⚠️Suicidal Thoughts
———
Calvin pada akhirnya kembali membuka mata, merasakan kehangatan itu di sekujur tubuhnya. Sudah mati kah dia? Kenapa tiba-tiba terasa tenang begini?
Namun perkiraannya akan kematian tiba-tiba saja luruh saat matanya menangkap suasana ruang kamar apartement miliknya. Sensasi hangat makin terasa di area dahi sang lelaki, membuatnya refleks meraih dan menemukan kain hangat disana. Calvin kebingungan, rasanya semalam ia tidak mengompres diri, lantas siapa yang melakukannya?
Tubuhnya juga terselimuti rapi, seakan seseorang membenahi tidurnya dan memastikannya tetap hangat semalaman. Tidak mungkin Tara kan?
Calvin mencoba berdiri, namun kepalanya berputar dan membuatnya hampir terjatuh. Pergerakannya yang tiba-tiba membuat jam weker di nakas terjatuh dan pecah di lantai.
Dan pertanyaan itu akhirnya terjawab, saat seseorang yang ia yakini sebagai orang yang merawatnya semalaman itu masuk kedalam kamar, Claire, sang kakak.
"Vin? Kenapa? Pusing ya? Jangan bangun dulu". Ucap Claire khawatir, gadis itu langsung bergerak untuk membantu Calvin untuk kembali berbaring, namun langsung ditepis oleh sang adik.
"Ngapain lo disini? Gimana caranya lo masuk ke apart gue?". Desis Calvin sinis.
Raut sedih itu langsung tergambar jelas di wajah Claire. "Pas gue dateng pagi tadi, pintu depan gak dikunci, jadi bisa masuk".
Claire tak menyerah, gadis itu kembali membantu Calvin untuk berbaring, namun kali ini, Calvin mendorongnya hingga jatuh. "Lepas, bangsat! Jangan pegang gue. Jijik gue dipegang lo".
Dengan terhuyung, Calvin bangkit dan berjalan keluar dari kamar, mencari kunci mobilnya dan mengenakan jaket kulit miliknya, bergegas meninggalkan Claire yang kini sudah berdiri dan mengikutinya.
"Calvin, lo lagi sakit.. Mau kemana? Badan lo masih demam". Ujar Claire, tidak menghiraukan rasa sakit di area belakang kepalanya karena Calvin mendorongnya cukup keras tadi hingga menabrak tembok.
Calvin tidak menghiraukan, malah terus berjalan hingga sampai di ambang pintu dan terhenti saat Claire meneriakinya dari belakang.
"Gue dateng kesini buat pamitan, Calvin. Setelah ini mungkin kita gak ketemu lagi". Ucap Claire dengan nada bergetar.
Calvin mematung, menunggu kalimat selanjutnya yang akhirnya keluar dari bibir Claire.
"Kakak cuma mau minta maaf sama kamu, Avin. Maaf karena belum bisa jadi Kakak yang baik buat kamu. Tapi setelah ini, Kakak mungkin gak akan ada di Indonesia lagi. Jadi, Kakak mau pamitan sama kamu karena mungkin kita gak akan pernah ketemu lagi untuk waktu yang lama. Gimana pun, kamu tetap adikku, Vin.. Selamanya akan begitu. Aku harap kamu mau maafin Kakak ya". Jelas Claire.
"Pergi aja lo, mati sekalian". Sahut Calvin.
Dan seperti yang sudah dapat diprediksi, Calvin memilih pergi, meninggalkan Claire yang diam seribu bahasa. Calvin pergi keluar dari apartmentnya segera, tanpa pernah menoleh lagi ke belakang untuk sang Kakak.
———
Dengan tenaga yang tak seberapa itu, Calvin berkendara menuju ke satu tujuannya.. Lagi-lagi rumah Tara. Ia betul sudah jatuh, jauh begitu dalam dengan sang gadis. Berharap kali ini ia dapat menatap wajah cantik itu, walau hanya dari kejauhan.
Calvin memang lelaki pengecut. Bahkan untuk turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Tara saja ia tidak memiliki nyali. Pikirannya kosong, seakan nyawanya benar-benar sudah diambang. Cukup lama ia berdiam disana, sebelum berakhir kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bermanuver di jalanan yang kosong karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
RomantikGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
