Lagi pgn marathon nulis ini krn lg bececeran idenya.
I'm doing a lot better, THANKU UNTUK YANG UDAH PADA DM AND SEND ME LOVE!!! I really really feel loved and not alone tbh❤️
Semoga mood nulis ini berlanjut terus & no more writer's block for a long time ya🥺
Anyway ada percakapan 🔞 dikit 🤏🏻
———
Perkuliahan hari ini terasa tidak menyenangkan bagi Tara, gadis itu sungguh kehilangan sosok Ken yang biasa mengganggunya disela jam istirahat, atau sengaja masuk ke kelasnya yang padahal berbeda jurusan untuk sekedar menemani sang gadis. Entah apa hubungannya dan Ken sekarang, Tara juga tidak bisa mendeskripsikan, yang jelas ia nyaman dengan kedekatan keduanya, mentally and physically.
Gadis itu hampir tertidur di saat mata kuliah ilmu psikologi dimulai, dan pada akhirnya menyerah saat matanya makin terasa berat. Hanya tuhan yang tahu berapa lama ia tertidur, yang jelas, ketika ia tersadar, suasana kelas sudah sunyi. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menemukan satu sosok yang paling tidak ingin ia temui. Calvin, duduk dengan menopang dagu di hadapannya, menatapinya yang sedang tertidur sejak tadi bagai penguntit.
"Bangun juga akhirnya, putri tidur". Komentar Calvin.
Tara mengucek matanya yang masih buram. "Gue masih ngimpi, apa emang ini setan ada disini sih?".
Calvin tertawa mendengarnya. "Long time no see, sayang. Lo makin lucu sekarang".
Tara membuang nafasnya kasar sebelum merapikan barang-barangnya dan hendak beranjak pergi dari sana. Namun Calvin lebih dulu bangkit dan mengurungnya dikursinya, membuat pergerakan Tara terbatas, lelaki itu menatapi Tara yang terlihat kecil dibawahnya. "Mau kemana sih, buru-buru amat? Kita udah lama gak ketemu loh".
"Minggir deh lo, lo kedengeran kayak psikopat". Balas Tara ketus.
Calvin malah makin merundukkan diri, mendekatkan ujung hidungnya pada leher Tara dan berbisik. "Seru dong kalo gue psikopat, lo kan calon psikolog, nanti biar gue jadi pasien lo".
Tara menoleh ke wajah yang berjarak beberapa senti darinya itu. "Imajinasi lo liar, but it truly disgust me. Kalo lo psikopat, yang ada kita bakal bunuh-bunuhan. Let's see who could kill who first".
Calvin berakhir menempelkan ujung hidung mereka yang begitu dekat dan berkata dengan nada rendah. "That gorgeous mind.. You're so special, makin me horny all the time. Wanna fuck tonight?".
Tara memilih mendorong tubuh itu, namun tenaganya tak sebanding dengan Calvin yang bertubuh jauh lebih besar darinya. Lelaki itu tak bergeming sedikitpun, malah memunculkan tawanya di telinga Tara yang membuat gadis itu merasakan sensasi aneh. "You frustrate me sometimes, Kak. Kenapa sih mesti jual mahal sama gue? Padahal kita bisa jadi power couple kalo lo mau sama gue. Imagine the bad boy like me and a nerdy boyish girl like you? What an ideal couple".
"I'd rather die than being with you, asshole". Balas Tara.
Calvin memainkan ekspresinya, lelaki itu menjaga jarak wajah mereka tetap dekat, namun tidak lagi saling menyentuh. "Yeah? Then let's have a bet".
Netra cantik milik Tara mengedip beberapa kali saat mendengarnya. "What kind of bet?".
Calvin menjaga nada bicaranya rendah, menggelitik perut Tara hingga ke tengkuknya. "Since you're a racer now, let's have a race bet, Tara". Netra tajam milik Calvin turun ke bibir sang gadis, memandangi labium kemerahan itu yang mengundang Calvin untuk memagut. "Gue yakin lo gak akan bisa kalahin gue kalo kita yang balapan, instead.. Just beat 2 laps in under 3 minutes, since you're a begineer".
Mata Tara membulat, ia benci direndahkan oleh lawannya begini. "Apa konsekuensinya?".
"Kalo lo berhasil, gue gak akan ganggu hidup lo lagi". Balas Calvin yakin. Lelaki itu kemudian menambahkan dengan nada yang tetap terjaga rendah, membuat Tara sampai menggigit bibirnya. "Kalau lo gagal, it means I can fuck you anytime I want".
Tara memekik. "What? Gila lo?".
"Kenapa? Takut? Gue kira nyali lo tinggi, Kak". Balas Calvin makin merendahkan.
Sialan.
Calvin benar-benar makhluk sialan. Sebutan walking red flag memang cocok sekali dengannya.
Gigi Tara sampai bergemeletuk menahan emosinya. "Lo emang cuma liat gue sebagai objek seks ya? Urusan sama lo gak jauh-jauh dari isi celana lo doang, anjing".
Calvin kembali menarik sudut bibirnya. Herannya, bajingan sialan itu malah terlihat makin menarik dengan wajah mengejek seperti sekarang. "Oke, kalo lo takut, gak apa-apa. Gue kira lo gak sepengecut ini, baru gue tantang segampang itu aja udah ciut, gak seru".
Ucapan itu sontak membuat Tara meraih segenggam baju di area leher Calvin dan menariknya geram. "Gue bukan pengecut, bangsat".
Got you.
Calvin yakin Tara sudah masuk ke perangkapnya.
"So, what do you say? Ms. Bravery?". Tantang Calvin lagi.
Tara menimang selama beberapa detik sebelum menyemburkan jawabannya dengan lantang. "Tentuin tempatnya dimana, gak usah banyak bacot".
Dengan itu, Tara melepas secara kasar renggutannya di baju Calvin dan mendorong sang lelaki kencang. Calvin kali ini mengalah, lelaki itu mundur beberapa langkah dan bertepuk tangan. "Gue gak salah pilih orang. Lo emang pantes di gila-gilain, Kak".
Tara menarik tasnya kasar dan bergerak tergesa untuk keluar dari ruang kelasnya, meninggalkan Calvin yang masih memperhatikannya dari tempatnya.
"Dikit lagi, sayang. Dikit lagi lo jadi milik gue". Ucap Calvin senang.
———
"Hah? Sore ini banget? Ini lo dimana?". Tanya Gio dari sambungan telepon.
Tara berjalan dengan gusar sebelum masuk kedalam mobil dan memukul stirnya kencang. "Iya. Ini gue masih dikampus, baru aja kelar. Lo bisa kan, Gi? Sekalian temenin gue latihan deh bentar, gak usah sama Brian".
"Gue telfon orang showroom nya dulu deh. Takutnya gak ada di tempat. Entar gue text lo lagi ya, 10 minutes". Balas Gio sebelum menutup panggilan telepon.
Tara memicingkan matanya, membenci situasi dimana dunia mempertemukannya dengan iblis seperti Calvin. Gadis itu menjambak rambutnya kencang karena frustasi hingga satu panggilan di teleponnya membuatnya tersadar.
"Tara? Udah pulang? Gue jemput ya. Sori tadi pagi gue mesti urus berkas ke Narata, jadi gak bisa anter". Ucap Ken di sambungan telepon.
Tara mengetukkan jemarinya di lingkar kemudi. "Gak usah, Ken. Gue bawa mobil kok. Lo gak usah jemput dulu ya, gue mau cari mobil racing sama Gio, terus lanjut latihan soalnya. Takutnya balik malem".
Ken terdengar kecewa dari sebrang sana. "Oh. Kalo gitu, nanti baliknya aja gue kerumah ya? Bawa makanan buat lo".
"Gak usah repot-repot, lo kan masih urus kampus baru juga. Nanti gue kabarin kalo gue balik lebih cepet ya. Sekarang gue harus nyetir dulu, mau ke bengkel ketemuan sama Gio". Balas Tara lagi.
Ken menarik nafasnya panjang, beginilah bila berurusan dengan gadis keras kepala satu ini. "Yaudah, just.. Keep me updated. Hati-hati. Bales chat gue kalo bisa, biar gue tau lo baik-baik aja".
"Oke". Balas Tara singkat sebelum melajukan kemudinya.
———
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
RomanceGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
