Chapter 36 - The Rivalry Begin

2.1K 158 2
                                        

HIIIII

Inilah dia, inti ceritanya dimulai. Kalo kemarin lucu2 gemes2 ama Tara Calvin, mulai chap ini mereka bakal mulai toxic brutal, kuingatkan lg memang ini ceritanya penuh dgn ketoxican and even crimes. Kalo mau yang gemes2 aja tanpa guncangan bisa baca cerita mas pilot sebelah ya dijamin itu gemes aja sampe end HAHAHA😂😂

⚠️🔞 Mention of killing someone

———

Jika ada satu kata yang paling tepat yang dapat untuk mendeskripsikan perasaan Calvin saat ini ialah kalut. Tepat setelah adrenalin itu mereda, gelisah dan rasa khawatir langsung menjala di seluruh isi hatinya.

Sialan.

Bukan ini maksudnya. Tapi, iblis di pikirannya tadi tidak dapat diajak berkompromi. Entah pengaruh zat adiktif yang mana yang berhasil memantik satu sisi didalam diri Calvin, yang jelas tadi, dikepalanya hanya terus tercetus keinginan memberi Tara pelajaran karena terang-terangan membuatnya cemburu buta.

Tapi, saat melihat sang gadis dibawa mengenakan tandu, dengan wajah dipenuhi luka, dan raut pucat pasi yang mengkhawatirkan, sisi iblis di diri Calvin luntur seketika. Jantungnya terasa ikut luruh ke lantai, merosot tak tertahan. Lelaki itu membuang asap rokoknya dengan gusar, bersandar pada satu sisi kap mobil miliknya sembari menatap ketanah. Saking hilang pikirannya, Tian, yang sejak tadi mengajaknya berbicara sampai harus menepuk pundak Calvin guna menyadarkannya.

"Bro, lo kenapa? Minum dulu nih". Ucap Tian, membawakan sebotol air mineral untuk Calvin.

Calvin hanya menggeleng. "Tara gimana?".

Tian memperhatikan raut itu. "Pergelangan kakinya retak. Dirujuk ke rumah sakit juga, tapi dianya belom mau. Tadi udah dibawa sama cowoknya sih. Mudah-mudahan gak parah".

Percikan api di dalam diri Calvin seakan kembali menyala seketika, bahkan tanpa sadar lelaki itu mendorong tubuh Tian dengan kasar. "Dia bukan cowoknya Tara, tolol!".

Tian sampai terheran karena perlakuan Calvin. "Wow, chill, dude. Kenapa sih lo? Emosian amat hari ini".

Calvin menelan salivanya. Tidak sedikitpun berkata dan memutuskan untuk mematikan rokoknya untuk berbalik dan masuk kedalam mobil. Tanpa pikir panjang, lelaki itu mulai menginjak pedal gasnya dan melesatkan mobil hitam itu tanpa jeda.

Bisa dibilang, Calvin tengah kalut.

———

Tara membiarkan Ken mengupaskan sebuah apel untuknya. Mereka kini tengah berada di kamar apartment Ken, dengan Tara diatas kasur, dan Ken duduk di kursi tepat disebelah Tara. Sang lelaki tengah mengupasi buah dengan telaten, menyayatkan pisaunya di kulit apel yang Tara benci sejak dulu. Setelah dipastikan buah tersebut bersih, Ken memotong-motongnya menjadi kecil dan mulai menaruhnya di piring yang sudah Ken siapkan untuk Tara.

Sejak tadi, gadis itu tidak banyak bicara. Ia hanya terus menatap kosong seakan pikirannya tengah bernirwana. Ken berakhir memberikan piring berisikan buah apel pada Tara dan mencoba merebut perhatian sang gadis. "Tar? Gue udah kupasin apel, makan dulu. Tadi lo makan dikit banget. Biar bisa minum obat lagi".

"Cowok bangsat". Sembur Tara tiba-tiba, membuat Ken terkejut sampai melotot. Namun sedetik kemudian, Ken tahu, sebutan itu bukan untuknya. Sebab Tara melanjutkan bicaranya. "Dia sengaja nabrak gue biar gue gak bisa latihan buat racing pertama gue? Brengsek".

Gigi Tara sampai terdengar bergemeletuk, saling beradu karena menahan geram. Ken menyaksikan bagaimana nafas Tara terdengar berat, dada sang gadis juga turun naik dengan cepat karena mengais oksigen secara sering. "Kok ada ya manusia iblis kayak dia? He fuckin crash me. It wasn't an accident. Kalo tadi gue mati gimana?".

Ken menelan salivanya. Belum pernah di seumur hidupnya, menyaksikan Tara begitu marah sampai seperti sekarang. Dan ia khawatir. Takut kalau amarah Tara justru akan membuatnya melakukan hal-hal yang membahayakan. "Tara...".

"Apa emang tujuannya emang membunuh gue ya? Dia maunya gue mati ya tadi? Bangsat". Makian Tara tidak terhenti, bahkan makin meluas.

Menyaksikan hal tersebut, Ken menaruh peralatan memotongnya berikut piring buah di tangannya ke nakas, kemudian berupaya menyadarkan Tara dari keadaan yang masih didominasi oleh emosi. Ken meraih kedua tangan mungil Tara yang bergetar dan menggenggamnya erat. "Girisha Triastara Briel, dengerin gue ya? Sebentar aja".

Akhirnya, netra Tara berhasil berpindah pada Ken. Sang lelaki menarik nafas panjang dan melanjutkan. "Lo gak usah mikirin yang gak penting. Pikirin diri lo sendiri dulu. Lo masih syok, lo butuh recovery, Tara".

Tara berbicara dengan lirih. "Tapi dia mau bunuh gue, Ken".

Genggaman di tangan mungil itu makin menguat. Ken memang handal dalam urusan menekan amarah, tapi tubuhnya memang kadang berbicara lebih baik. "Urusan bocah sialan itu, biar gue yang urus. Lo gak usah ngotorin tangan lo. Lo mau dia babak belur? Atau koma sekalian? I'll do it for you".

Tara menggeleng hebat. "Gak. Kalo pun ada orang yang bisa hancurin dia, gue orangnya Ken. Bukan lo. Bukan siapapun juga. Gue yang bakal lakuin itu pake tangan gue sendiri".

Perdebatan kecil itu dimulai, sebab Ken mulai berargumen. "Gak akan gue biarin, Tara. Lo udah gila kalo mikir bisa lakuin itu sendiri selama ada gue. You wil hurt yourself again and I won't let it happen".

"Gue akan baik-baik aja". Sahut Tara balik.

Ken berakhir meraih pergelangan kaki Tara yang masih dibebat perban dan menekannya sedikit, membuat sang gadis otomatis memekik kencang karena nyeri yang tiba-tiba mendera. Ken menatapnya dengan tatapan serius, mencoba mengomunikasikan pemikirannya yang tadinya bersebrangan dengan Tara.

"Sakit, Kenneth!". Pekik Tara kencang.

Ken mempertahankan ekspresinya. "Sakit kan? Yang begini yang lo bilang akan baik-baik aja?".

"Gue bukan anak kecil". Balas Tara lagi.

Ken tidak mau mengalah. "Gue harus bilang gimana ya sama lo biar jelas? Pokoknya kalo lo gak dengerin, lo disini terus. Gak akan gue biarin lo keluar dari pintu apartment gue".

Lelaki tersebut berakhir meraih kembali piring berisi apel dari nakas dan menaruhnya di pangkuan Tara dan beranjak bangkit. "Makan itu. Gue mau mandi dulu biar emosi gue turun. Nanti gue kesini lagi, bawa painkiller buat lo".

Tara menyaksikan bagaimana Ken mengacak rambutnya sendiri sebelum keluar dari kamar dan menutup pintunya. Gadis itu memperhatikan potongan buah di pangkuannya, namun sesuatu jauh lebih menarik perhatiannya.

Nampaknya Ken lupa mengambil kembali pisau yang sempat ia gunakan untuk mengupas apel tadi, dan membiarkannya di nakas tepat disebelah Tara. Tatapan gadis itu beralih pada benda berwarna hitam yang kemudian ia genggam erat di gagangnya. Detik selanjutnya, Tara menusukkan dan menikam dengan acak potongan buah apel di piringnya dengan penuh emosi, membuat potongan itu jadi berantakan dan bahkan sebagian tercecer ke lantai.

Namun, senyum terpatri di wajahnya.

Bila bisa di ibaratkan, mungkin itulah hal yang paling ingin ia lakukan pada Calvin sekarang; mencincangnya dengan senjata tajam hingga tak berbentuk.

———

A MILE AWAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang