Hayolo, yang baru baca ngapain langsung ke sini? Balik sana, gih, baca dari awal. Wkwkw, bercanda.
Terima kasih atas dukungan kalian semuanya, selamat menikmati akhir dari cerita ini.
-
"Berawal dari asing, berakhir menjadi berarti."
*****
Sabtu, 22 Maret.
Dor!
Suara tembakan yang keras itu menghentikan semua aktivitas mereka. Sebuah timah panas telah keluar dari sarangnya, dan tertanam pada daging lunak yang ia jadikan sarang baru.
"Maaf, Viola. Sepertinya sel kanker dalam tubuh kamu, menyebar lebih luas dan menggerogoti organ dalam tubuh kamu. Sel kanker itu menjadi lebih agresif."
Di saat-saat seperti ini, kalimat yang dikatakan oleh Rian kembali terdengar olehnya. Padahal dirinya benar-benar tidak merasakan apapun.
Sekarang Viola mengerti, sepertinya dia tidak diberikan rasa sakit karena penyakitnya. Agar bisa merasakan sakitnya peluru yang menembus permukaan kulit pada tubuhnya.
Sejenak sebelum dirinya terjatuh ke aspal keras, cewek itu melirik pada dua orang yang tadinya berdiri sebelahnya. Mulutnya terbuka dengan satu kalimat. "Makasih."
Mata semua orang bergetar melihat hal tersebut, bersamaan dengan angin halus yang menerpa wajah masing-masing diri, membuat mereka sadar bahwa itu bukanlah halusinasi.
"Viii!!" Teriakan Monic yang kencang membuat mereka tertarik kembali pada nyataaan.
Monic berlari dengan kencang tanpa peduli dengan motornya yang ambruk ditengah jalan, cewek itu membuang helmnya tanpa arah.
Rafi tidak dapat bergerak, kakinya seolah menjadi jelly yang menempel di permukaan bumi. Matanya mendadak panas, menitikkan butir bening dari sana.
Semua anak Dixon langsung mengerubungi tubuh yang tengah mengerang kesakitan itu. Darah segar yang keluar dari bagian tubuhnya jadi bertambah, itu mengalir tanpa hambatan sedikitpun.
Raka seperti akan kehabisan pasokan udaranya, cowok itu segera menggeleng guna menyadarkan kembali isi otaknya.
Bukan saatnya membiarkan adik tersayangnya tergeletak di tengah jalan seperti itu. Namun, ia tetap tidak bisa menahan Rega untuk pergi.
Duk!
Pistol itu terjatuh begitu saja ke bawah. Seringaian licik tampil di wajah sang pelaku.
"Dian..!" Rafi mengeram melihat pria itu kembali berulah.
"SIALAANN LO, ANJ*NG!! TUA BANGKA BRENGSEK!! GUE BUNUH JUGA LO ANJ*NG!"
Gevan mengumpat kesetanan, cowok itu berlari dengan membawa dua parang panjang di tangannya.
Tentu saja anak buah digunakan untuk melindungi tuan mereka, dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang pekerja Allaric Group, melindungi Dian.
Gevan tidak peduli kalau manusia-manusia di hadapannya jauh lebih besar, dia layangkan senjatanya guna membuka jalan.
Cowok itu benar-benar hilang kendali saat ini. Di belakangnya, terdapat Rega yang ikut-ikutan menghabisi lawan mereka.
"Satria! Lawan bocah itu, cepat!" perintah Dian pada Satria yang masih membatu dengan tangan bergetar.
Melihat tidak ada respon, Dian berdecak kesal. "Dasar tidak berguna!" Walau berkata demikian, dalam hati ia merasa sangat puas ketika melirik pada kumpulan remaja itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
VIOLA [SELESAI]
Roman pour Adolescents"𝓑𝓮𝓻𝓪𝔀𝓪𝓵 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓪𝓼𝓲𝓷𝓰, 𝓫𝓮𝓻𝓪𝓴𝓱𝓲𝓻 𝓶𝓮𝓷𝓳𝓪𝓭𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓪𝓻𝓽𝓲." Baru kisaran tiga bulan cewek satu ini pindah ke sekolah baru, tapi sudah membuat namanya kesohor ke seantero sekolah karena prestasi yang dibuatnya. Ya, prestasi...
![VIOLA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/284078895-64-k974114.jpg)