Netra sang gadis lekat membaca tulisan yang ditulis miring pada siaran berita pagi ini. Jantungnya berdetak tak karuan, kopi panas yang sebelumnya ia genggam jatuh meluncur begitu saja ke lantai, menimbulkan bunyi pecah yang membuatnya tersentak.
Status tersangka dijatuhkan kepada saudara CM, seorang pembalap ternama yang saat ini masih dalam pengejaran pihak berwajib akibat tragedi penusukan dan percobaan pembunuhan pada sang Kakak yang identitasnya masih di rahasiakan.
Tara menelan salivanya susah payah, nadinya pun terasa berdenyut dengan tak semestinya. Apakah semua ini gara-gara Tara?
Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi Tara untuk mencerna. Sedang pemandangan kamar apartemen Calvin yang dipasangi garis polisi jelas terlihat di tayangan televisi. Dilanjutkan dengan reka adegan menggunakan grafis yang membuat perut Tara sontak mual. Perlakuan itu begitu menyeramkan, begitu keji.
Ini benar-benar kesalahan Tara. Sudah pasti kepergiannya adalah pemicu dari kejadian tragis ini. Calvin yang dulunya memiliki karir gemilang di dunia balap itu, kini tercoreng jelas namanya setelah mereka bertemu.
Apakah Tara justru adalah penyebab dari perilaku gila sang lelaki?
Otak Tara terasa buntu selama beberapa waktu. Pikirannya statis. Status tersangka dan dalam pengejaran? Tara sampai tidak habis pikir mempelajari isi kepala Calvin. Gadis itu memang sempat memikirkan kemungkinan terburuk dengan perilaku sang lelaki, tapi untuk melakukan percobaan pembunuhan ke seseorang yang bukan dirinya merupakan hal yang luput dari perkiraannya.
Dimana Calvin sekarang? Kemana kemungkinannya lelaki itu berada?
Luar negri.. Tidak mungkin. Luar kota.. Tapi kemana?
Tara menjambak rambutnya frustasi. "Mikir Tara, mikir. Kemana biasanya seseorang sembunyi setelah melakukan hal yang diluar keinginannya?". Ujar sang gadis bermonolog.
Sedetik kemudian, kedua mata Tara membulat, seakan baru mengingat hal penting yang terjadi tak beberapa lama yang lalu. "No way... Gak mungkin kan?".
———
Dengan susah payah, Tara berlarian kesana, sebuah bangunan tua dengan pekarangan luas tempat Calvin sempat membawanya beberapa waktu lalu. Dari luar, tempat itu terlihat begitu tenang, tidak ada satupun suara yang terdengar. Gadis itu membulatkan tekadnya, memberanikan diri untuk berjalan mendekat dan memasuki area rumah yang tak terawat itu.
Matanya kian membulat saat menemukan jejak sepatu di lantai yang kotor, yang mengarah pada satu ruang kosong diujung ruangan. Lagi-lagi, Tara menelan salivanya, gadis itu meraih ponselnya dan mengetik sesuatu disana, sebelum memberanikan diri untuk berjalan mendekat dan mendorong pintu yang nyaris rusak itu perlahan.
Seperti tersambar petir di siang bolong, Tara menyaksikan bagaimana seseorang di ujung sana meringkuk dengan kepala yang ditundukkan. Siapapun ia, sepertinya lelaki itu benar-benar tidak sadar akan kehadiran Tara.
Meskipun penuh rasa takut, Tara berjalan mendekat dan mulai memperhatikan dengan detail beberapa bagian dari orang yang tengah meringkuk di hadapannya, dan hati sang gadis langsung mencelos saat meyakini bahwa sosok di hadapannya itu benar yang ia cari.
"Calvin..".
———
Calvin merasakan kesadarannya perlahan pulih saat suara itu memanggilnya lagi. Aneh sekali, padahal, semalam ia ingat tidak menenggak pil sebelum jatuh tertidur dengan posisi duduk. Tapi, mengapa sekarang ia mendengar suara Tara memanggilnya lagi?
"Calvin".
Suara Tara makin jelas di telinga Calvin, membuatnya perlahan membuka mata dan mendongak untuk menemukan wajah penuh khawatir dari sang gadis. Bukannya terkejut, Calvin malah kembali menjatuhkan pandangannya ke bawah sembari terkekeh. "Kenapa gue halusinasi terus sih? Sakit, bangsat".
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
RomanceGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
