Chapter 64 - Behind The Bars

1.7K 125 14
                                        

Setelah berhasil masuk ke dalam ruangan dengan dituntun dari belakang, pada akhirnya penutup wajah Calvin dibuka, membuatnya mengerjap berulang kali mencoba membiasakan diri dengan cahaya ruangan yang berpendar. Ruangan sempit itu bernuansa kehitaman, dengan sebuah meja dan seseorang yang sudah lebih dulu duduk disana.

"Calvin Pramudya Morritz". Panggil seorang lelaki di hadapan Calvin. "Tahu kenapa kamu disini?".

Calvin hanya memandang, namun tidak sedikitpun memberi jawaban. Matanya yang sayu, berupaya kuat untuk tetap terjaga dan tidak tertutup. Lelaki di hadapan Calvin beralih untuk menatap Calvin lebih lekat. "Saya Devon, cuma ingin ngobrol".

Calvin tetap menjaga lisannya, lelaki itu total terdiam, sampai satu pertanyaan membuat netranya membesar. Devon menekankan kata-katanya. "Kamu tahu keadaan Kakakmu sekarang?".

Berhasil, detektif yang bertugas di hadapan Calvin memang terbilang lihai membawa suasana interogasi menjadi terarah. Meski ekspresi Calvin berubah, nyatanya Devon belum berhasil mencari informasi dari mulut lelaki itu. Jadilah, Devon memajukan duduknya. "Bisa ceritakan kejadian hari itu, Calvin?".

"Lepasin gue". Balas Calvin, merujuk pada borgol yang masih terpasang di kedua tangannya dengan erat.

Melihatnya, Devon langsung mengisyaratkan kedua orang yang berada di kanan dan kiri Calvin untuk menuruti keinginan lelaki itu. Dalam sekejap, tangan Calvin kembali terbebas, membuat lelaki itu menghela nafas lega.

"What's the motive?". Tanya Devon lagi, mengerucut pada alasan penusukan sang lelaki pada sang Kakak.

Calvin menatap dengan tatapan elangnya. "Hatred".

Devon memiringkan kepalanya ke kiri. "Kamu benci Kakakmu? Apa kesalahannya sampai kamu sebenci itu?".

Lagi-lagi, Calvin bungkam. Lelaki itu memilih tak berucap sepatah kata pun lagi selain menatap Devon nyalang. Belum selesai obrolan yang berjalan nyaris sepihak itu, seseorang lagi masuk dan membisikkan sesuatu di telinga Devon, membuat lelaki itu mengerutkan keningnya.

"Suruh tunggu saya diluar". Balas Devon sebelum kembali menancapkan perhatiannya pada Calvin. "Saya kasih kamu waktu sementara saya keluar, pikirkan. Kalau kamu bersikeras untuk terus bungkam, nantinya bisa memberatkan hukumanmu di dalam sel".

Calvin mendengus, merasa tak lagi peduli dengan segala ancaman yang jatuh kepadanya. Lelaki itu memilin ujung baju yang ia kenakan, menunggu untuk waktu yang cukup lama, sebelum pintu ruangan kembali terbuka dan menunjukkan seseorang dengan pakaian rapi berjas, melangkah masuk dan duduk di hadapannya.

Tatapan lelaki di hadapannya bengis, seakan menguliti Calvin tanpa berlaku demikian. "Akhirnya kita bertemu".

Calvin mengerutkan keningnya, merasa tidak mengenal sosok di hadapannya. "Gue gak kenal lo".

"Saya juga berharap gak kenal kamu. Sadly, you almost killed my fiance. Your sister, Claire". Balas lelaki itu dengan nada dingin.

Calvin memperhatikan dengan baik lelaki di hadapannya, otaknya mulai berpikir dengan susah payah. Lelaki di depannya ini, tunangan Claire? Sejak kapan Claire punya kekasih?

"Still, gue gak punya urusan sama lo". Balas Calvin sama dinginnya.

Sang lelaki terkekeh. "Kalau saya jadi kamu, saya gak akan sepercaya diri itu".

Calvin menggemeletukkan giginya geram. Detik selanjutnya, lelaki di hadapan Calvin mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam kantung jasnya dan memantik sebatang sebelum menghirupnya. "Saya Askara".

A MILE AWAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang