Tara tahu itu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan besar yang seharusnya dapat ia perkirakan sebelumnya.
Bagaimana Calvin menariknya mendekat, mendekap tubuhnya sekali lagi sebelum berakhir memberi kecupan di bibir Tara, kecupan yang awalnya terasa selembut kapas, kemudian mulai menuntut bak memiliki hak terhadapnya.
Tara tahu betul konsekuensi dari perkara yang ia lakukan, tapi semua terjadi secara spontan. Kejadian yang memicu benang kusut dari keduanya itu diawali sejak Calvin mengantar Tara ke penginapan, motor harley berwarna hitam itu meliak-liuk di jalanan seminyak, menerobos angin malam yang membuat tubuh Tara menggigil. Gadis itu awalnya tak berpegangan, hanya mempercayakan dirinya dibawa dalam kecepatan tinggi oleh sang lelaki. Hingga akhirnya villa tempat Tara mulai terlihat di ujung jalan.
Tara lebih dulu turun, merapikan letak jaket milik Calvin yang ia pakai, dan berniat langsung masuk kedalam setelah berterimakasih pada Calvin, tapi sang lelaki menahan lengannya. Pandangannya teduh pada Tara, meneliti dan merasakan betapa dinginnya tubuh sang gadis di ujung jarinya.
"Kamu kedinginan ya, Kak? Kenapa gak bilang dari tadi?". Tanya Calvin dengan nada khawatir.
Tara hanya menggeleng menanggapi. "Gak apa-apa, cuma dingin sedikit, masuk ke villa juga nanti hangat. Gue masuk ya? Makasih udah diantar pulang".
Tentu saja, Calvin tidak akan melepas Tara semudah itu. Setiap detik dengan sang gadis, adalah momen berharga untuknya. Jika bisa, Calvin akan memohon pada dunia untuk menghentikan waktu, membiarkan malam ini berjalan selama-lamanya, agar mereka bisa tetap bersama.
"Kak, tunggu". Ucap Calvin, menahan kepergian Tara. Wajahnya menimbang, seakan memikirkan antara iya dan tidak. "Surat tadi itu, isinya perasaan Gio, kan? Dia selama ini suka sama kamu?".
Tara memang terkejut, namun ekspresinya dijaga sebaik mungkin. Tebakan Calvin benar-benar akurat. "Iya".
"Gimana perasaan kamu setelah tahu itu? Apa kamu nyesel selama ini gak pernah tahu soal itu dan baru tahu setelah dia gak ada?". Tanya Calvin lagi penuh selidik.
Tara mematung, gadis itu sejujurnya tidak tahu. Sesal memang hadir, tapi perasaannya bukan perkara mudah untuk dibolak-balik sesuka hati. "Gue ngerasa bersalah, tapi gak ada yang bisa gue lakuin. Gak akan merubah apapun, walaupun misalnya gue tahu sejak dulu".
Calvin menelan salivanya, jelas sedang mencerna maksud dari sang gadis. Lelaki itu kemudian berjalan selangkah mendekat. "Kalau seandainya itu terjadi sama aku, Kak? Apa bakal sama? Apa gak akan merubah pikiran dan perasaanmu soal aku?".
Mata mereka akhirnya saling terhubung, koneksi itu terjalin begitu saja. "Are you referring the topic of killing yourself, Calv?".
"Might be. Aku cuma penasaran, kalau aku yang mati.. Kamu akan kehilangan juga, gak?". Tanya Calvin balik.
Tara menggelengkan kepalanya. "You are stupid if you're thinking about killing yourself. Justru sebaliknya, gue gak akan peduli, cause that's the most stupid decision you might ever think".
Sudut bibir Calvin tertarik, ia tersenyum. Sebelah tangannya meraih ujung rambut Tara dan memainkannya di jemari. Sungguh, siapapun yang menatap Calvin akan mengerti bahwa sang tatapan sang lelaki memang penuh cinta. "Itu berarti kamu takut aku mati ya, Kak? Takut kehilangan aku?".
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
RomanceGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
