Chapter 58 - A Place Where He Hides From The World

1.5K 105 7
                                        

Mata Tara tak putus memandangi lelaki di sebelahnya. Keduanya kini tengah duduk bersama di satu sudut halaman kosong dengan rumah mungil dan taman bermain di sekitarnya. Area ini terlihat sudah lama kosong, hanya beberapa manusia yang terlihat masih hilir mudik di sekitar sana. Calvin terlihat tenang di sebelahnya, duduk memandang langit sore yang perlahan berubah kemerahan.

"Dulu, keluargaku tinggal disini, Kak. Sebelum pindah ke rumah yang lebih besar. Waktu aku masih kecil banget". Ucap Calvin pada Tara. Lelaki itu menunjuk rumah mungil yang nampak tetap bagus walau sudah lama tak ditinggali. "Dirumah itu, rumah warna putih".

Tara memperhatikan, gadis itu jelas mengobservasi dengan baik satu persatu detail yang Calvin beberkan untuknya. Gadis itu kemudian mencoba memulai komunikasinya. "Were you happy living there?".

Calvin menoleh, kemudian mengangguk. "I was. Everything was so.. Right. Papa-Mama, Claire, semuanya masih ada".

"Claire?". Tanya Tara, entahlah apakah ia pernah mendengar nama itu atau tidak, Tara tidak yakin.

Calvin kembali menatap lurus ke langit. "My sibling, kakakku satu-satunya".

"I see. Do you love them? Your family". Tanya Tara lagi, langsung menyasar ke pertanyaan yang paling penting ia tanyakan, sembari merekam di silabus otaknya dengan baik jawaban dari Calvin.

Calvin terdiam, hendak menjawab namun ragu. Beberapa detik kemudian ia menghela nafas. "I used to love them, but not anymore. Cuma Mama yang masih peduli".

Inilah dia beberapa potongan puzzle dari diri sang lelaki yang perlahan mulai tersusun, beberapa kepingan penyebab dari gangguan yang Calvin alami sekarang. "Kenapa mikir gitu, Calv?".

"Karena memang itu kenyataannya. Papa dan Claire pergi waktu aku masih kecil, jauh dari Jakarta. And they never come back after. Setiap hari aku nungguin mereka pulang ke rumah, but it never happens. They just ignore me like I was never existed". Jelas Calvin, nadanya terdengar datar, tapi Tara bisa mendengar jelas rasa sakit yang Calvin rasakan.

"Have you ever asked them? Why they never came back to you?". Sambung Tara kembali bertanya.

Calvin menggeleng. "Claire datang duluan setelah bertahun-tahun, dia jelasin kalau keadaan gak memungkinkan mereka buat pulang selama bertahun-tahun. But that's it. What kind of bullshit is that? Dia lupa akan janjinya waktu kecil dulu".

Pandangan Tara melembut. "Janji apa?".

"Janji untuk jagain aku, janji untuk lewatin semuanya sama-sama. My parent's divorce was the worst thing that ever happened to me, Kak. Papa sama Mama berantem setiap hari, aku dengar. Tapi, waktu masih ada Claire, rasanya gak seberat itu. Karena dia selalu berusaha alihkan semua itu, bikin aku lupa kalau orangtua kami lagi diambang kehancuran. Salahnya, aku jadi ketergantungan dengan kehadiran dia. Aku benar-benar gak punya siapapun setelah dia dibawa Papa pergi setelah perceraian Papa sama Mama. Aku gak tahu harus gimana setelah gak ada Claire". Jelas Calvin.

Dan itu yang menyebabkan Calvin jadi punya obsessive disorder. Claire adalah awal obsesinya. Batin Tara dalam hati.

Tara mencoba terus menggali kisah tersebut, luka terdalam Calvin yang belum pernah ia dengar sebelumnya. "Then how do you feel about her now? Masih.. Marah?".

"I wish she would be just.. Dead. Seriously". Balas Calvin singkat.

Tara menelan salivanya, merasakan bulu kuduknya merinding secara tiba-tiba setelah mendengar kalimat Calvin barusan. Namun, gadis itu tetap mencoba tenang. Yang makin membuat Tara takut ialah kenyataan bahwa dirinya kini adalah pengganti Claire untuk Calvin, obsesi sang lelaki yang lainnya karena sang Kakak, Claire, tidak lagi menjadi tameng untuk Calvin.

"Disaat aku kehilangan semuanya, aku akhirnya mulai punya pelarian baru, racing. I grew up learning them, bukan untuk jadi professional sebenernya, tapi untuk ngobatin lukaku sendiri, Kak". Sambung Calvin, kemudian menoleh kembali pada Tara sebelum menyambung bicaranya. "Sampai akhirnya aku ketemu kamu, di hari itu, dan rasanya ketergantunganku pindah semuanya ke kamu, Kak".

Calvin baru saja mengkonfirmasi perihal ketakutan Tara didepan matanya sendiri. "Dan lo mulai terobsesi sama gue".

Diluar dugaan, Calvin terkekeh, bahkan tertawa, sebelum akhirnya berhenti dan berupaya mengatur duduknya agar menghadap kearah Tara. "You're the only one that can read my mind really well".

"Kenapa lo gak terobsesi sama Sara? Padahal kalian pernah punya hubungan?". Tanya Tara kembali.

Calvin mengedikkan bahunya. "She doesn't give me the safety feeling that I crave, aku gak ngerasa apa-apa sama dia".

Sara bukan tamengnya, batin Tara lagi.

"Aku udah ngira kamu tahu penyakitku". Tiba-tiba saja, Calvin meraih jemari Tara dan mengecup telapak tangannya lama, mata sang lelaki memejam bak tengah menikmati waktu yang tersisa untuk mereka berdua. "Jangan tinggalin aku ya, Kak. Cuma sama kamu aku seterbuka ini, se vulnerable ini dan cuma sama kamu juga aku nunjukkin sisi terburuk yang pernah ada. Kamu mau sembuhin aku kan?".

Tara menatap wajah itu lekat, berkomplasi akan hal yang akan ia lakukan setelah mendengar penuturan sang lelaki. Antara nurani dan keselamatan, mana kah yang akan ia pilih?

———

Tara berlari secepatnya menuju ke apartment Ken selepas menghabiskan waktu untuk mengorek masalah Calvin. Gadis itu panik bukan main saat mengetahui bahwa ia sudah terlambat berjam-jam mendatangi tempat janjian mereka. Ratusan missed calls dan pesan sudah membanjiri ponselnya, semuanya dari sang kekasih yang kini tak tahu dimana keberadaannya.

Tara memencet bel berulang kali, menanti di depan pintu apartment Ken yang nampak sepi. Hatinya khawatir, takut jika Ken ternyata tidak disana. Namun, tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka, membuat netra Tara membulat seketika. Ken berdiri disana, namun keadaannya menyedihkan. Pakaian dan rambutnya basah, bibirnya pun membiru nampaknya karena sudah terlalu lama kedinginan.

"Kenneth! Astaga, kok basah kuyup begini?". Ujar Tara kaget, menghampiri dan makin terkejut saat mendapati betapa dinginnya suhu tubuh Ken saat tak sengaja memegang lengan Ken.

Ken nampak tak peduli. "Kamu dari mana? Kenapa hilang berjam-jam?".

"Aku..". Ucapan Tara masih dibiarkan menggantung, sebab Ken langsung bergerak untuk memeluk figur mungil itu.

Dingin langsung menjalar di sekujur tubuh Tara, ternyata Ken menahan hawa dingin itu sejak tadi hingga bibirnya membiru. Suaranya parau. "Gak usah dijawab, yang penting kamu baik-baik aja, aku udah bersyukur. Aku cemas banget, Tara. Aku takut terjadi sesuatu ke kamu dan aku gak tahu apa-apa".

"Aku gak apa-apa, lepas dulu ya? Ganti bajunya dulu, badan kamu dingin banget, nanti sakit, Ken". Balas Tara khawatir.

Namun, belum sempat Ken menjawab, tubuh sang lelaki sudah lebih dulu menyerah. Tubuh itu mulai meluruh dan perlahan jatuh ke lantai, walau Tara menahannya agar sang lelaki tak terjembab begitu saja. Ken jatuh pingsan di pelukan Tara, membuat sang gadis nyaris menangis berteriak memanggil nama Ken berulang kali.

———

Lumayan merinding nulis partnya Calvin wkwkwk

A MILE AWAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang