⚠️ Mention of drug use.
———
Calvin baru saja melangkah turun dari kamarnya dengan sebatang rokok menggangtung terhimpit di bibir, lelaki itu tengah menjalankan misi niat bulusnya dalam memiliki gadis yang sudah ia obsesikan. Namun suara dehaman sang Papa menghentikan langkahnya keluar. Lelaki itu menatap kearah dua manusia yang tengah menelitinya dari ujung kaki ke kepala.
Calvin otomatis melepas rokoknya yang bahkan belum menyala dari bibirnya, memperhatikan bagaimana sang Papa memanggilnya dengan lembut. "Vin, duduk sebentar disini".
Claire yang berdiri di ujung ruangan, ikut memperhatikan gerak-gerik Calvin yang kikuk. Lelaki itu menunjuk kearah luar. "Calvin mau pergi dulu, ada janji".
"Sebentar aja, Nak. Ngobrol". Tegas sang Papa lagi.
Mau tak mau, si bungsu menuruti. Calvin memilih duduk tenang disana, diseberang sofa sang Papa, menaruh kembali rokoknya kedalam kotak, dan memasukkannya ke kantong jaket. Sang Papa membenahi posisi duduknya agar lebih condong dan fokus pada anak lelakinya. "Calvin, Papa mau ngomong, kamu jawab pertanyaan Papa ya".
Kening Calvin berkerut mendengarnya, curiga akan penuturan sang Papa yang terdengar persuatif. Lelaki paruh baya itu melanjutkan. "Calvin betah tinggal dirumah?".
Calvin tidak kunjung menjawab, malah melempar satu pertanyaan lain pada sang Papa. "Kenapa nanya gitu, Pa? Calvin udah bisa balik ke apartment?".
Papa Calvin menghela nafasnya dan menggeleng. "Belum. Papa justru pengen kamu tinggal disini aja, sama kakakmu, Claire".
Dua pasang netra itu saling bertatapan, Calvin dan Claire sontak saling bertukar tatapan penuh tanda tanya. "Gak, Pa. Calvin gak mau. Maksimal akhir bulan ini, Calvin balik ke apartment".
Lelaki yang usianya bahkan belum genap dewasa itu kemudian memilih bangkit dan berjalan santai kearah pintu utama rumah megah milik sang Papa. Namun langkahnya langsung terhenti saat sang Papa menyebutkan hal yang membuat tubuhnya membeku.
"Kamu harus berhenti konsumsi obat-obatan itu, Nak". Ucap sang Papa lantang, membuat Claire sampai memejamkan matanya dan menunduk, tak sanggup bila harus menyaksikan bagaimana reaksi sang adik yang sudah tertangkap basah dengan perilaku ilegalnya.
Calvin sampai membalikkan tubuhnya, mengeraskan rahang dan menyaksikan bagaimana sang Papa memegangi dadanya sendiri. "You should go to rehab and stop this. Jangan sampai apa yang terjadi ke Claire terjadi juga ke kamu, Vin".
Dua orang itu menanti kata-kata dari Calvin yang memilih tersenyum miring. "Urusin aja anak perempuan kebanggaan dan kesayangan lo, gak udah urusin gue. And for you information, I will never step on this place again".
Dengan itu, Calvin melenggang keluar dan memacu kendaraannya pergi dari komplek perumahan mewah milik sang Papa. Perasaannya kalut bukan main, terutama ketika melihat dua pasang mata yang menusuk intens tadi. Lelaki itu menginjak gas dalam dan memacu kendaraannya dengan kecepatan melebihi yang diperbolehkan, tak begitu memedulikan sekitar yang sampai berulang kali mengklakson kencang.
Persetan dengan keluarga. Calvin sudah tidak memiliki keluarga sejak kecil. Ia hanya punya Mamanya.
Lelaki itu kemudian berhenti di salah satu sudut gelap yang tak terlihat dan memarkirkan mobilnya disana. Calvin meraih satu bungkusan kecil dari sana dan mengeluarkan dua butir isinya.
Jangan tanya apa yang ia lakukan selanjutnya, yang jelas, bukan sesuatu yang patut dilakukan seorang manusia di negara yang masih berlandaskan hukum. Setelah menghirup benda tersebut seakan menghirup oksigen, lelaki itu bernafas lega, ia menyandarkan kepalanya di headrest mobil, merasakan bagaimana pikirannya mulai berputar dan perasannya berubah.
Dengan sisa kesadaran yang minim dan berpendar, Calvin mengetik di ponselnya, mencari nama sang gadis yang sebentar lagi akan memulai permainan menarik dengannya. Senyumnya mengembang membayangkan bagaimana malam ini akan berakhir.
High and trippy, bukankah pas sekali jika Calvin menyalurkannya malam ini?
———
Tara menyaksikan bagaimana mobil hitam itu berputar dan berdecit sebelum berhenti tepat didepan mobil merah miliknya. Lelaki dengan jaket kulit dan celana jeans hitam itu keluar dari sana dan bersiul. Mereka berdiri didepan mobil masing-masing dan saling berhadapan, dengan angin malam yang bertiup mengiringi keduanya.
"Sexy car, just like the owner. Gue tau selera lo pasti berkelas, Acura, huh?". Ucap Calvin sembari memperhatikan dua hal menarik di depan matanya itu.
Tara menatap malas. "Gak usah banyak omong deh, gue gak butuh penilaian lo. Get your stopwatch ready, gue udah gak siap menangin taruhan lo".
Calvin tersenyum hingga sudut matanya tertarik. "Eager, my love? Udah gak siap balik ke kasur gue ya?".
Tara memilih memutar bola matanya dan beralih menuju ke bangku kemudi, gadis itu meraih dan mengenakan helm miliknya dan berteriak sebelum masuk kedalam mobil merah miliknya. "Just shut the fuck up and spit the rules, waktu gue gak banyak. Cepetan deh".
Calvin menatap dengan penuh rasa tertarik, Tara dan 'perlengkapan tempur'-Nya adalah perpaduan mematikan yang membuat obsesi di dalam jiwanya makin meronta. Lelaki itu kemudian bergerak menuju ke kaca jendela sang gadis dan menatapi dari dekat. "No rules, just be here again before my stopwatch stops ticking".
Wajah yang berbalut perlindungan helm itu menatap sejenak, sebelum berdesis. "Get that timer thing ready then, now".
Calvin akhirnya menarik diri dan mengeluarkan benda hitam kecil itu dan membawanya ke genggaman. Tara menatapi kearahnya dan segera menginjak pedal gas setelah melihat Calvin menekan tombol tanda pengukur waktu itu dimulai.
Tara melaju dengan kecepatan tinggi, bermanuver dengan tikungan yang tak begitu terlihat di malam hari dan berhasil menaklukkan masing-masing lekuk disana dengan mulus, perpaduan konsentrasi dan perhitunhan yang presisi membuat perputaran mobilnya nyaris sempurna saat melewati belokan.
Melihat Tara sekarang dengan mobil merahnya, Calvin sekakan tengah bercermin pada dirinya sendiri. Gadis itu seperti setan kecil, bermain dengan cantik di arenanya sendiri. Calvin tidak lagi sibuk memikirkan hasil taruhan mereka, sebab menyaksikan aksi Tara dengan eksklusif seperti ini seakan memanjakan adrenalin dan sisi dirinya yang sedang high bukan main.
Saat menyaksikan mobil merah itu mendekat, Calvin langsung tersenyum penuh kemenangan. Lelaki itu memencet tombol stop di stopwatchnya dan mengadahkan tangannya ke udara, menanti Tara turun dari mobil guna mengecek angka yang tercetak disana.
Sang gadis melepas helmnya, mengacak rambutnya asal dengan percaya diri, membuat Calvin sampai tak berkedip menatapinya. Tara mencoba mengatur nafasnya yang masih terengah dan meminta Calvin menunjukkan hasilnya. "Berapa?".
Lelaki berparas tampan itu mengeluarkan senyumnya dan menunjukkan benda kecil itu kedepan wajah Tara yang langsung memucat. "Gue harus akuin, it was really hot, but sadly.. 3.15 minutes. I won, Kak".
Tara terbengong saat menatapi kekalahannya, ingin sekali menjatuhkan airmata dan menangis sejadi-jadinya, tapi egonya tidak mungkin diinjak begitu saja. Tara menyaksikan bagaimana Calvin mendekatkan wajah mereka dan berbisik dengan suara baritone-Nya.
"Let's get back to my place and fuck, my love. I'm going to celebrate my victory and enjoy the grand prize".
———
KAMU SEDANG MEMBACA
A MILE AWAY
RomantizmGirisha Triastara Briel, Tara, gadis yang bahkan dijuliki si tomboy di kampusnya punya hobi mendatangi aktivitas drifting berkat ajakan sang kakak. Di arena balap itulah, Tara menemukan trigger dan juga ketertarikan. Di arena balap itu juga lah, Cal...
