Tara menolehkan pandangannya ke sekitar, kearah beberapa manusia yang sibuk bertepuk tangan untuknya dan memintanya untuk segera naik keatas panggung. Gadis itu kebingungan tatkala pagi ini tiba-tiba saja diminta untuk melakukan speech guna membantu pemilihannya sebagai kandidat HIMA. Satu tepukan di pundak mengagetkan sang gadis. Bian, petinggi himpunan sebelumnya memberi anggukan menyemangati.
Langkah kecil itu enggan mengarah ke tempat, namun harus. Gadis itu terlihat kikuk saat menaiki panggung rendah ditengah lapangan, pun canggung saat memposisikan dirinya dibelakang mic. Tara berdeham, kemudian mulai berkata dengan cicitan. "Hm.. Sebenernya, saya kurang ngerti kenapa saya terpilih sebagai salah satu kandidat, mengingat, banyak pribadi lain yang mungkin jauh lebih cocok untuk mencalonkan diri". Gadis itu memberi jeda sejenak, memperhatikan tatapan dari semua yang hadir disana dengan seksama.
"Yang seharusnya berdiri disini itu Kenneth, teman terbaik saya yang seharusnya menjadi calon tunggal dari pencalonan ini. Dimana semua akan setuju, kalau saya bilang Kenneth adalah mahasiswa yang aktif dan berprestasi". Tara merasakan nafasnya tiba-tiba tercekat tatkala menatap kearah seseorang yang berada di ujung, berjalan menuju kerumunan dan mengkunci tatapannya selama sesaat, Calvin. "Tapi karena satu dan lain hal, pencalonan Kenneth harus berhenti. Dan untuk itu, saya akan berusaha meneruskan apa yang sudah ia rencanakan. Visi-Misi, berikut tanggung jawabnya, semua sudah sempat ia tuangkan kedalam diskusi bersama saya. Yaitu untuk menjadi jembatan bagi semua mahasiswa di himpunan bersuara".
Calvin terlihat menarikkan sebelah sudut bibirnya. Lelaki itu tampak tertarik dengan kejadian didepan matanya. Tara kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar setelah sekian lama. "Untuk itu juga, saya, Girisha Triastara Briel, menyatakan diri sebagai kandidat".
Riuh tepuk tangan kembali bergemuruh, mengantarkan Tara untuk turun dari sana dan berjalan kembali ke kerumunan yang mengelu-elukan namanya. Sebagaian bersiul karena terpukau akan pesona sang gadis tomboy. Beberapa bahkan mendekat secara terang-terangan, mencoba berkenalan dengan sosok cantik yang sebelumnya tak terlalu menjadi pusat perhatian.
Tara menyaksikan dari sudut matanya bagaimana Calvin berdiri di tempatnya, menatap kearah Tara yang tengah menjadi pusat perhatian dan tersenyum, sembari melipat tangannya di depan dada. Lelaki itu terlihat... Puas. Entah untuk alasan apa. Belum sempat Tara memproses, sang lelaki sudah lebih dulu berlalu dari sana. Meninggalkan Tara yang masih sibuk menjawabi satu-persatu manusia yang datang ke arahnya.
Sore harinya, Tara dikejutkan dengan kehadiran Ken di depan gerbang universitasnya. Dengan setelan hoodie dan celana jeans, lelaki itu menanti didepan mobil miliknya. Mata mereka bertemu sesaat, sebelum Ken melambaikan tangannya kearah Tara. Gadis itu berjalan mendekat, perlahan dan tanpa memutus kontak mata mereka berdua.
Saat ujung sepatu mereka bertemu, Ken lebih dulu menginisiasi, memeluk tubuh mungil itu dan membawanya kedalam dekapan erat. "Sorry, I miss you so much".
Netra Tara sempat melebar karena sentuhan mendadak dari sang lelaki. Namun ia juga tidak bisa memungkiri, Tara juga rindu dengan lelaki itu. "Gue juga kangen. Lo kemana aja? Kok baru samperin gue lagi?".
Ken melepas pelukannya, sekeliling mereka tak ayal menatapi kearah sepasang manusia yang nampak dekat itu. "Gue.. Bingung. Kemarin gue kebawa emosi sendiri, I don't know. Salah sih, gue harusnya gak boleh egois dan mikirin diri sendiri".
Tara melipat bibirnya kedalam. Gadis itu kemudian menatapi raut wajah Ken yang terlihat berbeda, seakan baru saja ada sesuatu yang direnggut darinya. "Gue minta maaf ya, Ken. I shouldn't talk like that. Padahal wajar lo khawatir, tapi gue bereaksi berlebihan".
Ken menggeleng pelan. "Gak apa-apa. Gue juga salah. Kita terlalu kebawa emosi waktu itu. Lo cuma ngomongin apa yang lo rasa aja kan, I shouldn't react that way". Ken memaksakan senyumnya. "Kita baikan ya?".
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
RomansaGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
