Chapter 38 - The Confession

2.2K 162 15
                                        

Meentioned of drug use⚠️

———

"Vin, lo dimana? Kita udah di sirkuit. Lo jadi latihan kan?".

Calvin mengerjap sekali, dua kali, tiga kali. Kesadarannya kini tengah diambang batas. Jangankan berdiri, untuk mengangkat panggilan dari Tian saja sudah mati-matian rasanya. Suaranya parau, efek dari alkohol yang dikonsumsi berlebihan.

"Gue skip hari ini". Balas Calvin singkat.

Seusai menghirup serbuk obat terlarang yang sudah dihaluskan tadi, kepala Calvin makin tak beres. Menyetir dalam keadaan high bukan suatu hal yang patut dilakukan demi keselamatan dirinya. Tian sempat mempertanyakan perihal hal tersebut, namun Calvin berdalih kondisinya kurang sehat hari ini, hingga akhirnya mendapat izin dari sang pelatih untuk beristirahat.

Padahal, kondisinya tengah high sejak tak henti menenggak alkohol seusai menyesap serbuk LSD, jenis narkotika yang paling sering ia gunakan saat pikirannya tengah kacau. Sebagai distraksi, katanya. Calvin menjambak rambutnya saat kepalanya mulai terasa berdenyut, bukannya hilang, bayangan Tara malah makin tercetak jelas dikepalanya.

"Gue kenapa mikirin lo mulu sih, Tara". Rintih Calvin ditengah euphorianya.

Berada di sudut kasur ruang kamar apartmentnya, membuatnya jauh dari jangkauan luar. Lelaki itu mulai terbawa larut dalam gemuruh di dalam diri yang membuatnya tertawa dan terkekeh sendiri. Efek obat terlarang itu membuat moodnya naik-turun tak karuan.

"Girisha Triastara Briel...". Kekeh Calvin tak henti, seakan nama Tara terasa lucu untuknya.

Tidak ada yang pernah mengerti pikiran seseorang yang tengah dipengaruhi efek zat adiktif yang tidak legal itu, terlebih, pikiran Calvin yang tengah kalut-kalutnya. "Apa gue hamilin lo aja ya? Biar lo gak kemana-mana lagi.. Sama gue doang".

Calvin tertawa lepas akan pikirannya sendiri, kemudian menunduk untuk memandangi kedua tangannya. "Tapi gue hampir bunuh lo.. Gue tolol".

Monolog Calvin terus bergema di ruangan kamarnya, kemudian berakhir dengan isakan pelan, yang entah sudah berapa lama tak pernah terdengar dari diri sang lelaki sejak ia beranjak dewasa. Terakhir Calvin menangis, seingatnya, saat ia masih kecil. Saat Calvin merasa kesepian bercampur kecewa, karena keluarga kecilnya harus terpisah begitu saja.

Saat Claire, sang kakak, berujung tak menepati janji dan meninggalkannya dan membiarkannya menangis sendirian.

Saat ini, mungkin adalah saat Calvin paling terbuka. Meski dengan tanpa kesadaran diri yang baik, namun dirinya yang sekarang menangis terseguk ini adalah dirinya yang asli, yang dulu begitu terluka dalam dan tidak terobati hingga kini. Saat inilah, Calvin merasa paling lemah. Hatinya terasa nyeri.

Entah mana yang lebih menyedihkan baginya; mengetahui kenyataan bahwa pada akhirnya ia benar-benar jatuh cinta untuk pertama kalinya dan tak berbalas, atau menelan fakta bahwa ia memang seorang keji yang tak berperasaan, yang hampir saja menyebabkan nyawa orang yang ia cintai melayang begitu saja.

———

Ken menatap bingung kearah Tara, merasakan jantungnya hampir meledak karena pertanyaan mendadak dari sang gadis. Ken bingung bukan main, lantaran perasaannya untuk Tara memang sudah jelas, tapi ia juga tahu betul, selama ini Tara seakan tak menganggapnya. Ken bahkan tahu betul, dibelakangnya, berulang kali gadis itu bahkan kembali berhubungan dengan Calvin.

Meski di hadapannya, Tara selalu menyangkal, tapi Ken selalu meyakini kalau Tara memiliki rasa untuk Calvin dan sama sekali tak mengetahui perasaan Ken untuknya. Ken berkedip berulang kali, berusaha meyakini dirinya kini sedang tidak bermimpi. "Kenapa.. Nanya gitu?".

"Mau tahu isi hati lo, Ken". Balas Tara singkat.

Ken kembali menutup mulutnya, bimbang akan keputusan apa yang harus ia ambil. Berkata jujur? Atau justru menutupinya?

Jemari Tara mengelus pipi Ken pelan, menyusurkan hangat di permukaan kulit sang lelaki. "Boleh gue tau isi hati lo yang sebenarnya?".

Perang batin itu berangsur cukup lama, berulang kali hendak berkata namun urung. Hingga akhirnya Ken memilih mengikuti intuisinya.

"Gue sayang lo, Tara". Balas Ken, berupaya mencari kata yang paling tepat, kemudian menambahkan. "No, let me revise it. Yes, it is love. I do love you, Girisha Triastara Briel".

Tara menatap tak percaya selama beberapa detik, kemudian tersenyum. "Lo mau pacaran?".

"Hah?". Sontak, Ken terkejut. Confession jenis apa ini?

"Iya. Pacaran sama gue, Ken. Jadi pacar pertama gue". Ucap Tara lagi, membuat kening Ken makin berkerut.

Perasaan Ken acak, antara bingung, senang, juga khawatir. Lantaran ajakan menjalani hubungan ini begitu tiba-tiba untuknya, beberapa hari lalu mereka bahkan masih saling tak berbicara. "Kenapa tiba-tiba? Lo kenapa, Tara?".

Senyum Tara menghilang, kemudian berganti dengan raut lain, antara luka, sedih dan juga amarah. "Biar lo punya hak atas gue. Lo tau selama ini gue masih berhubungan sama Calvin kan?". Tara menggenggam kedua tangan Ken erat. "Gue mau lo punya hak untuk larang gue sebagai pacar gue, Ken. Batasin gue supaya Calvin gak bisa manfaatin gue lagi. Marahin gue kalo sampe gue ngelanggar".

Perlahan, Ken mengerti maksud Tara. Lelaki itu menyaksikan bagaimana Tara bersusah payah menahan tangisannya. "Lo tau kan Calvin hampir bunuh gue? I could've died. Gue benci dia".

Melihat raut sedih dan takut itu berpadu di wajah cantik Tara, membuat Ken ingin menghajar Calvin habis-habisan hingga tak bernyawa. Untuk Tara, semua akan Ken lakukan, meski itu artinya ia harus mendekam di belakang jeruji karena menghilangkan nyawa seseorang.

"Gue mohon, Kenneth.. Gue mohon. Bantu gue.. Gue mohon". Ucap Tara lemah, memohon pada Ken untuk mengabulkan keinginannya.

Ken berakhir mendekap figur Tara, membawa tenang untuknya. "Lo gak perlu mohon, Tara. Gak perlu sampai segininya. I'll do whatever you want. Lo mau kita pacaran? Let's do it. Tapi itu artinya lo harus siap, setelah lo pacaran sama gue nanti, lo gak akan pernah liat muka Calvin lagi seumur hidup lo".

"Gak bisa, Ken. Pada akhirnya nanti gue harus ketemu dia. Gue mau dia buat dia hancur pake tangan gue sendiri". Balas Tara lagi.

Argumen itu akhirnya terselesaikan dengan ucapan Ken yang tegas. "Oke. Tapi gue akan pastiin dia gak akan sentuh lo seujung rambut pun. Sampai dia berani sentuh, gue pastiin mukanya hancur karena gue".

"Dan satu lagi". Ucap Ken menggantung, membuat Tara sampai melepaskan pelukan dan menatap serius kearah sang lelaki. Tatapan Ken begitu dalam untuknya, seakan tengah memberi peringatan. "Kalo kita pacaran, itu artinya kita serius pacaran. Bukan sekedar main-main buat manas-manasin Calvin. Jadi, gue harap lo bisa berkomitmen dan jaga kepercayaan gue".

Tara mengerti maksud Ken, gadis itu mengangguk perlahan. "Gue janji akan jaga kepercayaan lo, Kenneth".

Dan disanalah akhirnya, Ken menyegel sumpah mereka dengan sebuah ciuman, menggeser segala rasa bimbang dan kalutnya yang berkecamuk. Sebab, Ken tahu, diakui atau tidak, selain untuk balas dendam, kini Tara tengah mencari pelarian atas Calvin. Dan pelarian yang gadis itu pilih adalah Ken.

Ken bahkan tidak pernah tahu isi hati Tara untuknya, sebab sampai detik terakhir mereka memutuskan untuk bersama, ucapan cinta tidak pernah terucap dari bibir Tara untuknya.

———

UDAH KU WANTI-WANTI LOH YA INI CERITANYA FUCKED UP BGT, jadi jangan demo ak tolong. Gak terima demo dulu di judul ini WKWKWKKWK 🙂🙂

A MILE AWAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang