Chapter 43 - Back To Campus

1.9K 137 14
                                        

Empat belas hari sudah Tara harus absen dari perkuliahan karena kecelakaan yang menimpanya. Kini, luka-lukanya mulai perlahan pulih, begitu pun dengan kondisi pergelangan kakinya yang perlahan memulih. Ken tidak sehari pun melewatkan dari kegiatan merawat Tara, begitupun dengan memastikan keadaan mental sang gadis yang perlahan seakan kembali pulih.

"Nanti aku jemput pulangnya. Jangan pulang sendiri, nanti kuanter balik kerumah". Pesan Ken pada Tara sebelum sang gadis turun dari mobilnya.

Tara terkekeh dengan sikap protektif yang Ken miliki sekarang untuknya. "Iya, iya. Gak usah diulang-ulang juga aku inget, Kenneth. Yaudah, aku turun ya".

Ken mengangguk pelan. "Iya, hati-hati".

Baru saja Tara hendak turun, namun sang lelaki menahan lengannya. "Bentar".

Hal itu membuat Tara menoleh. "Apa?".

Tanpa berkata lagi, Ken memajukan tubuhnya untuk mengecup bibir sang gadis dalam. "Semangat kuliahnya, sayang".

Pipi Tara sontak memerah dibuatnya, merasa panas di kedua sisinya. "Kamu nih, main cium aja! Kita kan di depan kampus, kalo ada yang liat gimana?".

"Biarin aja. Biar pada tau kamu punyaku". Balas Ken sebelum kembali pada posisi duduknya. "Udah sana, hati-hati jalannya, jangan buru-buru, nanti sakit lagi kakimu".

"Iya, bawel".

Kehadiran Tara di kampus yang berjalan dengan setengah tertatih membuat mata disekitarnya mengekor. Gadis tomboy itu mengikat rambutnya menjadi cepolan, hari ini ia tanpa sengaja mengenakan hoodie milik Ken, membuat tubuhnya tenggelam di fabrik kebesaran itu. Segera setelah masuk kedalam kelas, Tara memilih duduk di salah satu tempat yang kosong diujung ruangan.

Entah mengapa, Tara sangat menikmati perkuliahan hari ini. Mempelajari beberapa teori baru mengenai interaksi antar manusia dan perilaku atau kelakuan yang berikut istilah-istilahnya. Mendengarkan penjelasan dari lecturer dengan seksama, Tara jadi mengerti akan perilaku-perilaku yang condong akan tidak sehatnya mental.

Suatu saat nanti, ia akan menjadi seorang psikolog yang mendengarkan keluhan pasiennya, mempelajari pola pikir dan berakhir menjadi tempat pasien tersebut menuangkan segala isi kepalanya, baik dan buruk, tanpa cela dan tanpa menghakimi. Tara selalu kagum akan bagaimana otak manusia berpikir, maupun bagaimana bibir seseorang bisa merangkai kata.

Tara selalu ingin mempelajari bagaimana cara seseorang berperilaku, sekaligus bagaimana mereka bisa mendapatkan perilaku seperti itu. Di dunia psikologi, membaca gestur dan pola kejadian ialah hal yang tak bisa lepas dan harus diperhatikan. Tara harus melihat secara detail, menjadi seorang yang cukup komunikatif bagi mereka yang datang padanyan nanti.

———

Mata mereka kembali bertemu untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama. Tanpa sengaja namun tak dapat dihindari, tentu saja karena keduanya memang berkuliah di tempat yang sama. Tara langsung membuang muka saat Calvin menatapnya, gadis itu memilih untuk menghindari, namun tentu saja, Calvin menahannya dengan menghalangi langkahnya.

"Kak". Panggil Calvin, membuat Tara menjauhkan diri. Calvin tidak menyerah, terus berupaya agar Tara menatapnya. "Girisha Triastara, liat aku bentar".

Tara tetap bungkam, memilih mundur untuk menghindari, namun Calvin malah menahan lengannya agar tetap disana. "Kak, please. I've been searching for you each and everyday".

Mata Tara akhirnya berani menatap kearah lawan bicaranya, yang kini terlihat begitu berbeda dengan terakhir mereka bertemu. Cekungan dibawah mata Calvin tercetak jelas, begitu juga dengan lengkungan di pipi yang semakin tirus. Rambut Calvin sudah terlihat lebih panjang dari sebelumnya, cabang rambutnya sampai menyentuh pundak.

"Aku tahu aku salah, Kak. Maafin aku. Aku gak bermaksud nyakitin kamu". Ucap Calvin lebih dulu, menatap Tara secara tulus. "Aku gak pernah mau nyakitin kamu, Kak. Tapi aku cemburu liat kamu disana. Cemburu banget sampai kepikiran buat nabrak kamu. Aku akuin aku salah".

Seluruh tubuh Tara merinding dibuatnya, sang lelaki begitu gamblang menyuarakan rasa bersalahnya bak tengah menghadapi persidangan. "Lo sakit, Calvin".

Tara melepaskan cengkraman Calvin yang kian lama kian erat di lengannya, kemudian mulai menyahuti perkataan sang lelaki. "Bisa-bisanya lo masih berani nunjukin muka depan gue, setelah apa yang lo lakuin? Ada yang salah sama pikiran lo".

"Trust me, I don't even know how my mind works either. Tapi yang jelas, aku tau persis perasaanku. Aku sayang kamu, Tara". Balas Calvin lagi, terus menginisiasi kontak dengan Tara. Lelaki itu bahkan terus berceloteh. "Aku bolak-balik ke rumah kamu setelah kejadian itu, nunggu kamu disana, tapi gak berani masuk karena aku tau aku salah. Kamu gak pernah keliatan, bikin aku bener-bener frustasi jadinya. Aku kepikiran gimana keadaan kamu, dan pengen liat kamu untuk mastiin kamu baik-baik aja".

"You're such a problematic walking guy. Gue udah gak mau berurusan sama lo, Calvin". Balas Tara ketus.

Tara hampir melangkah pergi lagi dari sana, tapi seperti sebelumnya, Calvin menahannya. "Jangan, jangan gitu, Kak. Aku gak mau ditinggal kamu. Marahin aku, pukul, atau kamu permaluin aja aku sekalian, gak apa-apa. Asal jangan benci aku. Aku mohon".

Sebelah alis Tara naik saat mendengarnya. Bukankah barusan Calvin memohon padanya?

Tara bersusah payah menahan seringaian yang hampir terlihat, menjaga agar ekspresinya tetap datar. Ia yakin, sedikit demi sedikit, ternyata rencananya menjatuhkan Calvin sudah mulai membuahkan hasil. Calvin yang memohon-mohon padanya, ialah satu pertanda, bahwa perlahan-lahan, lelaki itu mulai menekuk lutut untuknya.

Dan nantinya akan hancur juga.

"Oke, gue maafin". Balas Tara singkat, masih sekuat tenaga menahan senyum kemenangan.

Calvin terlihat mengulas senyumnya, seakan tak percaya dengan yang baru ia dengar. "Makasih, Kak. Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi".

"But under one circumstances". Balas Tara.

Kening Calvin mengerut mendengarnya. "Apa?".

"Quit dari racing di Bali. Jadi kita impas, sama-sama gak ikut". Ucap Tara lantang.

Calvin menggeleng kuat. "Gak bisa, Kak. Aku udah persiapin itu, namaku udah ada di line up untuk di circuit. Aku gak mungkin bail out sekarang, kasian coachku".

"Terserah, kalo lo gak mau, berarti sampai kapan pun, gue gak akan pernah maafin lo. Begini terus, gak akan berubah jadi lebih baik". Balas Tara lagi cuek.

Calvin terdiam selama beberapa detik, seakan berkontemplasi dengan dirinya sendiri sebelum menjawab. "Kalo aku ikut, tapi aku sengaja kalah, gimana? Aku akan biarin kubu kamu, Gio, menang di racing itu".

Tara menyipitkan matanya, berpikir sebentar akan kemungkinan yang terjadi. "Tau dari mana gue lo akan nepatin omongan lo itu?".

"Kalo aku sampai gak nepatin omonganku, aku akan quit dari dunia balap. Aku akan bilang ke semuanya untuk gak ikutin aku lagi ke racing mana pun, dan berakhir jadi anak kuliahan biasa disini". Balas Calvin yakin.

Tara tersenyum dalam hatinya, jelas sudah ia memegang kendali atas Calvin sekarang tanpa sekalipun lelaki itu sadari. Ia jadi bersemangat sendiri, memikirkan segala kemungkinan untuk melancarkan aksi yang sudah semakin mulus jalannya ini. "Oke, deal".

———

A MILE AWAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang