Ken membuka pintu kamar dan menyaksikan betapa bengkaknya sepasang mata milik gadis cantik itu. Tanpa banyak berkata, Ken langsung berlutut dan memagut bibir Tara, membiarkan airmata milik sang gadis jatuh juga di pipinya. Tara yang kebingungan memilih membalas, dan merasakan sapuan di pipinya saat ciuman itu terurai. "Maafin aku, Tara".
Bukan, bukan Ken yang harus minta maaf. Batin Tara berucap.
"Tapi aku yang harusnya minta maa..". Kata-kata itu tertahan karena Ken lebih dulu memotong ucapannya.
"Aku percaya kamu". Ucap Ken lantang, membuat netra Tara membuka lebar. "Aku percaya kamu, sayang".
Dapat dipastikan, Ken adalah seseorang dengan pemikiran paling dewasa dan juga kontrol emosi yang paling baik. "Aku tetep minta maaf, harusnya aku hargain kamu sebagai pacarku dan kasih tau lebih dulu".
Ken menggeleng. "Jangan dibahas lagi, ya. Anggep aja hari ini gak pernah ada. Yang penting sekarang kamu udah disini".
Tara tak dapat menahan tangisannya untuk tidak pecah, gadis itu membenamkan wajahnya di pelukan Ken dan membiarkan sang lelaki memeluknya erat. "Aku sayang kamu, Kenneth".
"Aku tahu. Aku juga sayang kamu, Tar, sayang banget".
———
'Calvin Pramudya Morritz mengundurkan diri dari dunia balap'
Nyatanya, headline itu muncul sebagai obrolan paling ramai dibicangkan di kampus Tara. Kabar mencengangkan itu hadir ke permukaan setelah munculnya artikel berita yang menyuarakan perihal keputusan mundurnya Calvin dari kegiatan yang paling tak bisa dipisahkan darinya itu. Alasan yang diberikan ialah karena ingin fokus berkuliah.
Sang pemilik kabar tidak sekalipun menunjukkan batang hidungnya sejak kabar itu tersebar luas. Beberapa berspekulasi, mundurnya Calvin dari dunia yang paling ia kuasai adalah karena lelaki itu bosan. Ada juga yang berpendapat karena Calvin tidak lagi becus di arena balap.
Namun tak pernah ada yang mengetahui alasan sebenarnya dari peristiwa itu, dimana Calvin perlu waktu berpikir sekitar 2 minggu, menghabiskan pagi dan malamnya dengan obat-obatan terlarang dan alkohol, guna mencari jawaban terbaik yang perlu ia dapatkan.
Pasalnya, pilihannya kali ini benar-benar berat. Diantara Tara dan dunia racing, dua-duanya sama berartinya bagi Calvin, tanpa terkecuali. Bukan keputusan yang mudah memilih salah satunya disaat hidup Calvin bergantung pada dua aspek besar itu.
Saat Tara mendengar kabar itu, ia tak lagi mengulas senyum. Sebab, keinginannya membalaskan dendam sekaligus melihat kehancuran Calvin memang pelan-pelan berhasil, tapi satu sudut di hatinya merasakan tidak tenang. Entah, semenjak melihat dan mempelajari perilaku Calvin, Tara merasakan ada yang salah dengan sang lelaki, dan sisi manusiawinya berkata lain.
Tara bahkan mencoba menemui Calvin hari itu, dimana sang lelaki bak hilang ditelan bumi. Dan akhirnya Tara berhasil menemuinya di area pekarangan kampus, area yang tak cukup sering dikunjungi mahasiswa. Calvin berdiri disana sembari melinting sesuatu di tangannya. Tara memberanikan diri mendekat, membuat pandangan Calvin beralih padanya.
"Calv". Panggil Tara pelan, gadis itu menemukan sorot mata tak biasa dari Calvin, jauh lebih lebih redup dari biasanya. Tara menelan salivanya susah sebelum bertanya. "Soal yang ada di media.. Itu bener?".
Calvin menghindari pandangan Tara, menatap lintingan di tangannya. "Kamu mau juga gak, Kak?". Ucap Calvin, merujuk pada sebuah lintingan yang sudah tergulung rapi.
Tara menggeleng kuat. "Jawab, Calv. Did you really quit racing as what's written everywhere?".
Calvin memantik lintingannya, kemudian menghisapnya dalam sebelum membuangnya. "Kamu kalo berdiri kedeketan nanti kena asapnya, Kak. Nanti ikutan kena efeknya, munduran kamu".
Tara menurut, mengambil langkah mundur selangkah dan menunggu jawaban dari sang lelaki. Calvin menatap Tara dan mengangguk pelan. "Soal aku, itu bener, Kak. Kemarin aku udah bilang ke coach untuk quit racing. So, Bali was my last race after all".
Netra Tara membesar, lagi-lagi sang gadis menelan salivanya. "The reason behind it.. Was it because of me?".
Calvin terkekeh pahit. "Kenapa masih nanya sih? Aku kan lakuin itu untuk menuhin janjiku ke kamu. Supaya aku bisa dapat maafmu, Tara".
Sang lelaki menatap Tara dalam, sebelum berujung membuang lintingan ganjanya ke bawah dan mengusaknya hingga menyatu dengan tanah. Calvin maju beberapa langkah, mengikis jaraknya dan Tara. "I'm kinda high right now, Kak. Tapi anehnya, di mataku kamu tetep cantik.. Kok bisa ya?".
"Calv". Panggil Tara saat jemari Calvin menempel di pipinya, mengelus pelan. Jarak bibir mereka sudah semakin dekat karena Calvin terus saja mengikis jaraknya, namun sontak terhenti saat kata-kata itu meluncur dari bibir Tara.
"Calv, tell me now.. Are you obsessed with me?". Ucap Tara tiba-tiba.
Calvin menatap dengan seksama wajah Tara dan berakhir menyatukan bibir keduanya, mencium Tara dalam sebelum melepasnya untuk menjawab. "Of course I am, Girisha. Aku tergila-gila sama kamu, cuma sama kamu".
Tara menatap tak percaya, mulai berhasil menyimpulkan kebenaran dari ucapan Calvin yang nampaknya tak lelaki itu sadari. "Kissing you feels so right. Kamu harusnya jadi punyaku, Kak. Karena gak ada yang boleh milikin kamu selain aku".
Calvin hampir saja menyatukan bibir mereka kembali sebelum Tara mendorong dadanya pelan guna memberi jarak. "Quit doing drugs, Calv".
Sang lelaki menatap bingung. "Why should I?".
"It's no good for you". Balas Tara lagi,
Calvin terkekeh. "Alasannya gak bikin aku pengen berhenti, Kak".
"Gue gak suka pemakai". Cetus Tara berdeklarasi, mata mereka kini saling terhubung, tenggelam dalam emosi masing-masing. "Lo mau berhenti kan kalau alasannya gue, Calv?".
Calvin menelan getir, namun berakhir mengangguk. "Iya, aku mau, Tara".
Tara mengangguk, keringat dinginnya sudah menghiasi kening. "Good. Bagus. You promise?".
"I promise. Tapi.. Aku gak tau gimana caranya, aku bisa sakau kalau langsung berhenti". Balas Calvin polos, kini menunduk menatapi ujung sepatu mereka.
Tara bak tengah berbicara dengan anak kecil rasanya, sebab Calvin yang ia lihat sekarang begitu penurut, begitu mendengarkan dirinya. "Go to rehab, Calv. Pelan-pelan, gue akan temenin".
Mata Calvin bersinar mendengarnya. "Really? Kamu temenin aku rehab, Kak?".
Tara mengangguk yakin, memilih menyetujui meski hal ini memang jujur saja beresiko untuknya. "Iya, asal lo serius lakuinnya".
Calvin mengambil tangan Tara dan menggenggamnya erat, menciumi telapak dan punggung tangannya beberapa kali saking senangnya. "I will, Kak. Aku janji aku akan rajin rehab sampai sembuh, asalkan sama kamu. Aku bisa janji".
Saat seperti ini, Tara makin sadar akan perilaku obsesif yang Calvin miliki, dan hati kecilnya seakan tergerak untuk membantu secara perlahan, agar sang lelaki bisa kembali berperilaku normal. Tara tahu, menkonfrontasi seseorang yang memiliki perilaku obsesif akan membuatnya jadi tertutup dan bahkan kabur menghilang. Tara hanya perlu waktu dan usaha agar dapat membawa Calvin untuk berobat sesuai dengan yang seharusnya.
Ditambah kenyataan Calvin adalah seorang pecandu obat terlarang, lelaki itu perlu membenahi satu persatu kesalahan yang terjadi di hidupnya, dan Tara bersedia membantu, walau dengan cara yang terbilang manipulatif, tapi juga paling efektif untuk menghadapi sang lelaki saat ini.
———
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
RomanceGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
