Hal yang paling Ken takutkan selama ini akhirnya terjadi, saat mobil yang Tara kendarai ditabrak oleh mobil lain dan berakhir tersingkir l ke pinggir sirkuit. Mobil itu berputar sebanyak dua kali dan terseret ke ujung, membuat dengingan yang memekik telinga untuk sekitar. Pendengaran Ken sempat kabur untuk beberapa saat, seakan takut mengetahui keadaan Tara didalam.
Setelah kesadarannya kembali, Ken langsung berlari ke tempat dimana mobil Tara berhenti, asap mengepul di sisi kap mobil milik sang gadis, sedangkan Tara belum sama sekali keluar dari sana. Beberapa orang mengerumun, termasuk diantaranya ialah Gio dan Brian. Namun Ken merangsek keramaian dan membuka paksa pintu mobil Tara yang nampak penyok di bagian tengahnya, gadis itu nampak lemas dan terduduk di dalam dengan nafas yang memburu.
Ken langsung membuka helm yang gadis itu kenakan dan memastikan sang gadis dalam keadaan baik-baik saja. Namun ternyata tidak. Hati Ken hancur saat melihat sudut bibir Tara yang berdarah, bagian pelipisnya juga membiru bak terkena guncangan hebat. Tubuh Tara terlihat bergetar, nampaknya syok karena ini adalah insiden pertama Tara dalam urusan balap membalap.
Mata sang gadis tak mampu berfokus, tatapannya begitu kosong dan jemarinya bergetar hebat. Ken berupaya keras mengambil alih kembali kesadarannya. "Hey, Tara. Hey, liat gue. Mana yang sakit?".
Akhirnya, mata Tara mulai berfokus pada Ken dan ringisan mulai terdengar terbata. "Ken.. Gue... Gue.. Takut".
Ken langsung memeluk tubuh yang bergetar itu, meredam ketakutan sang gadis yang menyasar ke seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian, tim medis mulai berdatangan dengan membawa tandu. Ken yang lebih dulu menyadari, langsung berupaya melepas pelukannya, namun Tara enggan melepas, malah semakin erat memeluk leher Ken.
"Jangan dilepas, gak mau. Gue takut. Jangan tinggalin gue, Kenneth". Rengek Tara terdengar seumpama tangisan.
Hati Ken hancur bukan main menyaksikan gadis yang biasanya riang dan bersemangat itu jadi ketakutan bukan main. "Gak ditinggal kemana-mana kok, lepas sebentar ya, biar lo dibawa sama tim medis. Biar bisa diliat luka-lukanya sama dicek, takutnya ada yang patah".
Tara akhirnya menuruti, melepas pelukan sang lelaki dan menunjukkan hidung kemerahan itu saat pelukannya dilepas. Ken memberi senyuman dan mengisyaratkan pada tim medis untuk membawa Tara. Sebenarnya bisa saja ia menginisiasi menggendong Tara keluar dari mobil, namun, ia tahu bahayanya mengangkat langsung seseorang yang baru terkena kecelakaan seperti itu, bisa saja terkena fraktur serfikal maupun saraf terjepit. Pilihan memakai tandu adalah satu-satunya opsi yang bisa dilakukan disaat seperti ini.
Ken mengekor saat tim medis membawa Tara kedalam ruang sempit dan mulai mengeksaminasinya. Jantung Ken bagai ditombak karena setelah dilakukan pemeriksaan, selain luka yang terlihat di tubuh Tara, ternyata terjadi keretakan pada bagian tulang pergelangan kaki Tara yang sebelah kanan karena himpitan yang terjadi didalam mobil.
"Ada fraktur di daerah ankle nya, ini mungkin gak perlu di operasi, cuma takes long untuk recovery nya". Jelas salah seorang dari tim medis.
Mata sang gadis langsung membelalak. Tidak mungkin. Pantas saja area tersebut terasa begitu sakit sampai kebas sejak tadi. Tim medis yang bertugas langsung memberi pertolongan pertama dengan membebat luka tersebut dengan lilitan perban. "Untungnya area tulang belakangnya aman, gak menunjukkan ada fraktur. Ini kami rujuk ke rumah sakit untuk pengecekan lebih lanjut ya".
"Gak usah". Bantah Tara.
"Tara". Panggil Ken memperingatkan.
Tara menggeleng. "Gak mau, Ken. Gue mau pulang aja".
Brian yang menyaksikan kejadian itu menepuk pundak Ken. "Turutin aja, Bro. Gue ngerti gimana syoknya Tara. Nanti kalo dia udah lebih tenang, baru ajak ke rumah sakit buat cek".
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
Roman d'amourGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
