

Tara mengangguk. "Iya. Dia akan sengaja kalah di race Bali nanti, dia akan turun rank. Dan akhirnya aku bilang aku maafin".

Ken jelas menahan emosinya, lelaki itu menunjukkan perasaan kecewa dengan mengepalkan tangan. "Kenapa, Tara? Kenapa harus berurusan sama dia lagi?".

"Karena tujuanku dari awal adalah bikin dia hancur, sayang. Aku sering bilang ke kamu kan?". Balas Tara lagi, kali ini dengan ekspresi serius. "Tapi tadi, aku jadi nyadarin sesuatu waktu Sara, mantan pacar Calvin, nyamperin ke kampus".

Ken benar-benar bingung mendengar rangkaian kejadian itu. "What?".

"There must be something wrong with Calvin. Tadi, dia Sara sama Calvin argumen. Dan kamu tau? Ada momen dimana Calvin dorong Sara sampai jatuh, tapi ekspresi Calvin.. Sama sekali gak ngerasa bersalah. Padahal Sara kelihatan kesakitan". Sambung Tara lagi.

A MILE AWAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang