PART INI ADA WARNING YAA!!!
Kalo yang udh baca dari sebelah mungkin udh tau tp yang belom KINDLY WARNED ADA ADEGAN YANG KURANG MENYENANGKAN!
Kali ini, dari sudut pandang Calvin ya..
Lagi ngebut ini biar end wkwkwkkw moga gak males bacanya kebanyakan update dan narasi smua🥹
———
Genap dua minggu Calvin merasakan kekalutan itu. Berulang kali ia berusaha mencari dan menelepon Tara, tapi selalu berujung gagal. Calvin benar-benar hancur tak bersisa, apalagi setelah mengetahui kenyataan bahwa mungkin selama ini apa yang ia lihat hanyalah khayalan belaka, kepalsuan.
Calvin jadi gemar mengurung diri, membiarkan seluruh kehidupan di sekitarnya tetap berjalan tanpa pergerakan darinya. Calvin begitu statis, begitu.. Menyedihkan.
Ia ingat hari itu, hari terakhir pertemuannya dan Tara, di pekarangan rumah mungil yang dahulunya milik keluarga Calvin, dimana Tara menatapnya begitu dalam dan mengucap kata yang seharusnya membuatnya takut, tapi sebaliknya, ia justru merasakan tenang saat mendengarnya.
"Let's get you healed soon, Calv. Sesegera mungkin, sesiap lo, berobat. Gue temenin lo sampai benar-benar sembuh". Ucap Tara sore itu, ditemani hembusan angin yang bertiup pelan.
"Kamu gak takut? Setelah tahu aku begini, kamu tetap mau temenin aku, Kak?". Balas Calvin.
"Enggak. Gue gak takut. Yang penting lo sembuh". Balas Tara lagi dengan senyuman.
Calvin juga ingat pelukan yang ia berikan pada Tara hari itu, yang entah mengapa berbalas sama hangatnya. Ia rindu semua itu, meskipun hanya berupa kepalsuan belaka.
"Bahkan kamu nyerah, Tara... Aku harus gimana sekarang". Ucap sang lelaki sendu, terus membenturkan kepalanya di tembok berulang kali.
Dua minggu ini, Calvin tidak mengkonsumsi makanan. Ia hanya mengisi tubuhnya dengan air dan cokelat yang ia simpan di laci kamar, sekedar menjaga nya agar tidak hilang kesadaran. Tubuhnya kurus bukan main, sisi kepalanya sudah kebas tak ada rasa akibat terlalu sering dibenturkan ke tembok.
Mama Calvin yang sudah begitu khawatir, berujung mengunjungi sang anak, sebab anak lelakinya itu tak dapat dihubungi selama berhari-hari, tak juga mengabarinya sama sekali. Dan betapa terkejutnya sang Mama ketika menemukan pintu apartemen sang anak yang terbuka dan bagian dalam ruangan yang berantakan. Ditambah, pemandangan sang anak yang begitu menyedihkan di sudut kamar, tak dapat disentuh sama sekali sebab setiap sang Mama
coba mendekat, Calvin akan berteriak kencang memintanya keluar dari kamar.
Mama Calvin benar-benar kelimpungan, hatinya hancur seketika saat melihat anak lelaki kesayangannya itu berubah menjadi seorang yang sangat menyedihkan. Hati ibu mana yang tega melihat anaknya menderita? Tentu tidak ada.
Jadilah, Mama Calvin memiliki ide, menelepon satu-satunya orang yang ia rasa mampu membantunya di kala seperti ini. Malu rasanya, apalagi pasti dirinya akan ditolak mentah-mentah. Tapi, sang Mama tidak memiliki opsi lain.
"Claire sayang? Dengerin Mama dulu.. Jangan ditutup telfonnya, ini soal adikmu, Calvin".
———
Tidak butuh waktu lama, Claire benar menampakkan dirinya disana, menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari pulau Dewata, membohongi sang kekasih Askara, demi menemui Calvin tanpa membuat kekasih Claire itu khawatir.
Sesuai dugaan, pertengkaran pecah saat Claire muncul di hadapan Calvin dan menawarkan bantuan. Calvin sempat melirik sekilas saat Claire masuk kedalam kamarnya.
"Calvin". Panggil Claire lemah, bicaranya tercekat karena menahan tangis yang mengancam keluar.
Calvin kembali menatap ke lantai, kearah dimana ia tidak harus mendapati figur Claire. Lelaki itu tak berkata, hanya terus menatap kebawah, hingga akhirnya Claire kembali berbicara. "I know you're hurting. I'm here to save you, Vin".
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
Roman d'amourGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
