PART 14 : HADIAH SEDERHANA 🐬

210 14 0
                                        

Haii man temann (⁠人⁠⁠•͈⁠ᴗ⁠•͈⁠)
❖ SELAMAT MEMBACA ❖

Indri pun sangat gembira seakan mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, ia pun memasang senyum lebar kepada Andra.

Andra pun langsung melangkah pergi dari Indri. Namun, lagi dan lagi Indri mencegahnya. "Tunggu dulu!" Cegah Indri lagi membuat Andra menghentikan langkahnya, Indri pun menghampiri Andra lagi.

"Kenalin, nama gue Indri, gue anak IPA seangkatan sama lo, cuma beda kelas." Indri memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kanannya.

"Kok nama lo sama kayak nama gue sih?" Andra terheran-heran. "Emang nama lo juga Indri?" Tanya balik Indri.

"Kalo gue, I nya diganti A."

"Berarti nama lo, Andra? Kok sama sih?" Indri juga ikut heran.

"Nama lo jiplak dari nama gue ya?" Tanya Andra.

"Siapa juga yang jiplak nama lo, enak aja!"

"Ya terus? Kenapa nama lo sama kayak nama gue?" 

"Ya mana gue tau. Mungkin lo kali yang jiplak nama gue. Atau enggak ini cuma kebetulan aja," ucap Indri tak mau kalah. Dari sinilah perdebatan antara mereka dimulai.

Mereka pun saling bertanya tahun, bulan, serta tanggal kelahiran mereka. Dan ternyata Indri dan Andra lahir pada tahun yang sama dan bulan yang sama hanya saja Andra dengan Indri lahir selisih 1 minggu. Jadi, usia Andra sedikit lebih tua 1 minggu dari Indri.

"Lo sama gue, masih tuaan gue. Berarti lo yang jiplak nama gue," ucap Andra.

"Ih, gue gak jiplak nama lo! Gue punya nama ini dari orangtua gue. Mereka yang kasih gue nama ini." Ujar Indri kesal.

"Ya orangtua gue juga yang kasih gue nama ini."  Sahut Andra.

Mereka pun saling beradu mulut tiada henti. Gio yang melihat mereka sedang berdebat dari kejauhan lantas menghampiri mereka berdua.

"Ada apa sih ini?" Tanya Gio. Andra dan Indri yang menyadari ada seseorang memanggil mereka terkejut lantas langsung menengok secara bersamaan.

"ENGGAK KOK," jawab Andra dan Indri serentak.

°°°°°

Sepulangnya dari kampus. Risti yang kelelahan berniat untuk bersantai sebentar di sofa ruang tamu.

"Santai-santai dulu lah, sekalian nonton Drakor." Ucap Risti sembari merebahkan diri di sofa. Risti pun meraih remot mahal canggih yang tergeletak di atas meja.

Dengan ditemani secangkir minuman coklat hangat yang disajikan oleh Bi Jiah tadi. Ketimbang teh manis hangat Risti memang lebih menyukai minuman coklat hangat.

Risti begitu seriusnya menonton Drakor di televisi itu sehingga membuatnya sesekali ikut terbawa perasaan karena suasana yang ada di drama tersebut begitu menghanyutkan.

"Ini sih Drakor terbaik yang pernah aku tonton," ucapnya sambil menyeruput minuman coklat itu.

Drt, drt ...

Risti yang tengah serius menonton televisi tiba-tiba ponsel yang tergeletak di sampingnya itu berbunyi menandakan ada notifikasi pesan yang masuk di ponselnya. Dengan cepat Risti pun meraih benda pipih itu lalu menyalakannya. Saat ia melihat di layar ponselnya, benar saja ternyata ada pesan yang masuk.

Risti pun membuka pesan itu yang ternyata pesan tersebut pengirimnya adalah Steven.

Steven

𝙍𝙀𝙑𝘼𝙉𝘿𝙍𝘼 (𝓣𝓱𝓪𝓷𝓴𝓼 𝓐𝓻𝓰𝓲𝓸) [𝙴𝙽𝙳𝙸𝙽𝙶]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang