Slight 🔞
———
Calvin memilih duduk dihadapan keduanya, setelah lebih dulu melakukan tos dengan Gio dan Brian. Lelaki itu meneliti kearah Tara yang tengah bergelung lemah di pelukan Ken, dengan kepala terjatuh nyaman di sisi pundak sang lelaki.
Calvin tersenyum miring, sebelum mulai menyalakan rokoknya untuk dihisap dalam. "Cewek lo udah horny gitu, gak lo bawa pulang aja? Malah lo ladenin di sini".
Ken mengetatkan rahangnya, merasakan kedua tangannya mulai mengepal tanpa sadar. Bukannya berhenti, Calvin meneruskan celotehnya, setelah lebih dulu menenggak gelas tequilla-Nya. "Kalo lo gak mau, gue bisa bantu penuhin maunya".
"Bisa stop ngomong gak lo, bajingan?". Desis Ken geram, lelaki itu merasakan pergerakan Tara di pangkuannya, gadis itu seperti terganggu dan menoleh kearah Calvin, yang sudah lebih dulu menatapinya.
Tara memakukan tatapannya, seakan mencoba menganalisa siapa manusia yang tengah melihatinya dari tadi. Gadis itu kemudian menggeleng dan kembali menatap kearah Ken, berbicara dengan susah payah. "Siapa sih? Ganggu aja".
Ken menunjukkan senyuman mengejek saat mendengar ucapan Tara, menaikkan satu alisnya dan melempar tatapan sinis pada Calvin yang terlihat masih santai disana.
"Gak tau, mau nontonin kita kayaknya. Wanna show him some more?". Ucap Ken, terbawa akan kompetisi yang berada di depan matanya. Sebagian lagi, salahkan pada alkohol dan gadis yang dengan nyaman duduk di pangkuannya.
Tara terkekeh dan menundukkan wajahnya kembali. "Kiss me again, Kenneth".
Tanpa pikir panjang, Ken menuruti keinginan setan cilik di pangkuannya, yang nampaknya tengah dibawah pengaruh alkohol dan gairah yang tinggi karena pacuan adrenalin sore hari tadi di arena balap. Mereka kembali saling mengecap, melibatkan indera pengecap yang saling bersambut, tak lagi perduli dengan sekitarnya.
Disisi lain, hal itu sukses menyulut emosi seseorang yang masih setia menatap penuh benci kearah dua manusia didepannya, batinnya memang memaki, namun ekspresinya tetap terjaga, tenang bagai tak terpengaruh. Calvin malah menenggak gelas minumannya sekali lagi, berupaya menyambut alkohol di aliran darahnya agar ikut high.
Calvin melihat dengan jelas bagaimana Tara mulai menggerakkan pinggulnya asal, seperti menciptakan friksi yang menggoda Ken dibawahnya, dan juga menggoda Calvin yang berada tepat di belakangnya. Entah disengaja atau tidak, gadis itu berhasil membuat netra Calvin berpaku pada bokong yang bekerja maju mundur secara susah payah, menggesek
bagian inti Ken dibawahnya.
Hal itu sungguh membawa pengaruh besar untuk Ken, yang makin tersiksa karena gerakan asal gadis diatasnya membuatnya mengeras. Makin Tara aktif bergerak, makin lumpuh sel-sel otak Ken dan segala pikiran postitifnya. Yang ada di otak Ken sekarang adalah; bagaimana caranya menyatukan tubuh mereka segera, mengejar rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, sebagian kecil otak Ken masih bekerja, hingga ia mendorong pundak Tara untuk melepas pagutan mereka. "Berenti, Tar, berhenti. Gue takut lost control".
Gadis itu tak peduli, nafasnya kian memburu, mencari telinga Ken untuk berbisik dengan rendahnya. "Take me to your place. Lost control on me, don't you wanna fuck me tonight?".
Calvin memperhatikan bagaimana setelahnya, Tara mengecupi leher Ken, membuat lelaki itu sampai terpejam karena cumbuan yang tak henti. Calvin mendesis dan terkekeh melecehkan. "Dasar amatir lo, masa iya cewek lo yang gerak. Udah sini deh, kasih dia ke gue. Biar gue yang puasin".
Ken balas terkekeh lebih sinis. "Gak usah mimpi, dia bahkan gak inget siapa lo, anjing".
Calvin tertawa lebih kencang, tubuhnya sampai bergetar. "Itu karena gue belom sentuh dia, kalo udah gue sentuh juga dia inget. Sentuhan gue jauh dari kata amatir kayak tontonan gue sekarang".
Ditengah percakapan itu, jemari Tara ternyata berupaya melepas ikatan belt di pinggang Ken, membuat lelaki itu terkesiap dan menarik tangan mungil milik gadis itu guna menghalau. Ken menggeleng. "Mau ngapain, Tar? Lo udah kelewat mabuk, kita pulang aja ya?".
Calvin panas, betul-betul panas melihat gadis itu kelinjangan mencari sentuhan lelaki lain yang bukan dia.
Jadi, Calvin mendesis kasar. "Dasar pelacur".
Ken mendengar ucapan itu di telinganya, kemudian memaksa Tara untuk bangkit dari pangkuannya. Ia bersumpah akan menghajar Calvin hingga babak belur dan berakhir di rumah sakit. "Bangun, Tar".
"Gak mau". Rengek Tara balik, malah makin bergelendot dengan Ken.
Calvin yang muak bukan main berakhir bangkit dan menarik lepas Tara dari dekapan Ken, menariknya kasar hingga menubruk tubuh Calvin sendiri. "Jangan kayak cewek gak berpendidikan yang jual diri deh lo, mau ngewe kan? Gak usah minta ke cowok lain. Biar gue ingetin gimana rasanya".
Ken tentu saja tak tinggal diam, lelaki itu maju dan merebut kembali Tara yang langsung limbung ke pelukan Ken, nampaknya kesadaran gadis itu sudah resmi lenyap hingga ia hampir tersungkur. "Get your hands off her, bangsat. Jangan pegang-pegang Tara, tangan lo kotor".
Gio dan Brian yang menyaksikan ketegangan itu berakhir menghampiri dengan kondisi diambang kesadaran dan berupaya memisahkan.
Brian lebih dulu merangsek diantara keduanya. "Stop, stop. Ngapain sih lo berdua? Jangan kayak orang gila deh, berantem disini".
Ken berakhir memindahkan Tara dari pelukannya kepada Gio, yang masih terlihat kebingungan. "Gi, tolong bawa Tara ke mobil gue, kunciin dia disana sampai gue kesana. Cuma lo yang bisa gue percaya. Gue perlu ngomong sama si anjing ini".
Gio yang masih kebingungan itu menerima Tara dan mengangguk, membopong gadis itu hingga ke parkiran dengan hati-hati. "Tar, Tara? Bisa jalan kan? Jalan dikit ke parkiran ya".
Gadis itu hanya mengangguk dan berjalan dengan tertatih, mengikuti arahan Gio yang langsung memasukannya ke sisi penumpang mobil dan menguncikannya disana, sesuai arahan Ken, Gio kemudian menyalakan sebatang rokok dan berjaga di depan mobil, menoleh sesekali untuk mengecek keadaan Tara yang nampaknya sudah tertidur pulas.
Didalam club, situasi makin memanas. Setelah kepergian Tara, Calvin dan Ken kembali duduk bersebrangan di sofa, masing-masing dari mereka memasang tatapan membunuh. Ken lebih dulu membuka obrolan, Brian bersiaga di samping sofa mereka, memperhatikan pergerakan keduanya yang masih bersitegang.
"Mau lo apa sih? Ngapain ganggu Tara terus? Ada urusan apa lo sama dia?". Cetus Ken penuh selidik.
Calvin menarik ujung bibirnya keatas, menghirup dalam dan membuang asap rokoknya asal. "Urusan gue sama dia bukan urusan lo".
Ken menggebrak meja di hadapan mereka, membuat beberapa botol dan gelas kosong berjatuhan diatas sana. "Urusan dia urusan gue juga, anjing".
Calvin meneliti wajah dihadapannya, sebelum mematikan ujung rokoknya dengan menekan sisa puntung rokok itu keatas meja dan memajukan tubuhnya, menantang Ken yang masih menatap nyalang padanya.
"Okay gue kasih tau sama lo kenapa gue ganggu dia terus.. Gue, terobsesi sama dia. I'm crazy for her, man. She will be mine no matter what". Ucap Calvin tenang.
Ken menatap jijik kearah wajah serius di hadapannya, mencoba memahami bahwa lawan bicaranya itu mungkin memang memiliki gangguan jiwa dan bukan manusia waras, karena detik selanjutnya, Calvin tersenyum puas dan beranjak bangkit.
"So, go on. Keep on being her perfect damsel in distress, guardian angel, prince charming. Tapi pada akhirnya dia akan tetep bertekuk lutut sama gue, iblis yang akan menjerat dia ke pelukan gue, selamanya". Ucap Calvin lagi, dengan nada yang jauh lebih dingin dan rendah dari sebelumnya.
———
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
RomanceGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
